Tabebuya

(Tabebuya Kuning, Golden Trumpet Tree, Ipê Amarelo)

Handroanthus chrysotrichus (Mart. ex DC.) Mattos

Fam. Bignoniaceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Handroanthus chrysotrichus (Mart. ex DC.) Mattos, 1970

Berbasis pada basionim Tecoma chrysotricha Mart. ex DC., dipublikasikan dalam Prodromus Systematis Naturalis (1845) oleh Augustin Pyramus de Candolle berdasarkan naskah Carl F. P. von Martius.

Sinonim luas dipakai: Tabebuia chrysotricha (Mart. ex DC.) Standl.

Catatan Taksonomi:

Genus Handroanthus pertama kali diusulkan oleh ahli botani Brasil João Rodrigues de Mattos pada 1970 untuk memisahkan kelompok “ipê” berbunga kuning berkayu sangat keras dari genus Tabebuia s.l. Usulan ini semula ditolak banyak taksonom Alwyn Gentry (1972) secara terbuka mengkritiknya. Baru pada 2007, studi filogenetik molekuler oleh Grose & Olmstead membuktikan bahwa Tabebuia s.l. bersifat polifiletik, dan secara definitif mengonfirmasi pemisahan yang diusulkan Mattos: genus dipecah menjadi tiga Tabebuia s.s., Handroanthus, dan Roseodendron. Nama umum “tabebuya” tetap dipertahankan dalam papan informasi ini karena masih menjadi istilah yang paling luas dikenal masyarakat Indonesia.

Etimologi: nama genus Handroanthus menggabungkan nama ahli botani Brasil Oswaldo Handro (1908–1986) dengan anthos (Yunani: bunga). Nama spesies chrysotrichus berasal dari chrysos (emas) dan trichos (rambut), merujuk pada kalik berbulu keemasan.

Genus Handroanthus beranggotakan 30 spesies pohon “ipê” yang tersebar di Amerika tropis. Beberapa spesies populer:

Handroanthus chrysotrichus Tabebuya Kuning

Handroanthus impetiginosus Tabebuya Ungu / Pink Ipê

Handroanthus heptaphyllus  Tabebuya Merah Muda

Handroanthus serratifolius Ipê Amarelo (bunga nasional Brasil)

Tabebuia rosea  Tabebuya Rosea (genus terpisah, tetap Tabebuia s.s.)

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Klad : Angiosperms (Tumbuhan Berbunga)

Klad : Eudicots

Klad : Asterids

Ordo : Lamiales (APG IV); sistem Cronquist: Scrophulariales

Famili : Bignoniaceae

Genus : Handroanthus

Spesies : Handroanthus chrysotrichus, (Mart. ex DC.) Mattos

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Handroanthus chrysotrichus (Mart. ex DC.) Mattos, yang dikenal luas sebagai Tabebuya kuning atau pohon terompet emas, adalah pohon hias berbunga dari famili Bignoniaceae asal hutan Atlantik Brasil. Spesies ini menjadi salah satu pohon penghijauan jalan raya dan taman kota paling populer di Indonesia dalam satu dekade terakhir karena bunganya yang bermekaran serentak menyerupai bunga sakura Jepang, meski keduanya tidak berkerabat sama sekali (sakura dari famili Rosaceae, tabebuya dari famili Bignoniaceae). Kehadiran tabebuya di kampus UAD merepresentasikan perpaduan nilai estetika, edukasi botani introduksi (exotic ornamental), dan ketahanan terhadap iklim tropis musiman.

Batang dan Percabangan:

Tabebuya tergolong pohon berukuran sedang, dengan tinggi 5–10 m pada kondisi budidaya di taman dan jalan kota, meski di habitat asli serta pada individu tertua dapat mencapai hingga 20 m. Diameter batang berkisar 30–40 cm. Batang tumbuh tegak dengan tajuk membulat dan cukup rimbun (rounded, spreading crown), kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan, beralur dangkal dan sedikit mengelupas seiring usia. Ranting muda dan tangkai daun diselimuti rambut halus berwarna kecokelatan keemasan menjadikan ciri khas asal-usul nama spesiesnya.

Daun:

Daun tabebuya bersifat majemuk menjari (palmately compound), tersusun dari 5 anak daun (kadang 3–9) yang menyebar seperti jari tangan dari satu titik tangkai. Anak daun berbentuk bulat telur hingga elips, permukaan atas hijau tua zaitun agak mengkilap, permukaan bawah lebih pucat dan berbulu halus keperakan. Tepi daun rata hingga sedikit bergerigi pada individu muda. Tabebuya bersifat semi-gugur (semi-deciduous) dan daun banyak yang rontok menjelang musim kemarau, sehingga bunga tampil mekar lebat pada ranting hingga nyaris tanpa daun, memperkuat kesan menyerupai sakura.

Bunga:

Bunga tabebuya berbentuk terompet (tubular/funnel-shaped), berukuran 7–10 cm panjang, berwarna kuning keemasan cerah dengan corak garis merah kecokelatan di bagian tenggorokan mahkota. Tersusun dalam perbungaan majemuk terminal yang bercabang menggarpu (dichotomous). Kelopak bunga (kalik) berbentuk lonceng, berambut lebat keemasan asal nama chrysotrichus (Yunani: chrysos = emas, trichos = rambut). Tabebuya berbunga secara massal dan serentak (mass flowering) pada akhir musim kemarau, menghasilkan nektar melimpah yang menarik lebah, kupu-kupu, dan burung penghisap madu.

Buah:

Buah tabebuya berupa kapsul lonjong yang pecah saat masak (elongate dehiscent capsule), berbentuk silindris, berbulu halus, berwarna cokelat pucat, berukuran 15–30 cm panjang dan sekitar 1,5 cm diameter. Setiap kapsul memuat banyak biji pipih bersayap tipis, berukuran sekitar 2,8 cm x 0,7 cm, yang tersebar oleh angin (anemochory) begitu kapsul terbuka mekanisme penyebaran khas famili Bignoniaceae.

Akar:

Sistem perakaran tabebuya tergolong dangkal hingga sedang dan tidak agresif menjadikannya salah satu alasan spesies ini disukai sebagai pohon pinggir jalan dan pekarangan karena akarnya jarang merusak perkerasan trotoar atau pondasi bangunan di sekitarnya, berbeda dengan banyak pohon peneduh berakar kuat lainnya.

Informasi Etnobotani :

Kayu genus Handroanthus (dikenal sebagai kayu ipê di Brasil) termasuk salah satu kayu terkeras dan terpadat di dunia, dijuluki “mahoni baru” (new mahogany) di pasar kayu internasional untuk decking dan konstruksi luar ruang bermutu tinggi. Kulit kayu dan batangnya secara tradisional digunakan dalam pengobatan rakyat Amerika Selatan (dikenal sebagai pau d’arco), karena kandungan senyawa naftokuinon lapachol yang telah diteliti secara luas untuk aktivitas antitumor, antimikroba, dan antiparasit.

Sejarah

Handroanthus chrysotrichus berasal dari hutan musim Atlantik (Mata Atlântica) dan kawasan Cerrado di Brasil bagian selatan dan tenggara, khususnya di negara bagian São Paulo, Paraná, dan Rio de Janeiro. Spesies ini tumbuh alami di hutan musim semi-gugur dataran rendah hingga menengah, beradaptasi dengan pergantian musim kemarau dan hujan yang tegas.

Perjalanan Tabebuya ke Indonesia:

Sejak diperkenalkan sebagai tanaman hias introduksi pada dekade 2010-an, Handroanthus chrysanthus (tabebuya) telah ditanam secara masif sebagai pohon peneduh di berbagai kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Batam, dan Jakarta hingga fenomena mekarnya yang menyerupai sakura viral di media sosial dan mendapat julukan ‘Sakura Tropis’.

Revolusi Taksonomi Tabebuia s.l.:

Sebelum 2007, hampir seluruh pohon “ipê” berbunga terompet di Amerika tropis lebih dari 100 spesies dan dimasukkan ke dalam satu genus besar Tabebuia Gomes ex DC. yang dibentuk sejak 1838. Penelitian filogenetik molekuler menggunakan penanda DNA kloroplas dan nuklir oleh Grose & Olmstead (2007) mengungkap bahwa genus raksasa ini sebenarnya polifiletik  gabungan dari beberapa garis keturunan yang tidak berkerabat dekat. Revisi taksonomi memisahkan kelompok berbunga kuning berkayu sangat keras dan berkandungan lapachol tinggi (termasuk tabebuya) ke dalam Handroanthus, sementara Tabebuia s.s. dipertahankan untuk spesies berbunga putih hingga merah muda bersisik (lepidote), dan Roseodendron untuk dua spesies berkalik seperti seludang.

Kayu Ipê dan Kandungan Lapachol:

Kayu genus Handroanthus dikenal sebagai salah satu kayu terpadat dan terkeras di dunia, dengan kayu teras (heartwood) berwarna cokelat zaitun hingga hitam yang mengandung senyawa naftokuinon lapachol dalam jumlah besar. Senyawa ini pertama kali diisolasi ilmuwan Italia E. Paterno pada 1882 dari kerabat dekat tabebuya, Tabebuia (Handroanthus) avellanedae. Sejak itu, lapachol dan turunannya (termasuk β-lapachone) menjadi salah satu senyawa tumbuhan tropis paling banyak diteliti untuk potensi antikanker, antimikroba, dan antiparasit dalam farmakologi modern.

Nilai Konservasi di Kampus:

Keberadaan tabebuya di lingkungan Kampus UAD melengkapi koleksi flora asli Indonesia dengan menjalankan peran edukasi akademis mencakup biogeografi tumbuhan, revisi taksonomi berbasis filogenetik molekuler, dan etnofarmakologi tropis, alih-alih sebagai fungsi konservasi spesies asli Nusantara.

Manfaat

Tabebuya memiliki nilai manfaat yang beragam — dari estetika lanskap perkotaan, kayu komersial bermutu sangat tinggi di negara asalnya, hingga potensi farmakologis senyawa bioaktifnya.

Manfaat Utama:

Pohon Estetika dan Penghijauan Kota: Tabebuya adalah salah satu pohon peneduh jalan paling populer di Indonesia saat ini karena bunganya yang bermekaran lebat dan serentak, memberikan daya tarik visual dan wisata musiman (“musim sakura tropis”) yang meningkatkan citra ruang hijau kota. Perawatannya relatif rendah, tahan kekeringan musim kemarau, dan akarnya tidak agresif merusak infrastruktur jalan.

Kayu Komersial “Ipê”: Di negara asalnya (Brasil) dan pasar kayu internasional, kayu genus Handroanthus dikenal sebagai kayu ipê — salah satu kayu terkeras, terpadat, dan paling tahan lama di dunia, dijuluki “the new mahogany“. Digunakan luas untuk decking luar ruang, jembatan pejalan kaki, lantai kayu premium, dan konstruksi tahan cuaca karena densitasnya yang sangat tinggi dan resistan terhadap serangga serta pembusukan.

Sumber Senyawa Farmakologis (Lapachol): Kulit kayu dan batang genus Handroanthus telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Amerika Selatan sebagai “pau d’arco“. Kandungan naftokuinon lapachol dan turunannya seperti β-lapachone telah diteliti secara ekstensif dalam studi in vitro dan pra-klinis untuk aktivitas sitotoksik terhadap berbagai lini sel kanker (payudara, paru, kolon, hati), serta aktivitas antileishmania dan antimikroba — menjadikan genus ini objek penelitian etnofarmakologi tropis yang aktif hingga kini.

Sumber Pakan Polinator: Bunga tabebuya menghasilkan nektar melimpah yang menjadi sumber pakan penting bagi lebah madu, kupu-kupu, dan burung penghisap madu (hummingbird di habitat asli), menjadikannya tanaman ramah polinator di lanskap perkotaan.

Manfaat Lainnya:

Peneduh dan penyerap polusi: Tajuknya yang rimbun membantu menurunkan suhu mikro di sekitarnya dan menyerap polutan udara perkotaan.

Nilai edukasi biogeografi: Sebagai spesies introduksi dari Brasil, tabebuya menjadi contoh nyata untuk pembelajaran biogeografi tumbuhan, adaptasi spesies eksotik di iklim tropis Nusantara, serta studi kasus revisi taksonomi modern berbasis filogenetik molekuler.

Informasi Lain

Status Konservasi: Belum Dievaluasi (Not Evaluated) pada IUCN Red List Handroanthus chrysotrichus belum memiliki asesmen resmi karena berstatus umum dibudidayakan luas dan bukan prioritas konservasi in-situ. Beberapa kerabat dekatnya berstatus lebih rawan, misalnya Handroanthus impetiginosus dan Handroanthus lapacho yang tercatat Near Threatened akibat eksploitasi kayu ipê komersial di Amerika Selatan.

Nama Daerah/Dagang: Tabebuya / Tabebuya Kuning (Indonesia umum), Golden Trumpet Tree / Yellow Trumpet Tree (Inggris), Ipê Amarelo / Ipê-do-morro (Portugis Brasil), Árbol Amarillo / Guayacán (Spanyol).

Bukan Kerabat Sakura: Meski kerap dijuluki “sakura tropis” karena pola mekar serentaknya, tabebuya (famili Bignoniaceae, ordo Lamiales) tidak berkerabat sama sekali dengan sakura asli Jepang (Prunus spp., famili Rosaceae, ordo Rosales). Kemiripan visual keduanya merupakan contoh konvergensi estetika, bukan kekerabatan evolusioner topik menarik untuk pembelajaran sistematika tumbuhan.

Revolusi Taksonomi sebagai Studi Kasus: Sejarah pemisahan Tabebuia s.l. menjadi tiga genus (Tabebuia, Handroanthus, Roseodendron) adalah contoh ilustratif bagaimana filogenetik molekuler modern dapat mengoreksi klasifikasi morfologis klasik yang telah berlaku puluhan tahun relevan untuk pembelajaran taksonomi dan sistematika tumbuhan kontemporer.

Nilai Edukasi di Kampus UAD: Pohon tabebuya di kampus UAD menghadirkan dimensi edukasi lintas disiplin: Botani (morfologi Bignoniaceae, daun majemuk menjari, buah kapsul bersayap), Taksonomi dan Sistematika (revisi filogenetik molekuler Tabebuia s.l.), Biogeografi (spesies introduksi neotropis di iklim tropis Asia), Farmakognosi (senyawa lapachol dan potensi antikanker), serta Arsitektur Lanskap dan Perencanaan Kota (pohon peneduh estetis untuk ruang terbuka hijau). Tabebuya adalah representasi nyata bagaimana spesies introduksi dapat memperkaya nilai edukasi dan estetika kampus tanpa menggantikan peran konservasi flora asli Nusantara.

Referensi Akademik:

  1. Mattos, J.R. (1970). Handroanthus, um novo gênero para os “ipês” do Brasil. Loefgrenia, 50, 1–4.
  2. Grose, S.O., & Olmstead, R.G. (2007). Taxonomic revisions in the polyphyletic genus Tabebuia s.l. (Bignoniaceae). Systematic Botany, 32(3), 660–670. https://doi.org/10.1600/036364407782250652
  3. Grose, S.O., & Olmstead, R.G. (2007). Evolution of a charismatic Neotropical clade: Molecular phylogeny of Tabebuia s.l., Crescentieae, and allied genera (Bignoniaceae). Systematic Botany, 32(3), 650–659.
  4. Olmstead, R.G., Zjhra, M.L., Lohmann, L.G., Grose, S.O., & Eckert, A.J. (2009). A molecular phylogeny and classification of Bignoniaceae. American Journal of Botany, 96(9), 1731–1743. https://doi.org/10.3732/ajb.0900004
  5. Candolle, A.P. de (1845). Prodromus Systematis Naturalis Regni Vegetabilis, Vol. 9 (Tecoma chrysotricha Mart. ex DC., protolog basionim). Treuttel & Würtz, Paris.
  6. Freitas, A.V.L., et al. (2022). Anticancer potential and toxicity of the genus Handroanthus Mattos (Bignoniaceae): A systematic review. Food and Chemical Toxicology. https://doi.org/10.1016/j.fct.2022.113105
  7. Hussain, H., Krohn, K., Ahmad, V.U., Miana, G.A., & Green, I.R. (2013). Lapachol: an overview. ARKIVOC, dan kajian lanjut dalam Phytochemistry Reviews (2013). https://doi.org/10.1007/s11101-013-9289-1
  8. UF/IFAS Extension. Handroanthus chrysotrichus (Golden Trumpet Tree) — Fact Sheet. University of Florida, Institute of Food and Agricultural Sciences, Gainesville.
  9. IUCN SSC Global Tree Specialist Group. Handroanthus impetiginosus & Handroanthus lapacho Assessment. The IUCN Red List of Threatened Species (kerabat dekat H. chrysotrichus, status Near Threatened).
  10. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan / Dinas Pertamanan Kota (berbagai daerah). Dokumentasi penanaman Tabebuya sebagai pohon penghijauan jalan kota di Indonesia, 2015–2025.

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960