Sala

(Pohon Meriam, Cannonball Tree)

Couroupita guianensis Aubl.

Fam. Lecythidaceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Couroupita guianensis Aubl., 1775

Diterbitkan dalam Histoire des Plantes de la Guiane Française, Volume 2, halaman 708, tabel 282, oleh botanis Prancis Jean Baptiste Christophore Fusée Aublet berdasarkan spesimen dari Guyana Prancis.

Catatan Taksonomi Kerancuan Identitas “Sala”:

Ini adalah salah satu kasus kerancuan identifikasi botani lintas benua paling luas di dunia. Pohon sala yang disebutkan dalam kitab suci Buddha (tempat Ratu Maya melahirkan Pangeran Siddharta di Taman Lumbini, dan tempat Sang Buddha wafat di Kusinara) sesungguhnya merujuk pada spesies Shorea robusta Gaertn. f. pohon asli anak benua India dan Nepal dari famili Dipterocarpaceae, berkerabat dengan meranti. Namun Couroupita guianensis, yang diintroduksi dari Amerika Tropis ke Asia sejak abad ke-17–19, secara keliru diidentikkan sebagai pohon sala tersebut karena bunganya yang mencolok dan dianggap “layak” mewakili status kesuciannya. Kekeliruan ini menyebar luas di Sri Lanka, Thailand, dan negara-negara Buddha Theravada lainnya termasuk Indonesia, bahkan tercatat dalam sejumlah buku pelajaran dan upacara resmi keagamaan.

Di Indonesia, kekeliruan ini dikonfirmasi secara terbuka pada 2021 ketika seorang biksu senior menunjuk pohon Couroupita guianensis di Candi Mendut sebagai “pohon sala” dalam sebuah liputan media yang kemudian ditelusuri dan diklarifikasi bahwa pohon yang dimaksud secara botani adalah kanon (kadang disebut juga “kanon dari Guyana”), bukan Shorea robusta yang sesungguhnya. Kedua spesies bahkan berasal dari famili yang sama sekali berbeda: Lecythidaceae (sala/kanon, ordo Ericales) versus Dipterocarpaceae (sal sejati, ordo Malvales) kesalahan taksonomi yang tersebar hingga tingkat famili, bukan sekadar spesies.

Nama genus Couroupita berasal dari nama lokal Guyana Prancis untuk pohon ini. Nama spesies guianensis merujuk pada wilayah Guyana, tempat spesimen tipe pertama kali dikoleksi.

Genus Couroupita beranggotakan sekitar 4–5 spesies yang seluruhnya berasal dari Amerika tropis, dengan C. guianensis sebagai satu-satunya spesies yang dibudidayakan secara luas di seluruh dunia tropis sebagai tanaman hias dan pohon peneduh.

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Klad : Angiosperms (Tumbuhan Berbunga)

Klad : Eudicots

Klad : Asterids

Ordo : Ericales

Famili : Lecythidaceae (famili buah kenari Brasil)

Genus : Couroupita

Spesies : Couroupita guianensis, Aubl.

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Couroupita guianensis Aubl., yang di Indonesia hampir selalu disebut pohon sala dan secara internasional dikenal sebagai cannonball tree atau pohon meriam/kanon, adalah pohon besar berbunga sangat khas dari famili Lecythidaceae asal Amerika Selatan tropis, terutama cekungan Amazon. Pohon ini terkenal karena bunganya yang unik menyerupai kepala ular kobra dan buahnya yang bulat besar seperti bola meriam, tumbuh langsung menempel di batang (cauliflory). Nama “sala” yang melekat pada pohon ini di Indonesia menyimpan kisah kerancuan identifikasi botani lintas benua yang menarik untuk dipelajari dijelaskan lebih rinci pada bagian Catatan Taksonomi di bawah.

Batang dan Percabangan:

Sala dapat tumbuh dengan tinggi 8–35 m tergantung kondisi habitat, dengan tajuk oval hingga memanjang yang cukup rapat. Ciri paling mencolok dan diagnostik dari sala adalah struktur cabang khusus yang tumbuh dari batang utama tanpa daun (cauline inflorescence) sering kali membentuk untaian panjang yang berkelok-kelok seperti tali atau ular yang menjalar di sepanjang batang, tempat bunga dan buah muncul silih berganti selama bertahun-tahun sehingga meninggalkan bekas tonjolan bekas buah lama yang khas pada kulit batangnya.

Daun:

Daun sala tersusun berkelompok rapat di ujung ranting (clustered at branch tips), berbentuk lonjong terbalik (obovate) hingga elips, berukuran 8–30 cm panjang, tepi daun rata hingga sedikit bergerigi, dengan permukaan bawah berambut halus di sekitar tulang daun. Pohon bersifat semi-gugur, merontokkan sebagian besar daunnya secara periodik.

Bunga:

Bunga sala adalah salah satu struktur bunga paling unik dan rumit di dunia tumbuhan: berbentuk zigomorfik (asimetris) berdiameter 5–6 cm, memiliki 6 kelopak berwarna merah muda hingga merah dengan bagian luar kekuningan, sangat harum terutama pada malam hari. Ciri paling khas adalah susunan benang sarinya (androecium) yang terbagi dua: sebagian membentuk cincin benang sari fertil di tengah bunga, sementara sebagian lain memanjang membentuk struktur menyerupai tudung/kerudung (androphore hood) yang melengkung di atasnya struktur inilah yang oleh masyarakat Hindu diyakini menyerupai tudung ular kobra (Naga) yang melindungi lingga Dewa Siwa, sehingga di India pohon ini dijuluki Nagalingam atau Shiv Kamal.

Buah:

Buah sala berbentuk bulat sempurna, berukuran besar dengan diameter 12–25 cm, berkulit sangat keras berkayu berwarna cokelat kemerahan menyerupai bola meriam asal-usul nama internasionalnya. Setiap buah dapat memuat 200–300 biji yang terbenam dalam daging buah berwarna biru kehijauan setelah teroksidasi udara, mengeluarkan aroma menyengat yang khas saat buah terbuka atau jatuh dan pecah di tanah. Buah membutuhkan waktu hingga satu tahun untuk matang sepenuhnya, sangat kontras dengan bunganya yang hanya mekar dalam hitungan jam.

Akar:

Sistem perakaran sala cukup kuat dan dalam, sesuai dengan ukuran pohonnya yang dapat tumbuh besar. Di habitat asli Amazon, sala sering ditemukan di tepi sungai dan dataran rendah yang mengalami banjir musiman, menunjukkan toleransi yang baik terhadap kondisi tanah yang lembap dan tergenang secara periodik.

Informasi Etnobotani :

Meski berasal dari Amazon dan tidak memiliki hubungan historis langsung dengan agama Buddha maupun Hindu di Asia, sala telah diintroduksi ke Asia tropis sejak abad ke-17–19 dan dengan cepat memperoleh status sakral menggantikan pohon aslinya. Di Indonesia, sala banyak ditanam di kompleks candi dan wihara Buddha termasuk Candi Mendut sebagai representasi pohon suci tempat Sang Buddha lahir dan wafat menurut kisah tradisional, meski secara botani pohon yang dimaksud dalam kitab suci berbeda spesies (lihat Catatan Taksonomi).

Sejarah

Couroupita guianensis berasal dari kawasan tropis Amerika Tengah hingga Amerika Selatan bagian utara, terutama tersebar di sekeliling cekungan Amazon (Kolombia, Venezuela, Guyana, Suriname, Guyana Prancis, Ekuador, Peru, dan Brasil bagian utara), tumbuh alami di hutan hujan dataran rendah semi-gugur dan tepi sungai yang mengalami banjir musiman.

Perjalanan Sala ke Asia dan Situs Suci Buddha:

Sejak diintroduksi Inggris dan bangsa Eropa lain ke Asia Selatan dan Tenggara pada abad ke-17–19 (tercatat penanaman resmi di Sri Lanka pada 1881 oleh Raja George V), sala dengan cepat menarik perhatian umat Hindu dan Buddha berkat kemiripan visual bunganya dengan tudung ular kobra suci. Di India, sala ditanam di kuil-kuil Siwa dan dijuluki Shiv Kamal atau Nagalingam. Di Sri Lanka, Thailand, dan negara Buddha Theravada lain termasuk Indonesia, sala ditanam luas di wihara dan situs-situs suci sebagai representasi pohon tempat Sang Buddha lahir dan wafat meski pohon aslinya dalam kitab suci adalah spesies yang sama sekali berbeda.

Kasus di Candi Mendut, Indonesia:

Liputan media Indonesia pada Juli 2021 mencatat momen ketika seorang biksu senior menunjuk pohon di kompleks Candi Mendut sebagai “pohon sala” dalam konteks perayaan Waisak, yang kemudian ditelusuri wartawan dan dikonfirmasi sebagai Couroupita guianensis, bukan Shorea robusta yang disebutkan dalam kitab suci asli. Kasus ini menjadi salah satu dokumentasi terbuka pertama di Indonesia mengenai kerancuan identifikasi ini, sekaligus pengingat pentingnya verifikasi taksonomi yang cermat dalam konteks pelestarian pengetahuan keagamaan dan botani secara bersamaan.

Nilai Farmakologi Tradisional Amerika Selatan:

Terlepas dari sejarah keagamaannya di Asia, di wilayah asalnya sala telah lama digunakan oleh masyarakat adat Amazon sebagai obat tradisional — infus daun, bunga, dan kulit kayu untuk mengatasi hipertensi, tumor, nyeri, dan peradangan; sementara sari buahnya secara tradisional dipakai sebagai antiseptik luka dan obat sakit perut, sebuah warisan etnobotani yang independen dari narasi keagamaan Asia yang melekat padanya kemudian.

Nilai Edukasi Taksonomi di Kampus:

Penanaman spesies Couroupita guianensis (pohon sala) di lingkungan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memiliki nilai edukatif taksonomi yang strategis. Sebagai tumbuhan introduksi asal kawasan Amazon yang kerap mengalami misidentifikasi secara luas, keberadaannya berfungsi ganda: sebagai sarana pengenalan flora eksotis sekaligus media pembelajaran empiris mengenai pentingnya verifikasi identifikasi botani secara presisi. Fenomena ini menjadi studi kasus empiris tentang bagaimana kekeliruan taksonomi dapat tereskalasi dan bertahan lama dalam cakupan lintas budaya maupun agama.

Manfaat

Sala memiliki nilai manfaat yang menarik untuk dipelajari dari fungsi ornamental dan spiritual di Asia, potensi farmakologi yang aktif diteliti, hingga nilai edukasi taksonomi yang unik terkait sejarah identifikasinya.

Manfaat Utama:

Pohon Hias dan Situs Ziarah Spiritual: Bunga sala yang unik dan harum menjadikannya salah satu pohon hias paling dicari di kebun raya dan situs keagamaan tropis di seluruh dunia. Meski identitasnya sebagai “sala sejati” secara botani keliru, nilai spiritual yang telah melekat selama berabad-abad tetap dihormati jutaan umat Hindu dan Buddha di Asia.

Sumber Senyawa Antimikroba: Ekstrak daun, bunga, buah, kulit kayu, dan bahkan kayu teras sala menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap berbagai bakteri gram positif dan gram negatif dalam berbagai penelitian ilmiah, menjadikannya kandidat menarik untuk riset senyawa antibiotik alami.

Potensi Antikanker (Isatin): Salah satu senyawa bioaktif yang diisolasi dari sala, isatin, telah menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap sejumlah lini sel kanker dalam studi laboratorium, menjadikan sala sebagai salah satu tumbuhan potensial sumber senyawa kemoterapi baru yang masih terus diteliti.

Pengobatan Tradisional Amazon: Di wilayah asalnya, masyarakat adat memanfaatkan berbagai bagian tanaman untuk mengatasi hipertensi, nyeri, peradangan, luka kulit, sakit perut, hingga malaria  warisan etnofarmakologi Amerika Selatan yang independen dari narasi keagamaannya di Asia.

Manfaat Lainnya:

Pohon peneduh dan daya tarik wisata: Bentuknya yang eksotis dan buahnya yang unik menjadikan sala daya tarik tersendiri di taman kota, kebun raya, dan kompleks candi/wihara sebagai objek edukasi dan wisata religi sekaligus.

Nilai edukasi lintas disiplin: Kasus kerancuan identifikasi sala menjadikannya bahan ajar yang kaya untuk memahami interaksi antara taksonomi botani, sejarah kolonial pertukaran tumbuhan antarbenua, dan konstruksi makna keagamaan.

Informasi lain

Status Konservasi: Least Concern (Risiko Rendah) IUCN Red List. Sala memiliki populasi budidaya yang sangat luas di seluruh dunia tropis sebagai tanaman hias, meski populasi liar aslinya di kawasan Amazon dilaporkan mengalami tekanan akibat deforestasi dan konversi lahan di beberapa wilayah.

Perbandingan dengan Sal Sejati (Shorea robusta): Sala (Couroupita guianensis) dan sal sejati (Shorea robusta) sama sekali tidak berkerabat berbeda famili (Lecythidaceae vs Dipterocarpaceae), berbeda ordo (Ericales vs Malvales), dan berbeda benua asal (Amerika Selatan vs Asia Selatan). Sal sejati adalah pohon penghasil kayu komersial penting dengan daun tunggal biasa dan bunga kecil tidak mencolok yang tersusun malai, sangat berbeda dari sosok sala yang flamboyan dengan bunga besar menyerupai kobra dan buah bundar raksasa.

Nama Daerah/Julukan Lain: Sala/Pohon Sala (Indonesia umum), Pohon Meriam/Kanon (Indonesia), Cannonball Tree (Inggris), Nagalingam/Shiv Kamal (India), Ayahuma (Amazon Peru), Bala de Cañón (Amerika Latin).

Asal Nama Kota Sala/Surakarta: Menarik dicatat, nama “Sala” juga melekat pada dua kota besar di Jawa Tengah Kota Sala (Surakarta) dan Salatiga yang menurut sejumlah catatan sejarah lokal konon terkait dengan keberadaan pohon sala/sal di masa lampau, meski identitas botani pastinya (Couroupita guianensis ataukah spesies lain) memerlukan penelusuran sejarah lebih lanjut yang berada di luar cakupan papan informasi ini.

Nilai Edukasi di Kampus UAD: Pohon sala di kampus menghadirkan dimensi edukasi lintas disiplin yang khas: Botani dan Taksonomi (studi kasus kerancuan identifikasi lintas famili, morfologi androecium zigomorfik unik), Etnobotani dan Farmakognosi (senyawa antimikroba dan isatin), Sejarah Kolonial dan Pertukaran Tumbuhan Antarbenua (introduksi Amerika Selatan ke Asia), serta Antropologi Agama (konstruksi makna sakral pada spesies pengganti). Sala adalah representasi nyata bagaimana identifikasi botani yang cermat penting bagi keakuratan pengetahuan ilmiah maupun keagamaan sekaligus.

Referensi Akademik

  1. Aublet, J.B.C.F. (1775). Histoire des Plantes de la Guiane Française, Vol. 2, hlm. 708, tab. 282 (protolog Couroupita guianensis Aubl.). Didot, London/Paris.
  2. Mori, S.A., & Prance, G.T. (1990). Lecythidaceae Part II: The zygomorphic-flowered New World genera (Couroupita, Corythophora, Bertholletia, Couratari, Eschweilera, & Lecythis). Flora Neotropica Monograph, 21, 1–376.
  3. Wikipedia Shorea robusta (bagian “Confusion with the cannonball tree”). Rujukan ringkasan sejarah kerancuan identifikasi sal sejati dengan Couroupita guianensis di Asia.
  4. Mongabay News (2020). In Sri Lanka, a South American flower usurps a tree sacred to Buddhists and Hindus. Diakses dari news.mongabay.com.
  5. Kontan Mingguan (26 Juli 2021). Salah Kaprah Kanon Jadi Sala. Liputan kasus identifikasi pohon di Candi Mendut, Indonesia, dikutip melalui pustaka digital Universitas Ciputra.
  6. Uddin, S.J., et al. (2013). Antimicrobial, antimycobacterial and antibiofilm properties of Couroupita guianensis Aubl. fruit extract. (dikutip dalam kajian sifat antimikroba ekstrak buah Couroupita guianensis).
  7. Studi fitokimia Couroupita guianensis Aubl. (Lecythidaceae): A Medicinal Plant tinjauan karakter diagnostik famili dan aktivitas sitotoksik senyawa isatin terhadap lini sel kanker.
  8. Pha Tad Ke Botanical Garden, Laos. Couroupita guianensis catatan tentang kerancuan identifikasi sala di Laos, Kamboja, dan Thailand dibandingkan dengan tradisi India yang mengakui Shorea robusta.
  9. New York Botanical Garden (NYBG) Taxon Details: Lecythidaceae, Couroupita guianensis Aubl. Distribusi geografis alami di kawasan peri-Amazon.
  10. Wikipedia Couroupita guianensis. Status konservasi IUCN dan sinonim taksonomi.

Catatan: papan informasi ini secara sengaja mengangkat spesies yang benar-benar ditanam dan dikenal sebagai “pohon sala” di Indonesia (Couroupita guianensis), sekaligus mengklarifikasi bahwa pohon sala sejati dalam kitab suci Buddha adalah Shorea robusta  spesies berbeda famili yang tidak dibahas detail morfologisnya di sini.

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960