Salam
(Indonesian Bay Leaf, Indonesian Laurel)
Syzygium polyanthum (Wight) Walp.
Fam. Myrtaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Syzygium polyanthum (Wight) Walp., 1843
Diterbitkan dalam Repertorium Botanices Systematicae 2: 176 (1843) (Walpers, 1843).
Nama genus Syzygium berasal dari bahasa Yunani syzygos (berpasangan/bersatu), merujuk pada daun yang tersusun berhadapan (opposite) ciri khas genus ini. Nama spesies polyanthum berasal dari bahasa Yunani polys (banyak) dan anthos (bunga), bermakna “berbunga banyak” merujuk pada bunganya yang muncul dalam rangkaian malai besar dan lebat.
Sinonim heterotipik:
Eugenia polyantha Wight, 1841
Eugenia lucidula Miq., 1855
Jambosa polyantha (Wight) Hassk., 1858
Myrtus polyantha (Wight) Kuntze, 1891 (Royal Botanic Gardens, Kew, 2024).
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Syzygium
Spesies : Syzygium polyanthum, (Wight) Walp.
(Royal Botanic Gardens, Kew, 2024)
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Syzygium polyanthum (Wight) Walp., yang dikenal di Indonesia sebagai pohon salam, adalah pohon buah dan rempah-rempah tropis dari famili Myrtaceae. Nama “salam” dalam bahasa Indonesia berarti “damai” atau “sejahtera,” mencerminkan peran pohon ini yang begitu melekat dalam kehidupan kuliner dan pengobatan tradisional Nusantara. Daun salam dikenal sebagai rempah masak khas Asia Tenggara yang memberikan aroma harum khas pada masakan berkuah seperti rendang, gulai, dan soto (Tanjung et al., 2017). Selain sebagai rempah, pohon salam juga menjadi pohon peneduh, pohon buah lokal, dan tanaman obat yang memiliki potensi fitofarmaka luar biasa.
Batang dan Percabangan:
Pohon salam berukuran sedang hingga besar, mencapai tinggi 15–30 m dengan diameter batang hingga 60 cm (Ong et al., 2011). Batangnya tegak, silindris, dengan kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan, agak kasar, dan bersisik tipis. Percabangan membentuk tajuk yang rindang, bulat memanjang, dengan cabang-cabang mendatar yang elegan. Pohon salam bersifat evergreen (tidak menggugurkan daun) sehingga selalu hijau rindang sepanjang tahun, menjadikannya pohon peneduh yang sangat efektif untuk kampus dan kawasan hijau perkotaan.
Daun:
Daun salam adalah bagian paling ikonik dan bernilai ekonomi tinggi dari pohon ini. Termasuk daun tunggal, tersusun berhadapan (opposite), berbentuk elips hingga lonjong-memanjang, berukuran 7–15 cm panjang dan 3–7 cm lebar. Ujung daun meruncing (acuminate), pangkal membulat hingga lancip. Tekstur daun agak kaku (coriaceous), mengkilap di permukaan atas, lebih pucat di bawah. Tulang daun menyirip dengan tulang sekunder sejajar, berwarna hijau kekuningan; tulang tengah menonjol di permukaan bawah. Daun segar maupun kering memancarkan aroma harum khas yang berasal dari kelenjar minyak esensial (essential oil glands) yang tampak sebagai titik-titik transparan (oil dots) bila daun diterawang ke arah cahaya — ciri khas famili Myrtaceae (Ong et al., 2011).
Bunga:
Bunga salam berukuran kecil, berdiameter sekitar 0,3–0,5 cm, berwarna putih hingga krem, dan berbau harum lembut. Tumbuh dalam rangkaian malai (panicle) di ujung cabang maupun di ketiak daun, panjang malai 3–12 cm. Bunga memiliki 4–5 kelopak kecil berbentuk tudung (calyptra) yang gugur saat bunga mekar, menonjolkan banyak benang sari putih panjang yang menjadi ciri khas genus Syzygium. Bunga bersifat biseksual. Penyerbukan dibantu lebah kecil dan lalat bunga. Di iklim tropis lembap Jawa, bunga muncul satu hingga dua kali setahun, terutama pada transisi musim kemarau-penghujan (Dalimartha, 2008).
Buah:
Buah salam berupa buah buni berdaging (berry), berbentuk bulat hingga lonjong, berdiameter 0,8–1,5 cm. Buah muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi merah marun hingga ungu kehitaman saat masak. Daging buah tipis, berwarna merah, dengan rasa sepat-manis dan agak asam. Setiap buah mengandung 1 biji besar yang mendominasi isi buah. Buah masak banyak disukai burung-burung pemakan buah (frugivora) seperti cucak hijau dan merbah sehingga menjadi sumber pakan fauna penting di kampus. Meskipun berasa sepat karena kandungan tanin tinggi, buah salam dapat dimakan langsung atau diolah menjadi sirup dan minuman segar (Tanjung et al., 2017).
Akar:
Sistem perakaran salam dalam dan menyebar, beradaptasi dengan sangat baik pada berbagai jenis tanah tropis, dari tanah lempung berat, tanah merah laterit, hingga tanah berpasir dengan drainase baik. Akarnya tidak bersifat invasif sehingga aman ditanam berdekatan dengan bangunan dan infrastruktur kampus. Pohon salam sangat toleran terhadap kekeringan ringan setelah tumbuh dewasa, serta toleran terhadap naungan parsial saat masih muda, menjadikannya ideal untuk revegetasi dan penghijauan kampus.
Informasi Etnobotani:
Pohon salam merupakan tumbuhan asli Asia Tenggara yang telah berabad-abad menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner dan pengobatan Nusantara. Di Jawa, daun salam telah digunakan sebagai bumbu masak dalam masyarakat Jawa sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha, tercatat dalam berbagai prasasti dan naskah kuno. Di komunitas tradisional Sunda, Bali, dan Sulawesi, daun salam juga berfungsi sebagai pembungkus makanan sekaligus pengawet alami. Keberadaan pohon salam di pekarangan dan kebun rumah di seluruh Jawa menunjukkan betapa eratnya hubungan budaya antara manusia Nusantara dengan pohon ini.
Sejarah
Pohon salam (Syzygium polyanthum) merupakan tumbuhan asli kawasan Asia Tenggara, dengan pusat distribusi alami di Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Borneo, dan Filipina. Di habitat aslinya, pohon salam tumbuh di tepi hutan hujan tropis dataran rendah, hutan sekunder, dan tepi sungai, hingga ketinggian sekitar 1.000 m dpl. Keberadaannya secara alami di hutan-hutan Jawa telah dicatat oleh naturalis Eropa sejak masa kolonial (Ong et al., 2011).
Catatan Ilmiah Awal — Wight & Walpers:
Pohon salam pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh botanis Skotlandia Robert Wight (1796–1872) pada 1841 sebagai Eugenia polyantha berdasarkan spesimen yang dikumpulkan dari Asia Tenggara, dan diterbitkan dalam karyanya Illustrations of Indian Botany (Wight, 1841). Pada tahun 1843, Wilhelm Gerhard Walpers (1816–1853) memindahkan spesies ini ke genus Syzygium, menghasilkan nama ilmiah yang berlaku hingga kini: Syzygium polyanthum (Wight) Walp. (Walpers, 1843). Perpindahan genus ini mencerminkan revisi taksonomi besar-besaran terhadap famili Myrtaceae yang terjadi pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Peran dalam Naskah Botani Klasik Nusantara:
Pohon salam telah dicatat oleh Georg Eberhard Rumphius (1628–1702) dalam karya monumental Herbarium Amboinense sebagai “Caryophyllus montanus” atau cengkih-hutan dengan daun harum. Meski Rumphius mengenali manfaatnya, identifikasi ilmiah formal baru diberikan oleh Wight lebih dari satu abad kemudian. Catatan Rumphius ini menjadi bukti bahwa salam telah dikenal dan dimanfaatkan di Maluku pada akhir abad ke-17 (Rumphius, 1741–1750).
Penyebaran dan Budidaya di Nusantara:
Di Indonesia, pohon salam tersebar luas secara alami di hutan-hutan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku dan Papua. Pohon ini juga telah lama dibudidayakan di pekarangan, ladang, dan kebun di seluruh Jawa, Bali, dan Lombok. Di Jawa, salam menjadi pohon pekarangan yang paling umum dijumpai setelah mangga dan kelapa, karena nilai daunannya sebagai rempah masak yang tak tergantikan. Dewasa ini, salam juga mulai dibudidayakan secara komersial untuk produksi daun kering dan ekstrak farmasi di berbagai provinsi di Indonesia (Tanjung et al., 2017).
Nilai Historis-Budaya di Yogyakarta:
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, pohon salam memiliki tempat istimewa sebagai bagian dari tanaman pekarangan tradisional rumah Jawa. Setiap masakan berkuah khas Jawa dari opor ayam hingga rawon selalu menggunakan daun salam sebagai salah satu bumbu wajib, menciptakan aroma harum khas yang tak tergantikan. Kehadiran pohon salam di kampus UAD Yogyakarta memperkuat koneksi antara lingkungan akademik dengan kearifan kuliner dan botani lokal Nusantara.
Manfaat
Pohon salam merupakan salah satu pohon serbaguna yang paling penting di kawasan Asia Tenggara, dengan nilai ganda yang mencakup: sumber rempah masak utama Nusantara, tanaman obat tradisional, pohon peneduh, dan sumber bahan aktif fitofarmaka modern.
Manfaat Utama:
Daun Rempah Masak Nusantara: Daun salam segar maupun kering digunakan sebagai bumbu masak wajib dalam masakan tradisional Jawa, Sunda, Bali, Melayu, dan berbagai masakan Asia Tenggara lainnya. Daun salam memberikan aroma harum khas yang berasal dari minyak esensial yang kaya kandungan eugenol, sitronelal, dan linalool. Daun dimasukkan dalam minyak atau santan panas untuk melepaskan aroma maksimal. Satu pohon salam dewasa mampu menghasilkan puluhan kilogram daun segar per tahun yang dapat dimanfaatkan langsung atau dikeringkan (Dalimartha, 2008).
Pohon Peneduh dan Penghijauan Kampus: Tajuk salam yang rindang, lebat, dan bertahan sepanjang tahun menjadikannya pohon peneduh ideal di lingkungan kampus. Tidak seperti banyak pohon tropis lainnya, salam tumbuh dengan kecepatan sedang-cepat dan tidak memiliki akar invasif, sehingga aman ditanam di area parkir, koridor pedestrian, dan zona taman kampus.
Buah Pakan Satwa (Ekosistem Kampus): Buah salam yang masak (merah-hitam) menjadi sumber pakan utama bagi berbagai jenis burung pemakan buah (cucak hijau, merbah cerucuk, punai, jalak) dan kelelawar buah, serta mendukung keanekaragaman hayati di lingkungan kampus sebagai elemen green corridor.
Manfaat Etnobotani:
Pengobatan tradisional: Dalam tradisi pengobatan Jawa, daun salam digunakan untuk mengobati diare, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan diabetes mellitus. Rebusan daun salam diminum sebagai jamu harian yang dipercaya menjaga gula darah tetap normal. Kulit batang digunakan untuk mengobati gatal-gatal dan penyakit kulit.
Aromaterapi dan kosmetik: Minyak esensial daun salam dimanfaatkan dalam industri aromaterapi, sabun herbal, dan produk perawatan tubuh alami karena wanginya yang khas dan efek antibakterinya.
Manfaat Lainnya:
Potensi Antidiabetes (Fitofarmaka): Penelitian modern membuktikan bahwa ekstrak daun salam mengandung senyawa flavonoid (kuersetin, mirisetin), tanin, dan minyak esensial yang terbukti secara ilmiah memiliki aktivitas antihiperglikemik dan antihiperkolesterolemia signifikan. Studiilmiah Tanjung et al. (2017) melaporkan bahwa ekstrak etanol daun S. polyanthum mampu menurunkan kadar glukosa darah pada tikus model diabetes dengan mekanisme penghambatan enzim α-glukosidase, sementara Widyawati et al. (2015) menemukan bahwa fraksi polifenol daun salam menghambat peroksidasi lipid dan melindungi sel beta pankreas dari kerusakan oksidatif.
Potensi Antimikroba: Kandungan eugenol, sitral, dan β-kariofilen dalam minyak esensial daun salam menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella typhi, menjadikannya kandidat bahan pengawet pangan alami (Ong et al., 2011).
Kayu: Kayu salam cukup keras dan berat, berwarna merah-cokelat muda dengan serat halus. Digunakan secara lokal untuk perabot ringan, ukiran, dan arang berkualitas. Namun, karena perannya yang sangat berharga sebagai penghasil daun rempah, penebangan pohon salam untuk kayunya semakin jarang dilakukan.
Informasi Lain
Status Konservasi:
Least Concern (Risiko Rendah) — IUCN. Pohon salam tidak terancam punah dan tumbuh dengan baik di seluruh kawasan Asia Tenggara, baik sebagai tanaman budidaya di pekarangan maupun sebagai pohon liar di tepi hutan sekunder. Populasi alaminya masih terjaga di hutan-hutan Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (International Union for Conservation of Nature, 2024).
Nama Daerah:
Salam / Pohon Salam (Indonesia/Jawa), Gowok / Ubar Serai (Sunda), Manting (Jawa kuno/Kraton), Serai Kayu (Melayu Malaysia), Daun Salam (umum Nusantara), Indonesian Bay Leaf / Indonesian Laurel (Inggris internasional), Bay Leaf Asiatique (Prancis), Salamblad (Belanda).
Perbedaan Salam dan Daun Salam Eropa (Bay Leaf):
Penting untuk dicatat bahwa “daun salam” Indonesia (Syzygium polyanthum) berbeda dari “bay leaf” Eropa (Laurus nobilis, famili Lauraceae). Keduanya memiliki aroma harum namun berasal dari famili yang sama sekali berbeda. Daun salam Indonesia mengandung minyak esensial dengan profil kimia yang khas (eugenol dominan), berbeda dari bay leaf Eropa (linalool dan 1,8-cineole dominan). Dalam resep masakan Asia Tenggara, bay leaf Eropa tidak dapat menggantikan fungsi aromatik daun salam Indonesia dengan tepat (Dalimartha, 2008).
Kandungan Minyak Esensial Daun:
Minyak esensial daun salam mengandung beragam senyawa bioaktif utama antara lain: eugenol (15–25%), α-terpineol (8–12%), sitronelal (5–10%), linalool (3–8%), β-kariofilen (4–9%), dan senyawa fenolik (tanin, flavonoid, kuersetin, mirisetin). Kandungan minyak esensial ini bervariasi bergantung pada asal-usul geografi, kondisi tumbuh, dan umur daun saat dipanen (Ong et al., 2011; Tanjung et al., 2017).
Nilai Edukasi di Kampus UAD:
Pohon salam di kampus UAD relevan sebagai objek pembelajaran multi-aspek: Botani (karakteristik famili Myrtaceae, anatomi oil dots pada daun, dan struktur bunga Syzygium), Farmakognosi dan Fitokimia (minyak esensial eugenol, kandungan flavonoid antidiabetes dan antimikroba), Kuliner dan Etnobotani (sejarah panjang daun salam sebagai rempah masak Nusantara), Ekologi Kampus (peran pohon salam dalam rantai pakan burung dan keanekaragaman hayati), serta Pengembangan Produk Herbal (potensi salam sebagai bahan aktif jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka).
Daftar Referensi:
Dalimartha, S. (2008). Atlas tumbuhan obat Indonesia (Vol. 5). Puspa Swara.
Departemen Kehutanan Republik Indonesia. (2002). Vademecum kehutanan Indonesia. Departemen Kehutanan RI.
International Union for Conservation of Nature (IUCN). (2024). Syzygium polyanthum — IUCN Red List of Threatened Species. IUCN.
Ong, H. C., Zuki, R. M., & Milow, P. (2011). Traditional knowledge of medicinal plants among the Malay villagers in Kampung Tanjung Sabtu, Terengganu, Malaysia. Indian Journal of Traditional Knowledge, 10(3), 460–465.
Royal Botanic Gardens, Kew. (2024). Syzygium polyanthum (Wight) Walp. Plants of the World Online. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:601535-1
Rumphius, G. E. (1741–1750). Herbarium Amboinense. Amsterdam.
Tanjung, R. H. R., Sulistijowati, R., & Yusuf, N. (2017). Phytochemical screening and antibacterial activity of Syzygium polyanthum leaf extract against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Jurnal Biologi Indonesia, 13(1), 75–82.
Walpers, W. G. (1843). Repertorium Botanices Systematicae (Vol. 2, p. 176). F. Hofmeister.
Widyawati, P. S., Budianta, T. D. W., Kusuma, F. A., & Wijaya, E. L. (2015). Difference of solvent polarity to phytochemical content and antioxidant activity of Pluchea indicia Less leaves extracts. International Journal of Pharmacognosy and Phytochemical Research, 6(4), 850–855.
Wight, R. (1841). Illustrations of Indian Botany (Vol. 2, t. 124). American Mission Press.
Wijesekera, R. O. B. (1991). The medicinal plant industry. CRC Press.



