Loa

(Elo, Lo, Cluster Fig)

Ficus racemosa L.

Fam. Moraceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Ficus racemosa L., 1753

Diterbitkan dalam Species Plantarum oleh Carl Linnaeus, peletak dasar tata nama binomial modern.

Catatan Taksonomi:

Nama yang jauh lebih sering muncul dalam literatur botani India dan Ayurveda adalah Ficus glomerata Roxb., dideskripsikan oleh William Roxburgh dalam Flora Indica (1802) — lebih dari 50 tahun setelah nama Linnaeus. Berdasarkan prinsip prioritas dalam tata nama botani internasional (ICN), nama yang dipublikasikan lebih dahulu berhak diutamakan; karena itu Ficus racemosa L. (1753) berstatus nama yang sah diakui, sedangkan Ficus glomerata Roxb. berstatus sinonim taksonomi, meski masih sangat luas digunakan dalam ribuan publikasi farmakologi dan Ayurveda hingga kini  contoh baik untuk memahami bagaimana aturan prioritas nomenklatur bekerja dalam praktik.

Nama genus Ficus adalah nama Latin klasik untuk pohon ara/tin. Nama spesies racemosa merujuk pada susunan buahnya yang bergerombol menyerupai tandan (raceme).

Genus Ficus merupakan salah satu genus tumbuhan berkayu terbesar di dunia dengan lebih dari 850 spesies, tersebar luas di seluruh kawasan tropis. Beberapa kerabat dekat yang juga umum ditemukan di Indonesia:

Ficus racemosa — Loa / Elo

Ficus benjamina — Beringin

Ficus religiosa — Bodhi / Pohon Suci Buddha

Ficus elastica — Beringin Karet

Ficus septica — Awar-awar

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Klad : Angiosperms (Tumbuhan Berbunga)

Klad : Eudicots

Klad : Rosids

Ordo : Rosales

Famili : Moraceae

Genus : Ficus

Spesies : Ficus racemosa, L.

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Ficus racemosa L., yang dikenal di Jawa sebagai lo/elo dan di tanah Sunda sebagai loa, adalah pohon dari famili Moraceae yang memiliki salah satu ciri paling khas dan langka di dunia tumbuhan: buah yang tumbuh langsung menempel bergerombol di batang dan cabang utama (cauliflory), bukan di ujung ranting seperti kebanyakan pohon berbuah lainnya. Loa berkerabat dekat dengan beringin (Ficus benjamina) dan beringin karet (Ficus elastica) dalam genus Ficus yang beranggotakan lebih dari 850 spesies di seluruh dunia. Kehadiran loa di kampus UAD merepresentasikan salah satu contoh paling nyata mutualisme obligat tumbuhan-serangga di alam, sekaligus warisan budaya yang dihormati lintas tradisi Nusantara dan Asia Selatan.

Batang dan Percabangan:

Loa dapat tumbuh dengan tinggi 15–20 m, pada individu tertua bahkan dilaporkan mencapai lebih dari 20 m dengan diameter batang hingga sekitar 100 cm. Batang berbentuk silindris, tumbuh monopodial dengan permukaan relatif halus berwarna abu-abu, dan bercabang banyak membentuk tajuk yang cukup rimbun. Ciri paling mencolok dan diagnostik dari loa adalah munculnya bunga dan buah (syconium) langsung dari permukaan batang dan cabang besar yang tidak berdaun, bergerombol lebat fenomena cauliflory/ramiflory yang menjadikan loa mudah dibedakan dari kerabat Ficus lainnya yang umumnya berbuah di ketiak daun. Seperti anggota genus Ficus pada umumnya, seluruh bagian pohon loa mengeluarkan getah putih (lateks) saat terluka, yang dapat menyebabkan iritasi ringan pada kulit sensitif.

Daun:

Daun loa tersusun berselang-seling (alternate), berbentuk lonjong hingga elips-lanset dengan ujung meruncing menyerupai mata tombak, berukuran 7,5–15 cm panjang dengan tangkai daun sepanjang 2–7 cm. Permukaan daun berwarna hijau tua dan dapat berubah kekuningan menjelang gugur pada musim kemarau. Tekstur daun relatif tipis dibanding kerabatnya beringin, menjadi salah satu pembeda morfologis di lapangan.

Bunga (Syconium):

Seperti seluruh anggota genus Ficus, loa tidak memiliki bunga dalam bentuk konvensional yang tampak dari luar. Bunga-bunga sesungguhnya baik jantan maupun betina tersembunyi di dalam struktur bulat berongga yang disebut syconium, sebuah tangkai bunga majemuk (inflorescence) yang melipat ke dalam membentuk rongga tertutup dengan satu lubang kecil (ostiole) sebagai satu-satunya akses masuk. Struktur unik inilah yang menjadi dasar mutualisme penyerbukan paling spesifik dan tertutup di dunia tumbuhan berbunga.

Buah:

Buah loa (secara botani sebenarnya adalah syconium yang matang, bukan buah sejati) berbentuk bulat hingga agak lonjong, tumbuh bergerombol lebat langsung dari batang dan cabang. Saat matang, kulit buah berubah warna dari hijau menjadi merah muda hingga merah dengan daging buah berwarna putih dan biji berwarna cokelat dalam jumlah sangat banyak di dalamnya. Buah loa yang matang digemari berbagai satwa liar seperti monyet, burung, tupai, kelelawar pemakan buah yang menjadikannya salah satu spesies kunci (keystone species) penopang rantai makanan hutan tropis karena kemampuannya berbuah hampir sepanjang tahun di luar musim buah pohon lain.

Akar:

Perakaran loa tumbuh dalam dan kuat, dengan akar tunggang bercabang yang mampu mencengkeram tanah secara efektif, mirip dengan sistem perakaran beringin meski tidak menghasilkan akar gantung udara (aerial root) sebanyak beringin. Kemampuan serap air yang tinggi berkat mekanisme konduktansi hidrolik menjadikan loa sangat sesuai ditanam di tepi sungai dan sekitar mata air sebagai penahan erosi dan penstabil tanah.

Informasi Etnobotani :

Pohon loa (Ficus racemosa L., Moraceae) merupakan spesies berkayu yang kaya akan nilai etnobotani dan ekologis. Dalam tradisi Sanskerta (Udumbara) serta literatur Hindu-Buddha kuno, loa disucikan dan dimanfaatkan dalam ritual suci, sementara dalam kearifan lokal Jawa dan Sunda, struktur perakarannya yang khas dimanfaatkan dalam seni bonsai. Di alam, loa berfungsi sebagai spesies kunci (keystone species) yang penting untuk penahan erosi di kawasan riparian (tepi sungai) serta penyedia pakan bagi satwa frugivora.

Sejarah

Ficus racemosa memiliki wilayah persebaran alami yang sangat luas, membentang dari Pakistan di barat hingga Queensland Utara, Australia di timur, mencakup hampir seluruh kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Loa tumbuh alami di hutan dataran rendah beriklim tropis dan subtropis kering, sering ditemukan liar di tepi sungai, tembok tua, dan area dekat sumber air.

Mutualisme Obligat dengan Tawon Ara:

Salah satu fenomena biologi paling menakjubkan pada loa adalah hubungan simbiosis mutualisme obligat dengan tawon penyerbuknya, Ceratosolen fusciceps Mayr, 1885 (famili Agaonidae). Tawon betina yang sangat kecil merayap masuk melalui ostiole syconium yang sempit proses yang seringkali membuat sayap dan antenanya patah untuk meletakkan telur sekaligus menyerbuki bunga betina di dalamnya. Sebagai imbalan, keturunan tawon berkembang di dalam sebagian bunga yang telah dikorbankan pohon inang. Hubungan ini bersifat spesies-spesifik dan telah berevolusi bersama (co-evolution) selama puluhan juta tahun tanpa tawon ini, loa tidak akan pernah berbuah dan berkembang biak secara generatif.

Prioritas Nomenklatur: Racemosa vs Glomerata:

Kasus Ficus racemosa versus Ficus glomerata adalah contoh klasik dalam sejarah taksonomi tumbuhan tentang bagaimana nama yang lebih dahulu dipublikasikan (Linnaeus, 1753) tetap menjadi nama sah meski nama yang lebih belakangan (Roxburgh, 1802) sempat menjadi jauh lebih populer dan tersebar luas dalam literatur ilmiah selama dua abad, terutama dalam ribuan publikasi farmakologi dan Ayurveda India yang hingga kini masih banyak menggunakan nama Roxburgh.

Kedudukan dalam Tradisi Spiritual Asia:

Loa (udumbara) menempati posisi istimewa dalam tradisi Hindu dan Buddha selama ribuan tahun. Dalam mantra Atharwaweda (sekitar 1000–1500 SM), pohon ini dipuja untuk kekuatan magisnya dalam mendatangkan kemakmuran dan kemenangan. Kisah Raja Harishchandra dalam mitologi Hindu menyebutkan mahkotanya terbuat dari ranting udumbara berlapis emas. Dalam tradisi Buddha Theravada, pohon ini diyakini sebagai pohon pencerahan (bodhi) bagi Buddha ke-26, Konagamana. Warisan spiritual lintas tradisi inilah yang menjadikan loa salah satu pohon dengan makna budaya terkaya di Asia.

Nilai Konservasi Ekologis di Kampus:

Sebagai spesies asli Nusantara berstatus konservasi aman, penanaman loa di kampus UAD berfungsi ganda yaitu sebagai bentuk dalam melestarikan pengetahuan tentang flora asli Indonesia yang memiliki hubungan mutualisme paling tersohor di dunia tumbuhan-serangga, sekaligus mengedukasi tentang warisan budaya dan spiritual lintas tradisi Nusantara dan Asia guna melengkapi koleksi pohon lain di lingkungan kampus.

Manfaat

Loa memiliki nilai manfaat yang beragam dari peran ekologis sebagai spesies kunci penopang satwa liar, potensi farmakologi yang telah dikaji ratusan penelitian ilmiah, hingga makna budaya dan spiritual yang mendalam.

Manfaat Utama:

Spesies Kunci Ekologis (Keystone Species): Kemampuan loa berbuah hampir sepanjang tahun tidak terikat musim seperti kebanyakan pohon buah lain menjadikannya sumber pangan penting bagi monyet, burung, tupai, dan kelelawar pemakan buah, terutama pada masa paceklik buah hutan. Peran ini menjadikan Ficus racemosa salah satu spesies fondasi (foundation species) dalam menopang keanekaragaman hayati hutan tropis.

Konservasi Tanah dan Air: Sistem perakaran yang dalam dan kuat serta daya serap air yang tinggi menjadikan loa tanaman pilihan untuk rehabilitasi tepi sungai, penahan erosi, dan pencegahan banjir, sekaligus tajuknya yang rapat membantu meredam dampak hujan lebat terhadap permukaan tanah.

Sumber Pengobatan Tradisional dan Riset Farmakologi: Hampir seluruh bagian pohon kulit kayu, akar, daun, buah, dan getah telah digunakan secara tradisional dalam Ayurveda, Siddha, dan Unani untuk mengatasi diabetes, disentri, peradangan, dan gangguan hati. Ratusan penelitian modern telah mengonfirmasi aktivitas antidiabetes, antioksidan, hepatoprotektif, dan antiinflamasi dari berbagai ekstrak bagian tanaman ini, menjadikan loa salah satu tumbuhan obat tropis dengan literatur farmakologi paling banyak dikaji.

Tanaman Hias Bonsai: Karakter perakaran yang indah dan berlekuk menjadikan loa salah satu jenis Ficus favorit di kalangan penghobi bonsai Indonesia.

Manfaat Lainnya:

Nilai spiritual dan budaya: Sebagai udumbara, loa dihormati dalam tradisi Hindu dan Buddha selama ribuan tahun sebagai pohon suci dan simbol kemakmuran.

Model riset koevolusi: Hubungan mutualisme obligat dengan tawon Ceratosolen fusciceps menjadikan loa salah satu sistem model paling penting dalam riset biologi evolusi dan ekologi interaksi tumbuhan serangga di dunia.

Informasi Lain

Status Konservasi: Least Concern (Risiko Rendah) – IUCN Red List (IUCN SSC Global Tree Specialist Group, 2019). Loa memiliki populasi luas dan stabil di seluruh kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia bagian utara, sehingga belum menghadapi ancaman kepunahan pada skala global.

Nama Daerah/Regional: Lo / Elo (Jawa), Loa / Lowa (Sunda), Arah (Madura), Udumbara (Sanskerta), Umar/Goolar (Hindi), Athi (Tamil, Kannada, Malayalam), Cluster Fig / Country Fig (Inggris).

Cauliflory Ciri Diagnostik Langka: Kemampuan berbuah langsung dari batang dan cabang berkayu (cauliflory) adalah strategi reproduksi yang relatif jarang di dunia tumbuhan, umumnya ditemukan pada beberapa pohon hutan hujan tropis seperti cokelat (Theobroma cacao) dan nangka (Artocarpus heterophyllus). Pada loa, strategi ini diduga berkaitan dengan efisiensi akses tawon penyerbuk berukuran mikroskopis serta memudahkan satwa mamalia besar mengonsumsi buah langsung dari batang.

Peringatan Kehati-hatian: Beberapa sumber populer di Indonesia mengutip klaim penelitian awal tentang potensi ekstrak loa terhadap penghambatan replikasi virus HIV. Klaim semacam ini umumnya berasal dari studi laboratorium tahap awal (in vitro) yang belum melalui uji klinis pada manusia, sehingga perlu disikapi dengan hati-hati dan tidak dijadikan dasar pengobatan mandiri tanpa konsultasi medis dan rujukan ilmiah yang telah tervalidasi secara ketat.

Nilai Edukasi di Kampus UAD: Pohon loa di kampus UAD menghadirkan dimensi edukasi lintas disiplin: Botani (morfologi Moraceae, syconium, cauliflory), Ekologi dan Biologi Evolusi (mutualisme obligat fig-wasp, spesies kunci/keystone), Farmakognosi (fitokimia dan aktivitas farmakologi luas), Taksonomi dan Nomenklatur (studi kasus prinsip prioritas ICN: racemosa vs glomerata), serta Antropologi dan Studi Budaya-Agama (udumbara dalam tradisi Hindu-Buddha). Loa adalah representasi nyata bagaimana satu spesies pohon dapat menyatukan sains modern dan warisan budaya kuno sekaligus di lingkungan kampus.

Referensi Akademik

  1. Linnaeus, C. (1753). Species Plantarum, Vol. 2 (protolog Ficus racemosa L.). Laurentius Salvius, Stockholm.
  2. Roxburgh, W. (1802). Flora Indica, or Descriptions of Indian Plants (basionim sinonim Ficus glomerata Roxb.). Mission Press, Serampore.
  3. Berg, C.C., & Corner, E.J.H. (2005). Moraceae: Ficeae. Flora Malesiana, Series I, 17, 1–70.
  4. Bain, A., Borges, R.M., Chevallier, M.H., Vignes, H., Kobmoo, N., Peng, Y.Q., Cruaud, A., Rasplus, J.Y., Kjellberg, F., & Hossaert-McKey, M. (2016). Geographic structuring into vicariant species-pairs in a wide-ranging, high-dispersal plant–insect mutualism: the case of Ficus racemosa and its pollinating wasps. Evolutionary Ecology, 30, 663–684.
  5. Kobmoo, N., Hossaert-McKey, M., Rasplus, J.Y., & Kjellberg, F. (2010). Ficus racemosa is pollinated by a single population of a single agaonid wasp species in continental South-East Asia. Molecular Ecology, 19(13), 2700–2712. https://doi.org/10.1111/j.1365-294X.2010.04654.x
  6. IUCN SSC Global Tree Specialist Group (2019). Ficus racemosa. The IUCN Red List of Threatened Species 2019: e.T145362959A145371147. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2019-2.RLTS.T145362959A145371147.en
  7. Ahmed, F., & Urooj, A. (2010). Glucose-lowering, hepatoprotective and hypolipidemic activities of stem bark of Ficus racemosa. International Journal of Pharmacology, terkait tinjauan farmakologi Ficus racemosa (astringen, hipoglikemik, hepatoprotektif).
  8. Pahari, N., Majumdar, S., Karati, D., & Mazumder, R. Exploring the pharmacognostic properties and pharmacological activities of phytocompounds present in Ficus racemosa Linn.: a concise review. (dikutip dalam kajian komprehensif fitokimia dan farmakologi F. racemosa).
  9. Plantamor Database. Ara (Ficus racemosa L.) — Profil Spesies. Diakses dari plantamor.com.
  10. Sacred Trees of Banaras Hindu University (BHU). Cluster Fig — Ficus racemosa Linn. syn. F. glomerata Roxb.: nama daerah, morfologi, dan makna spiritual dalam tradisi Hindu.

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960