Kepel (Burahol, Kepel Apple, Surati)
Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson
Fam. Annonaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson, 1855
Diterbitkan dalam Flora Indica 1: 131 (1855)
Pertama dideskripsikan oleh Carl Ludwig Blume (1796–1862), Direktur Kebun Raya Bogor 1822–1826, sebagai Uvaria burahol dari spesimen hutan Jawa (1825). Direklasifikasi ke genus baru Stelechocarpus oleh Joseph Dalton Hooker (1817–1911) dan Thomas Thomson (1817–1878) dalam Flora Indica (1855). Nama genus Stelechocarpus dari bahasa Yunani stelechos (batang/tiang) dan karpos (buah) — bermakna “buah di batang”, merujuk langsung pada fenomena kauliflori. Nama spesies burahol adalah latinisasi dari nama lokal Jawa: burahol atau burahul.
Sinonim heterotipik :
Uvaria burahol Blume, 1825
Uvaria burahol var. minor Miq., 1865
Stelechocarpus cauliflorus (Miq.) Scheff., 1869
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Magnoliidae
Ordo : Magnoliales
Famili : Annonaceae
Genus : Stelechocarpus
Spesies : Stelechocarpus burahol, (Blume) Hook.f. & Thomson
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson, yang dikenal di Jawa sebagai kepel atau burahol, adalah pohon buah tropis langka dari famili Annonaceae yang memiliki kedudukan sangat istimewa dalam budaya Jawa. Kepel dikenal sebagai “pohon keraton” — secara historis hanya boleh ditanam di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta serta kalangan bangsawan Jawa. Buahnya yang langka dikenal memiliki khasiat deodoran alami — mengonsumsinya dipercaya dapat membuat keringat, napas, dan urine seseorang menjadi harum, menjadikan kepel sebagai salah satu buah paling misterius dan menarik dalam khazanah etnobotani Nusantara.
Batang dan Percabangan:
Kepel tumbuh lambat menjadi pohon sedang dengan tinggi 15–25 m dan diameter batang 30–50 cm. Batangnya tegak, silindris, dan berkayu keras. Kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan, agak kasar, dan mengelupas dalam kepingan tipis pada pohon tua. Ciri morfologi paling khas kepel adalah buah yang muncul langsung dari batang atau cabang utama (cauliflorous) — gerombolan buah berwarna cokelat keemasan menempel langsung pada batang, menciptakan pemandangan yang sangat unik dan tidak lazim. Percabangan membentuk tajuk yang cukup rimbun dan rapat.
Daun:
Daun kepel tunggal, berselang-seling (alternate), berbentuk lonjong hingga elips memanjang (oblong-elliptic), berukuran 15–30 cm panjang dan 5–10 cm lebar — tergolong besar. Ujung meruncing (acuminate), pangkal membulat. Permukaan atas hijau tua mengkilap, bawah lebih pucat. Tepi rata (entire). Tulang daun menyirip dengan 12–16 pasang tulang lateral yang menonjol. Daun kepel memiliki aroma khas yang lembut ketika diremas, berasal dari senyawa volatil dalam jaringan daun.
Bunga:
Bunga kepel tumbuh langsung dari batang atau cabang utama (cauliflorous), berkelompok 2–5 kuntum, berdiameter 2–3 cm. Kelopak berjumlah 6 tersusun dua lingkaran — 3 sepal luar lebih kecil dan 3 petal dalam lebih besar — khas famili Annonaceae. Warna bunga kuning kehijauan hingga kuning kecokelatan. Banyak benang sari dan putik (polyandrous-apocarpous). Berbau harum lembut terutama di pagi hari. Pohon mulai berbunga pada usia 8–15 tahun.
Buah:
Buah kepel adalah bagian paling istimewa dari pohon ini — tumbuh langsung dari batang (cauliflorous) dalam gerombolan padat. Bentuk bulat hingga oval, diameter 3–5 cm, berwarna cokelat keemasan saat masak, kulit halus dan sedikit berbulu. Daging buah putih kekuningan, lunak seperti custard, sangat manis dan beraroma harum khas — perpaduan mangga, nangka, dan vanila dengan sentuhan floral. Mengandung 1–3 biji besar berwarna cokelat. Buah masak menghasilkan aroma khas manis-floral yang semakin kuat saat membuka.
Akar:
Perakaran kepel dalam dan moderat, beradaptasi baik pada tanah lempung kaya humus. Di habitat alaminya, kepel tumbuh di hutan primer yang ternaungi — menunjukkan toleransinya terhadap kondisi cahaya rendah (shade tolerant) yang tidak umum pada pohon buah tropis. Perakarannya tidak invasif, cocok untuk lingkungan kampus.
Informasi Etnobotani :
Kepel adalah pohon paling eksklusif dalam tradisi budaya Jawa. Secara historis, kepel hanya diizinkan ditanam di dalam kompleks Keraton Yogyakarta dan Surakarta, serta taman milik keluarga kerajaan. Larangan menanam kepel di luar keraton mencerminkan betapa tingginya nilai yang diberikan masyarakat Jawa terhadap pohon dan buah istimewa ini. Para putri keraton secara rutin mengonsumsi buah kepel untuk menjaga keharuman tubuh secara alami — menjadikannya “deodoran internal” para bangsawan Jawa.
Sejarah
Stelechocarpus burahol memiliki distribusi alami terbatas di Jawa, Bali, dan Kalimantan, serta Semenanjung Malaysia selatan dan Thailand selatan. Di Jawa, kepel kini hampir tidak ditemukan di luar kawasan konservasi dan pekarangan keraton akibat deforestasi besar-besaran selama berabad-abad.
Pohon Keraton — Sejarah Eksklusivitas:
Tradisi penanaman kepel secara eksklusif di lingkungan keraton berlangsung setidaknya sejak era Kerajaan Mataram Islam (abad ke-16–17 M). Para putri keraton mengonsumsi buah kepel untuk menjaga keharuman tubuh secara alami — “deodoran internal” yang sangat dihargai sebelum era parfum modern. Kandungan senyawa aktif dalam buah dipercaya membuat keringat, napas, dan urine menjadi harum. Larangan menanam kepel di luar keraton juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial yang menegaskan eksklusivitas kehidupan keraton Jawa.
Dokumentasi Blume dan Flora Jawa:
Carl Ludwig Blume mendokumentasikan kepel untuk pertama kali secara ilmiah sebagai Uvaria burahol pada 1825 dalam Bijdragen tot de Flora van Nederlandsch Indië. Blume mencatat keunikan kauliflori dan nilai budaya kepel di lingkungan keraton Jawa. Hooker dan Thomson kemudian menempatkannya dalam genus baru Stelechocarpus berdasarkan keunikan morfologinya dalam Flora Indica (1855) — salah satu karya botani Asia paling monumental abad ke-19.
Kepel di Taman Sari Keraton Yogyakarta:
Hingga kini, pohon kepel masih dapat ditemukan di Taman Sari — kompleks taman kerajaan Keraton Yogyakarta yang dibangun Sultan Hamengkubuwono I pada 1758–1765. Beberapa pohon kepel tua diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun, berdiri sebagai saksi bisu sejarah kejayaan Mataram Islam. Pelestarian kepel di Taman Sari adalah penjagaan warisan budaya sekaligus konservasi botani.
Gerakan Konservasi Modern:
Menyadari kelangkaan kepel yang mengkhawatirkan, berbagai lembaga — Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Yogyakarta, BRIN, dan beberapa universitas — aktif mengembangkan program perbanyakan dan reintroduksi kepel sejak 1990-an. Penanaman kepel di kampus UAD merupakan bagian dari gerakan konservasi ex-situ yang sangat penting untuk mencegah kepunahan spesies langka ini di luar kawasan keraton.
Kepel dalam Konteks Famili Annonaceae:
Kepel termasuk famili Annonaceae — famili yang juga mencakup sirsak (Annona muricata), srikaya (Annona squamosa), dan kenanga (Cananga odorata). Famili ini dikenal dengan bunga ber-petal tebal dan buah majemuk yang lezat, serta peran penting dalam farmakologi (senyawa acetogenin dari sirsak terkenal sebagai antikanker alami). Kekerabatan kepel dengan genus-genus ini membuka peluang penelitian fitokimia yang sangat menarik.
Manfaat
Kepel memiliki nilai manfaat yang unik dan multidimensi — dari buah dengan khasiat deodoran alami, potensi farmakologi modern yang menjanjikan, hingga nilai budaya dan konservasi yang tak ternilai.
Manfaat Utama:
Buah Deodoran Alami: Khasiat paling legendaris kepel adalah kemampuannya sebagai deodoran internal alami. Mengonsumsi buah kepel yang masak secara teratur dipercaya membuat keringat dan napas seseorang menjadi harum. Secara ilmiah, khasiat ini dikaitkan dengan kandungan terpenoid dan flavonoid yang dimetabolisme tubuh menjadi senyawa volatil aromatik yang diekskresikan melalui kelenjar keringat dan saluran pernapasan. Penelitian modern mulai mengkonfirmasi mekanisme biologis di balik klaim tradisional berabad-abad ini.
Buah Pangan Eksklusif: Daging buah kepel yang masak bertekstur lembut seperti custard, sangat manis beraroma unik — perpaduan mangga, nangka, dan vanila dengan sentuhan floral. Rasanya menjadikannya salah satu buah tropis paling eksklusif, hanya tersedia dalam jumlah sangat terbatas.
Pohon Peneduh dan Estetika Kampus: Tajuk kepel yang rimbun menjadikannya peneduh bernilai tinggi. Fenomena kauliflori — buah langsung dari batang — menjadi daya tarik visual yang selalu menarik perhatian dan memancing rasa ingin tahu pengunjung kampus.
Kontrasepsi Tradisional: Dalam pengobatan tradisional keraton Jawa, biji kepel secara historis digunakan sebagai kontrasepsi alami. Penelitian ilmiah mengkonfirmasi bahwa ekstrak biji kepel memiliki efek antifertilitas pada hewan percobaan melalui penghambatan pematangan sel telur dan implantasi embrio — membuka peluang penelitian farmasi yang sangat menarik.
Manfaat Etnobotani:
Simbol budaya keraton: Kepel adalah satu dari sangat sedikit pohon yang secara eksplisit dikaitkan dengan kehidupan keraton Jawa. Kehadirannya di suatu tempat merupakan penanda status sosial dan budaya yang tinggi.
Pengobatan tradisional: Kulit batang dan daun kepel dalam tradisi Jawa digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, asam urat, dan penyakit ginjal. Rebusan akar digunakan sebagai tonik kesehatan umum.
Konservasi plasma nutfah: Setiap pohon kepel yang ditanam di kampus UAD merupakan kontribusi nyata pada pelestarian keanekaragaman hayati Jawa yang semakin terancam.
Manfaat Ilmiah Modern:
Antifertilitas: Ekstrak biji kepel terbukti memiliki efek antifertilitas pada penelitian hewan, membuka kemungkinan pengembangan kontrasepsi herbal.
Antioksidan: Daging buah dan daun mengandung flavonoid, polifenol, dan vitamin C dengan aktivitas antioksidan tinggi.
Antihiperurisemia: Ekstrak daun kepel efektif menurunkan kadar asam urat darah, mendukung penggunaannya secara tradisional untuk penyakit ginjal dan asam urat.
Informasi Lain
Status Konservasi: Vulnerable (Rentan) – IUCN Red List. Di Indonesia, kepel masuk daftar tumbuhan langka yang memerlukan perhatian khusus. Populasi liar di hutan Jawa dan Kalimantan sangat terbatas — sebagian besar individu yang ada merupakan pohon budidaya di keraton, kebun raya, dan pekarangan. Penanaman kepel di kampus UAD adalah kontribusi konservasi ex-situ yang sangat berharga.
Nama Daerah: Kepel / Kecindul (Jawa Tengah/DIY), Burahol / Burahul (Jawa/Sunda), Surati (beberapa daerah Jawa), Keppel Apple / Burahol (Inggris internasional), Kepel / Kemantan (Malaysia).
Fenomena Kauliflori: Kepel termasuk pohon cauliflorous — bunga dan buah muncul langsung dari batang atau cabang utama. Fenomena ini merupakan adaptasi ekologis untuk memudahkan akses penyerbuk dan hewan penyebar biji (kelelawar, tikus pohon, babi hutan) yang tidak dapat menjangkau buah di ujung ranting. Pohon kauliflori lain yang dikenal: durian, nangka, sukun, dan kakao. Menyaksikan gerombolan buah kepel menempel di batang besar adalah pengalaman botani yang tidak mudah dilupakan.
Lama Berbuah: Kepel memerlukan waktu 8–15 tahun dari biji sebelum mulai berbuah pertama kali — menjadikannya salah satu pohon buah paling sabar untuk dibudidayakan. Hal ini menambah nilai eksklusivitas buahnya, sekaligus menjadi tantangan utama dalam program konservasi dan budidaya massal.
Kepel, UAD, dan Nilai Khalifah fil Ardh: Kehadiran pohon kepel di kampus UAD memiliki makna berlapis. Sebagai pohon keraton Yogyakarta, kepel adalah bagian dari identitas budaya kota tempat UAD berdiri. Sebagai universitas Muhammadiyah, melestarikan tanaman langka ini sejalan dengan nilai Islam tentang khalifah fil ardh — tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi. Potensi farmakologis kepel (antifertilitas, antihiperurisemia) juga relevan dengan program studi Farmasi dan Kesehatan di UAD.
Nilai Edukasi di Kampus UAD: Pohon kepel adalah perpustakaan hidup yang sangat kaya: Botani (fenomena kauliflori, famili Annonaceae, kekerabatan dengan sirsak-srikaya-kenanga), Farmakognosi (deodoran internal, antifertilitas, antihiperurisemia, antioksidan), Etnobotani (sejarah pohon keraton, tradisi putri keraton Yogyakarta), Konservasi (spesies Vulnerable, konservasi ex-situ), dan Sejarah Sains (dokumentasi Blume dan Hooker dalam Flora Indica). Kepel bukan sekadar pohon — ia adalah jembatan antara alam, ilmu pengetahuan, dan peradaban Jawa.
