Katimaha, Timaha atau Katimahar

(Kleinhovia Hospita L.)

Nama Ilmiah yang Diakui

Kleinhovia hospita L. 1753
Diterbitkan pertama kali dalam Species Plantarum 1: 338 (1753)

Pemberi nama pertama adalah Carl Linnaeus pada tahun 1753, seorang ahli botani, zoologi, dan dokter asal Swedia yang dikenal sebagai bapak taksonomi modern serta pencetus sistem penamaan ganda (binomial nomenclature).
Nama genus Kleinhovia diberikan untuk menghormati Christoph Klein, seorang botanis Jerman, sedangkan epitet spesifik hospita berasal dari bahasa Latin yang berarti ramah atau bersahabat, merujuk pada sifat pohon ini yang sering tumbuh di sekitar permukiman manusia dan memberikan keteduhan.

Di Indonesia, tanaman ini dikenal luas dengan nama timoho, khususnya di Jawa, dan memiliki kedudukan penting dalam budaya tradisional, terutama sebagai bahan kayu untuk warangka keris. Nama lokal lainnya antara lain timaha, timo, atau tree of guest dalam literatur berbahasa Inggris.

Sinonim heterotipik:

  • Kleinhovia hospitans (L.) Spreng.

  • Hibiscus hospita L. (sinonim lama dalam literatur awal)

Klasifikasi :

Kingdom  : Plantae

Divisio      : Magnoliophyta

Class         : Magnoliopsida

Subclass   : Dilleniidae

Order        : Malvales

Family       : Malvaceae

Genus      : Kleinhovia

Species     : Kleinhovia hospita L.

Informasi Umum (Deskripi morfologis)

(Kleinhovia hospita L.) merupakan pohon hijau sepanjang tahun yang berasal dari kawasan Asia tropis, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia, dan dikenal luas dalam budaya Jawa sebagai pohon bernilai filosofis dan estetis tinggi. Di habitat alaminya, timoho dapat tumbuh mencapai ketinggian sekitar 15–25 meter, dengan tajuk rindang dan bentuk pohon yang relatif simetris.

Daunnya tunggal, bertangkai panjang, berbentuk jantung hingga membulat telur, dengan ujung meruncing dan pangkal berlekuk, berukuran sekitar 10–20 cm, berwarna hijau mengilap di permukaan atas dan lebih pucat di bagian bawah. Permukaan daun relatif halus dengan tulang daun menyirip yang jelas terlihat. Batangnya berkayu keras, berwarna cokelat keabu-abuan, dan memiliki tekstur relatif halus hingga agak kasar pada pohon tua. Sistem perakarannya berupa akar tunggang yang kuat, mendukung pertumbuhan pohon yang tinggi dan stabil.

Bunganya tersusun dalam malai di ujung ranting, berwarna merah muda hingga merah keunguan, berukuran kecil namun muncul dalam jumlah banyak sehingga tampak mencolok. Buahnya berupa buah kapsul tipis menyerupai lentera atau sayap, berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi cokelat saat tua, berisi beberapa biji kecil. Secara keseluruhan, pohon timoho dikenal tidak hanya karena morfologinya yang indah, tetapi juga karena kayunya yang bernilai budaya tinggi, khususnya dalam pembuatan warangka keris.

Informasi Etnobotani :

Sejarah

Pohon timoho (Kleinhovia hospita L.) merupakan tumbuhan asli kawasan Asia tropis, dengan sebaran alami meliputi Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga sebagian wilayah Pasifik Barat. Di Asia Tenggara, timoho telah lama ditemukan tumbuh alami di hutan dataran rendah, tepi hutan, dan kawasan permukiman tradisional, termasuk di Indonesia (terutama Jawa), Malaysia, dan Filipina. Pohon ini tumbuh baik di daerah beriklim lembap dengan curah hujan sedang hingga tinggi.

Di Indonesia, keberadaan timoho bukan hasil introduksi kolonial, melainkan telah dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat lokal sejak lama, terutama di Pulau Jawa. Sejak masa Kerajaan Jawa kuno hingga Kesultanan Mataram, timoho telah ditanam secara sengaja di lingkungan keraton, padepokan, dan rumah bangsawan. Kayu timoho memiliki nilai simbolik tinggi karena dipercaya melambangkan keteduhan, kebijaksanaan, dan kewibawaan, sehingga sering dikaitkan dengan status sosial dan spiritual.

Pemanfaatan timoho paling menonjol berkembang dalam budaya perkerisan Jawa, di mana kayunya digunakan sebagai bahan utama warangka (sarung) keris kelas tinggi. Karena nilai filosofis dan estetikanya, penanaman timoho sering dilakukan secara selektif, bahkan diwariskan antar generasi. Pada masa kolonial Hindia Belanda, timoho mulai dicatat dalam literatur botani dan dikoleksi di kebun-kebun botani sebagai tanaman lokal bernilai budaya, namun tidak dikembangkan sebagai komoditas hias komersial.

Memasuki abad ke-20 hingga sekarang, populasi timoho di alam mulai berkurang akibat alih fungsi lahan dan eksploitasi kayu. Hal ini mendorong upaya penanaman kembali dan pelestarian, baik oleh komunitas budaya, pengrajin keris, maupun institusi konservasi. Saat ini, timoho lebih dikenal sebagai pohon bernilai etnobotani dan budaya, bukan sebagai tanaman hias populer, dan keberadaannya erat dengan identitas budaya Jawa.

Manfaat

Manfaat pohon timoho meliputi penggunaan budaya, ekologis, dan pengobatan tradisional. Pohon ini dikenal luas sebagai tanaman bernilai etnobotani tinggi, terutama dalam budaya Jawa, serta berperan sebagai peneduh, tanaman lanskap, dan sumber bahan baku kayu khusus. Selain itu, beberapa bagian timoho dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional dan kegiatan sosial-budaya.

Manfaat utama

  • Pohon bernilai budaya dan simbolik
    Timoho memiliki nilai filosofis tinggi dalam budaya Jawa, melambangkan keteduhan, kewibawaan, dan kebijaksanaan. Karena makna tersebut, pohon ini sering ditanam di lingkungan keraton, padepokan, dan rumah tokoh masyarakat.
  • Peneduh dan tanaman lanskap
    Dengan tajuk yang rimbun dan pertumbuhan yang relatif cepat, timoho dimanfaatkan sebagai pohon peneduh di pekarangan, tepi jalan, dan ruang terbuka hijau. Bunganya yang berwarna merah muda hingga merah keunguan juga memberikan nilai estetika pada lanskap.
  • Bahan kayu khusus
    Kayu timoho terkenal sebagai bahan utama pembuatan warangka (sarung) keris berkualitas tinggi. Serat kayunya yang halus, kuat, dan memiliki corak alami menjadikannya bernilai tinggi dan tidak tergantikan dalam tradisi perkerisan.

Manfaat etnobotani :

  • Tanaman budaya dan adat
    Timoho erat kaitannya dengan tradisi Jawa, khususnya dalam perkerisan dan ritual budaya tertentu. Penanaman timoho sering dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk pelestarian nilai adat.
  • Tanaman lanskap tradisional
    Digunakan sebagai elemen lanskap di kawasan bersejarah, permukiman tradisional, dan lingkungan keraton karena bentuk tajuknya yang indah dan makna simboliknya.
  • Pohon pelindung
    Secara tradisional ditanam sebagai pohon pelindung pekarangan dan batas lahan, sekaligus memberikan kenyamanan mikroklimat di sekitarnya.

Manfaat lainnya

  • Pengobatan tradisional
    Beberapa bagian pohon timoho, seperti daun dan kulit batang, secara tradisional dimanfaatkan sebagai ramuan herbal untuk membantu mengatasi keluhan seperti demam, peradangan, dan gangguan pencernaan. Penggunaan ini bersifat empiris dan perlu kehati-hatian.

  • Fungsi ekologis
    Sebagai pohon peneduh, timoho membantu memperbaiki kualitas lingkungan dengan menurunkan suhu sekitar, meningkatkan kelembapan udara, dan menyediakan habitat bagi serangga serta burung.
  • Fungsi ekologis
    Sebagai pohon peneduh, timoho membantu memperbaiki kualitas lingkungan dengan menurunkan suhu sekitar, meningkatkan kelembapan udara, dan menyediakan habitat bagi serangga serta burung.

Informasi lain

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960