Timoho (Guest Tree, Taluto, Hantap Badak)
Kleinhovia hospita L.
Fam. Malvaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Kleinhovia hospita L., 1763
Diterbitkan dalam Species Plantarum, ed. 2, 2: 1365 (1763)
Nama genus Kleinhovia diberikan oleh Linnaeus untuk menghormati Jacob Theodor Klein (1685–1759), seorang naturalis dan matematikawan Jerman-Polandia. Nama spesies hospita berasal dari bahasa Latin yang berarti “tuan rumah” atau “ramah menerima tamu”, kemungkinan merujuk pada sifat pohon ini yang ramah lingkungan (tumbuh di dekat pemukiman) atau pada hubungan simbiosis yang diamati di sekitarnya.
Timoho adalah satu-satunya spesies dalam genus Kleinhovia (monotypic genus), menjadikannya unik secara taksonomi.
Sinonim heterotipik :
Kleinhovia hospita var. parvifolia Miq., 1859
Grewia microcos auct., non L. (penggunaan salah)
Clompanus hospita (L.) Kuntze, 1891
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
(sebelumnya: Sterculiaceae)
Genus : Kleinhovia
Spesies : Kleinhovia hospita, L.
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Kleinhovia hospita L., yang dikenal di Jawa dengan nama timoho atau timo, adalah pohon tropis cepat tumbuh dari famili Malvaceae (sebelumnya diklasifikasikan dalam Sterculiaceae). Pohon ini bersifat monotypic — merupakan satu-satunya spesies dalam genus Kleinhovia (Group, 2016; Royal Botanic Gardens, 2025). Di Jawa, timoho sangat dikenal dalam tradisi budaya sebagai bahan warangka keris, sekaligus sebagai pohon peneduh dan tanaman serbaguna di pekarangan.
Batang dan Percabangan:
Pohon timoho tumbuh cepat dan dapat mencapai tinggi 15–25 m dengan diameter batang 30–60 cm. Batangnya tegak, silindris, dan relatif lurus. Kulit batang berwarna abu-abu kecokelatan, bertekstur halus hingga sedikit beralur pada pohon tua. Percabangan membentuk tajuk yang lebar dan rimbun. Kayu timoho termasuk kayu ringan hingga sedang, berwarna putih kekuningan hingga cokelat muda, dengan serat yang halus dan indah — menjadikannya pilihan utama pengrajin keris Jawa untuk bahan warangka (sarung keris) (Backer & Bakhuizen van den Brink, 1965; Heyne, 1987).
Daun:
Daun timoho termasuk daun tunggal, bertangkai panjang (5–15 cm), tersusun berselang-seling (alternate). Bentuk daun bulat telur hingga jantung (cordate-ovate), berukuran besar yaitu 10–25 cm panjang dan 8–20 cm lebar. Tepi daun bergelombang atau bergerigi tidak teratur (sinuate-dentate). Ujung daun meruncing, pangkal daun berlekuk jantung (cordate). Permukaan daun bertekstur agak kasar (pubescent) di kedua sisinya, terutama pada daun muda. Tulang daun menjari (palmate) dengan 5–7 tulang utama dari pangkal, ciri khas famili Malvaceae (Backer & Bakhuizen van den Brink, 1965; Committee, 2007).
Bunga:
Bunga timoho kecil namun sangat mencolok karena tersusun dalam malai besar (large panicle) yang bercabang banyak dan menjuntai di ujung ranting. Setiap bunga memiliki 5 kelopak berwarna merah muda hingga merah cerah, berukuran 1–1,5 cm. Benang sari bersatu membentuk kolom (androphore) khas Malvaceae (Committee, 2007). Bunga bersifat biseksual. Pohon timoho yang sedang berbunga lebat menciptakan tampilan yang sangat indah dengan ribuan bunga merah muda tersebar di seluruh tajuk.
Buah:
Buah timoho sangat unik dan mudah dikenali: berupa buah kapsul berbentuk balon atau gelembung menggelembung (inflated capsule), berdinding tipis seperti kertas (papery), berukuran diameter 2–3 cm, dengan 5 ruang (locule). Ketika masak, buah berwarna merah muda pucat hingga kecokelatan. Buah tidak membuka saat masak (indehiscent) dan disebarkan oleh angin (anemochory) karena sifatnya yang ringan dan menggelembung (Committee, 2007; Royal Botanic Gardens, 2025). Setiap ruang buah mengandung 1–2 biji kecil berwarna cokelat.
Akar:
Sistem perakaran timoho menyebar luas dan dangkal hingga sedang, cocok untuk jenis pohon yang tumbuh cepat di berbagai jenis tanah (Orwa et al., 2009). Timoho adaptif terhadap tanah lembap, tanah berpasir, hingga tanah berbatu, dan tahan terhadap kondisi tanah yang tergenang sementara. Perakarannya tidak merusak infrastruktur sehingga aman untuk ditanam di area kampus dan perkotaan.
Informasi Etnobotani :
Timoho memegang tempat istimewa dalam budaya Jawa, khususnya dalam tradisi pembuatan keris — senjata pusaka sekaligus artefak budaya yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Heyne, 1987; UNESCO, 2008). Kayu timoho yang memiliki serat halus, ringan namun kuat, dan bermotif indah menjadikannya bahan warangka keris yang paling dihargai oleh para empu dan kolektor keris Jawa.
Sejarah
Kleinhovia hospita memiliki distribusi alami yang luas di kawasan tropis Asia Tenggara dan Pasifik, mencakup India, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Malaysia, Indonesia, Filipina, Papua Nugini, hingga kepulauan Pasifik (Committee, 2007; Royal Botanic Gardens, 2025). Di Indonesia, timoho tumbuh alami di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, serta secara luas dibudidayakan di pekarangan dan hutan desa di seluruh Nusantara.
Timoho dalam Tradisi Keris Jawa:
Hubungan timoho dengan kebudayaan Jawa sudah berlangsung sejak era kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara (abad ke-8–15 M). Dalam tradisi pembuatan keris, kayu timoho dikenal sebagai kayu warangka pilihan utama, khususnya untuk jenis warangka ladrang dan gayaman gaya Yogyakarta dan Surakarta. Keunikan serat kayu timoho yang kadang menampilkan motif alami menyerupai bunga atau gelombang menjadikannya bahan warangka yang sangat dihargai dan bernilai tinggi.
Dokumentasi Ilmiah Eropa:
Timoho pertama kali didokumentasikan secara ilmiah oleh naturalis Belanda yang bertugas di Hindia Belanda pada abad ke-17 dan ke-18. Georg Eberhard Rumphius (1628–1702) mencatat pohon ini dalam Herbarium Amboinense, ensiklopedia tumbuhan Maluku yang monumental. Linnaeus kemudian memberikan nama ilmiah resminya pada 1763 dalam edisi kedua Species Plantarum (Linnaeus, 1763; Rumphius, 1741).
Reklasifikasi Famili:
Secara historis, timoho ditempatkan dalam famili Sterculiaceae. Namun berdasarkan analisis filogenetik molekuler modern (Group, 2016). Famili ini digabungkan ke dalam Malvaceae sensu lato, bersama dengan famili lama seperti Tiliaceae dan Bombacaceae. Reklasifikasi ini mencerminkan hubungan evolusioner yang lebih akurat berdasarkan data genetik.
Timoho di Yogyakarta:
Di Yogyakarta, timoho memiliki akar budaya yang sangat dalam. Para pengrajin keris (empu) dan pembuat warangka di sentra kerajinan Kotagede, Imogiri, dan Bantul secara turun-temurun menggunakan kayu timoho sebagai bahan utama. Dalam konteks ini, kehadiran pohon timoho di kampus UAD Yogyakarta memiliki dimensi kultural yang kuat menghubungkan dunia akademik dengan warisan budaya adiluhung Yogyakarta.
Manfaat
Timoho merupakan pohon serbaguna yang memiliki nilai manfaat pada berbagai aspek: budaya, ekonomi, ekologis, dan medis tradisional. Hampir setiap bagian pohon ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Manfaat Utama:
Warangka Keris: Manfaat paling ikonik timoho di Jawa adalah sebagai bahan baku warangka (sarung) keris. Kayunya yang ringan, berserat halus, mudah diukir, dan menampilkan motif serat alami yang indah menjadikannya pilihan utama para empu dan pengrajin keris (Heyne, 1987; UNESCO, 2008). Timoho juga digunakan untuk membuat jejeran (pegangan) dan aksesori keris lainnya.
Kayu dan Kerajinan: Selain keris, kayu timoho digunakan untuk membuat berbagai peralatan rumah tangga, perabot ringan, mainan tradisional, dan kerajinan tangan (Heyne, 1987). Di Filipina dan Papua Nugini, kayu timoho digunakan untuk membuat perahu ringan dan peralatan nelayan.
Pohon Peneduh Cepat Tumbuh: Laju pertumbuhan timoho yang cepat dan tajuknya yang lebar menjadikannya pilihan unggulan sebagai pohon peneduh di jalur hijau, taman kampus, dan ruang terbuka hijau perkotaan (Orwa et al., 2009). Di UAD, timoho berkontribusi langsung pada kenyamanan termal lingkungan kampus.
Tanaman Pionir Rehabilitasi Lahan: Karena pertumbuhannya yang cepat dan toleransinya terhadap berbagai kondisi tanah, timoho sering digunakan sebagai tanaman pionir dalam program rehabilitasi lahan terdegradasi, penghijauan lereng, dan reklamasi lahan bekas tambang (Orwa et al., 2009).
Manfaat Etnobotani:
Pengobatan tradisional: Daun timoho dalam tradisi pengobatan masyarakat Asia Tenggara digunakan sebagai obat luka, antijamur kulit, dan penurun demam (Heyne, 1987). Di Filipina, rebusan daun timoho digunakan untuk mengobati scabies dan penyakit kulit menular.
Pakan ternak: Daun timoho yang lunak dan lebar merupakan sumber pakan alternatif untuk kambing, sapi, dan kerbau, terutama di musim kemarau ketika hijauan sulit didapat (Orwa et al., 2009).
Manfaat Lainnya:
Potensi bioaktif: Penelitian fitokimia menunjukkan daun dan kulit kayu timoho mengandung senyawa flavonoid, tanin, alkaloid, dan saponin dengan aktivitas antibakteri, antioksidan, dan antifungi yang menjanjikan untuk pengembangan obat modern.
Lebah dan penyerbuk: Bunga timoho yang berbunga lebat dan menghasilkan nektar melimpah menjadi sumber pakan penting bagi lebah madu dan serangga penyerbuk, mendukung keanekaragaman hayati di lingkungan kampus.
Informasi Lain
Status Konservasi: Least Concern (Risiko Rendah) – IUCN. Timoho tidak termasuk spesies terancam punah, namun populasi pohon timoho tua yang menghasilkan kayu warangka berkualitas tinggi semakin berkurang seiring meningkatnya permintaan dan berkurangnya lahan pekarangan tradisional (Royal Botanic Gardens, 2025).
Nama Daerah: Timoho / Timo (Jawa), Taluto (Sulawesi Utara/Gorontalo), Hantap Badak (Sunda), Bago (Tagalog/Filipina), Guest Tree / Kleinhovia (Inggris internasional).
Keunikan Taksonomi: Timoho (Kleinhovia hospita) merupakan satu-satunya spesies dalam genusnya (monotypic), menjadikannya unik secara evolusioner. Tidak ada spesies lain yang berkerabat langsung dalam genus Kleinhovia, sehingga kepunahannya akan berarti hilangnya satu garis evolusioner yang tidak tergantikan (Royal Botanic Gardens, 2025).
Buah sebagai Objek Edukasi: Buah timoho yang berbentuk menggelembung seperti balon merupakan salah satu bentuk buah kapsul paling unik dan mudah dikenali di dunia tumbuhan. Morfologi buah ini menjadi contoh ideal untuk materi pelajaran Botani dan Morfologi Tumbuhan tentang adaptasi penyebaran biji melalui angin.
Keterkaitan dengan Keris UNESCO: Mengingat keris Jawa telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan sejak 2005, pohon timoho di kampus UAD secara tidak langsung merepresentasikan hubungan antara alam, budaya, dan Pendidikan (UNESCO, 2008). Pohon ini menjadi simbol nyata pelestarian warisan budaya lokal di lingkungan akademik.
Nilai Edukasi di Kampus UAD: Timoho di kampus UAD relevan sebagai objek pembelajaran lintas disiplin Botani (morfologi buah dan bunga unik), Ekologi (peran sebagai pohon pionir dan penyedia nektar), Farmakognosi (kandungan bioaktif daun), serta Seni Budaya dan Antropologi (keterkaitan dengan tradisi keris Jawa yang merupakan warisan adiluhung Yogyakarta, kota kampus UAD berada.
Daftar Referensi :
Backer, C. A., & Bakhuizen van den Brink, R. C. (1965). Flora of Java. Volume II. N.V.P. Noordhoff.
Committee, F. of C. E. (2007). Flora of China. Volume 12 (Hippocastanaceae through Theaceae). Science Press & Missouri Botanical Garden Press.
Group, T. A. P. (2016). An update of the Angiosperm Phylogeny Group classification for the orders and families of flowering plants: APG IV. Botanical Journal of the Linnean Society, 181(1), 1–20. https://doi.org/10.1111/boj.12385
Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Litbang Kehutanan.
Linnaeus, C. (1763). Species Plantarum. Editio Secunda. Tomus II. Laurentius Salvius.
Orwa, C., Mutua, A., Kindt, R., Jamnadass, R., & Simons, A. (2009). Agroforestree Database: A Tree Reference and Selection Guide Version 4.0. World Agroforestry Centre (ICRAF).
Royal Botanic Gardens, K. (2025). Plants of the World Online: Kleinhovia hospita L. Royal Botanic Gardens, Kew. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:834186-1
Rumphius, G. E. (1741). Herbarium Amboinense.
UNESCO. (2008). Indonesian Kris. https://ich.unesco.org




