Gandaria

Bouea macrophylla Griff.

Fam. Anacardiaceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Bouea macrophylla Griffith, 1854

Nama genus Bouea didedikasikan untuk M. Boue, seorang naturalis berkebangsaan Prancis-Austria. Epitet macrophylla berasal dari bahasa Yunani makros (besar) dan phyllon (daun), merujuk pada ukuran daun gandaria yang relatif besar.

Sinonim taksonomi utama:

Bouea oppositifolia (Roxb.) Meisn.
Bouea angustifolia Blume
Bouea burmanica Griff.
Mangifera oppositifolia Roxb.
Tropidopetalum javanicum Turcz.
Matania laotica Gagnep.

Klasifikasi:

Kingdom        : Plantae
Divisi           : Spermatophyta
Sub Divisi   : Angiospermae
Kelas            : Dicotyledoneae
Sub Kelas    : Rosidae
Ordo             : Sapindales
Famili           : Anacardiaceae
Genus           : Bouea
Spesies        : Bouea macrophylla Griffith

(POWO Kew, 2024; Plantamor)

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Bouea macrophylla Griffith, yang dikenal di Indonesia dengan nama gandaria, adalah pohon buah tropis asli Nusantara dari famili Anacardiaceae (suku mangga-manggaan) — satu famili dengan mangga (Mangifera indica), jambu mete (Anacardium occidentale), dan kedondong (Spondias spp.). Gandaria merupakan flora identitas (maskot) Provinsi Jawa Barat, mendampingi macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) sebagai fauna identitas. Pohon ini juga memberikan namanya pada salah satu kawasan di Jakarta — Gandaria — mencerminkan betapa lekatnya pohon ini dengan sejarah dan budaya Betawi-Sunda. Dalam bahasa Majapahit, “ganda” berarti hujan dan “ria” berarti sering, sehingga gandaria dapat diartikan sebagai “sering hujan” — sebuah petunjuk tentang habitat alaminya yang menyukai curah hujan tinggi.

Batang dan Percabangan:

Gandaria tergolong pohon selalu hijau (evergreen) berukuran sedang hingga besar, tumbuh lambat namun berumur panjang. Tinggi pohon dewasa mencapai 10–27 m dengan diameter batang 40–60 cm. Batang berkayu keras dengan kulit batang beralur memanjang, berwarna cokelat terang hingga keabuan. Percabangan sering kali melengkung, menyiku, atau mendatar, membentuk tajuk yang membulat, rimbun, dan rindang dengan untaian daun yang berjuntai indah. Pohon ini lambat pertumbuhannya — sifat yang membuat plasma nutfahnya perlu dijaga dengan serius. Kayu gandaria cukup keras dan padat, secara tradisional digunakan sebagai papan, bahan bangunan, dan bahkan sebagai sarung keris (warangka) — menunjukkan nilainya dalam budaya Jawa sebagai kayu pusaka.

Daun:

Daun gandaria termasuk daun tunggal, tersusun berhadapan (opposite) atau hampir berhadapan di sepanjang ranting — susunan daun berhadapan ini merupakan ciri khas pembeda gandaria dari banyak anggota Anacardiaceae lain yang berdaun tersusun spiral/berseling. Bentuk daun bundar telur memanjang hingga lanset atau jorong, panjang 11–45 cm dan lebar 4–13 cm, bertangkai pendek, bertekstur seperti kulit (menjangat/coriaceous), mengkilat, tepi rata, pangkal runcing hingga membulat. Ciri sangat khas gandaria: daun muda berwarna ungu tua kemerahan yang kontras mencolok dengan daun dewasa yang hijau tua mengkilat — fenomena antosianin pada daun muda ini menjadi daya tarik ornamental tersendiri dan dapat langsung dikonsumsi sebagai lalapan saat masih muda dan segar. Tulang daun sekunder menonjol, menyirip, berjumlah 12–20 pasang. Daun mengandung flavonoid, quersetin, fenolik total, dan vitamin C dengan kadar tinggi.

Bunga:

Bunga gandaria tersusun dalam malai (panicle) yang muncul di ketiak daun atau ujung ranting, panjang ±10–20 cm. Bunga berukuran kecil (diameter ±4–5 mm), berwarna kuning kehijauan hingga putih krem, tersusun rapat dan banyak. Bunga bersifat uniseksual — ada bunga jantan dan bunga betina yang berada di pohon yang sama (monoecious) atau di pohon yang berbeda (dioecious) — ini merupakan sumber kerancuan dalam penentuan kultivar gandaria karena hanya pohon betina yang berbuah. Kelopak 4–5, mahkota 4–5, benangsari 8–10. Penyerbukan dibantu serangga (entomofili), terutama lebah dan lalat bunga.

Buah:

Buah gandaria merupakan ciri paling dikenal masyarakat: berupa drupa (buah batu) berbentuk bulat hingga bulat telur, berukuran kecil hingga sedang dengan diameter 2,5–5 cm, sangat menyerupai mangga kecil — wajar karena satu famili. Kulit buah muda berwarna hijau (sering dimakan sebagai rujak atau sambal dengan rasa asam-segar), dan berubah menjadi kuning cerah saat masak dengan rasa kecut-manis yang khas. Daging buah matang kuning, lunak, berair, beraroma harum mirip mangga muda. Setiap buah mengandung 1 biji besar berwarna putih yang diselimuti serabut halus. Biji juga mengandung senyawa aktif dengan potensi antioksidan dan dapat digunakan sebagai bioreduktor nanopartikel perak (Ag-NP) dalam aplikasi nanoteknologi antibakteri.

Akar:

Gandaria berakar tunggang dalam dengan percabangan lateral yang menyebar, memberikan stabilitas pohon yang baik. Perakaran tidak membentuk banir mencolok. Sebagai anggota Anacardiaceae, gandaria tidak bersimbiosis dengan bakteri pengikat nitrogen, namun berasosiasi dengan mikoriza yang membantu penyerapan hara di tanah tropis. Sistem perakaran yang dalam menjadikannya toleran terhadap kekeringan sedang dan cocok sebagai pohon peneduh yang stabil.

Informasi Etnobotani:

Gandaria memiliki kekayaan etnobotani yang sangat erat dengan budaya Sunda, Jawa, Betawi, Dayak, dan berbagai kelompok etnis di Nusantara. Di Jawa Barat, buah gandaria menjadi bahan utama rujak Kanistren yang disajikan dalam upacara adat Tebus Wetengan (selamatan tujuh bulan kehamilan) — menunjukkan status sakral-kulturalnya dalam tradisi Sunda. Di Kalimantan, dikenal sebagai ramania dan menjadi bahan sambal khas yang dimakan bersama lalapan, ayam, ikan, tahu-tempe, dan ikan asin. Nama-nama lokal mencerminkan distribusi budaya yang luas: Gandaria / Jatake (Jawa/Sunda), Remieu (Gayo, Aceh), Barania (Dayak Ngaju, Kalimantan), Ramania (Kalimantan Selatan), Dandoriah (Minangkabau), Wetes (Sulawesi Utara), Rapo-rapo kebo / Kalawasa (Makassar), Buwa Melawe (Bugis). Secara internasional: Marian Plum / Maprang (Thailand), Kundang / Ramania (Malaysia), Ma-praang / Somprang (Thai).

Sejarah

Bouea macrophylla merupakan tumbuhan asli kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia, dengan distribusi alami mencakup Indonesia (Sumatera, sebagian Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua), Malaysia (Semenanjung Malaya, Sabah, Sarawak), Thailand, dan Myanmar. Di Indonesia, persebaran paling luas terdapat di Pulau Ambon (Maluku) sebagai sentra produksi terbesar, serta Sumatera dan Kalimantan. Pohon ini tumbuh secara alami di hutan tropis dataran rendah hingga ketinggian 300 m dpl pada tanah yang baik drainasenya, curah hujan tinggi, dan kelembapan tinggi.

Penamaan Ilmiah oleh William Griffith (1854):

Spesies ini dideskripsikan secara ilmiah oleh William Griffith, botanis berkebangsaan Inggris yang banyak berkarya di Asia Selatan dan Asia Tenggara selama masa Hindia Timur Inggris (East India Company). Griffith menerbitkan deskripsi Bouea macrophylla dalam Notulae ad Plantas Asiaticas pada tahun 1854 — karya postumus (terbit setelah kematiannya pada 1845). Sebelum penetapan nama ini, gandaria telah mendapat berbagai nama ilmiah dari beberapa botanis berbeda — antara lain Bouea oppositifolia (Roxburgh/Meisner), Bouea burmanica (Griffith), dan Mangifera oppositifolia (Roxburgh) — yang mencerminkan adanya plastisitas morfologi besar antar kultivar sehingga menimbulkan kerancuan taksonomi yang berlangsung lama. Revisi taksonomi terakhir menetapkan bahwa nama yang sah adalah Bouea macrophylla Griffith.

Gandaria sebagai Flora Identitas Jawa Barat:

Penetapan gandaria sebagai flora identitas (maskot) Provinsi Jawa Barat merupakan pengakuan resmi pemerintah atas peran sentral pohon ini dalam ekosistem budaya dan pangan masyarakat Sunda dan Betawi. Nama “gandaria” bahkan diabadikan sebagai nama kawasan di Jakarta Selatan (Gandaria) — mencerminkan kelimpahan pohon ini di wilayah tersebut di masa lampau, sebelum urbanisasi menggerusnya. Ironisnya, meskipun menjadi flora identitas provinsi, pohon gandaria kini semakin jarang ditemukan di habitat aslinya dan bahkan di perkotaan Jakarta-Bandung.

Kerancuan Taksonomi dan Kekayaan Kultivar:

Salah satu aspek botani yang paling menarik dari gandaria adalah kerancuan taksonomi yang berkepanjangan akibat plastisitas morfologi yang sangat besar antar kultivar. Kultivar-kultivar di Kalimantan telah diidentifikasi secara lokal oleh penduduk asli dan dikenal sebagai: hintalu, ramania pipit, ramania tembaga, ramania harang — dengan perbedaan pada ukuran buah, warna kulit matang, rasa, dan intensitas keasaman. Di Asia Tenggara secara luas dikenal serangkaian nama kultivar: kundang, ramania hutan, ramania pipit, rengas, tampusu, tolok burung, serapoh, asam suku, medang asam dan banyak lagi. Identifikasi, karakterisasi, dan evaluasi formal kultivar-kultivar ini belum pernah dilakukan secara komprehensif — menjadikannya agenda penelitian botani yang mendesak untuk pelestarian plasma nutfah.

Status Konservasi Global:

Bouea macrophylla saat ini belum terdaftar dalam kategori terancam IUCN Red List secara global. Namun, mengingat penyebarannya yang semakin terbatas, populasi liar yang menyusut akibat konversi lahan, dan minimnya upaya budidaya skala komersial, status konservasi spesies ini perlu mendapat perhatian lebih serius. Di Jawa, pohon gandaria kini sudah sangat jarang ditemukan di alam dan semakin berkurang di taman-taman kota, meskipun statusnya sebagai flora identitas Jawa Barat seharusnya mendorong upaya pelestarian aktif.

Manfaat

Gandaria adalah pohon multiguna yang setiap bagiannya — buah muda, buah masak, daun muda, biji, kayu batang, dan bahkan akarnya — memiliki nilai pangan, budaya, atau farmakologis yang terdokumentasi dalam kehidupan masyarakat Nusantara.

Manfaat Utama:

Pangan dan Kuliner Tradisional:

Buah muda (hijau): Dikonsumsi sebagai bahan rujak, sambal gandaria (Jawa Barat), dan sambal ramania (Kalimantan). Rasa asamnya yang segar menjadikannya pengganti asam jawa atau cuka dalam berbagai masakan. Di Jawa Barat, buah gandaria muda adalah komponen wajib rujak Kanistren dalam upacara adat Tebus Wetengan.
Buah matang (kuning): Dimakan langsung karena rasanya kecut-manis yang menyegarkan, mirip manga muda yang matang. Dapat diolah menjadi sirup, selai, manisan, dan minuman segar.
Daun muda (ungu): Dikonsumsi sebagai lalapan segar — tradisi Sunda mengonsumsi daun muda mentah bersama sambal dan nasi. Daun gandaria muda memiliki rasa asam segar yang khas.

Antioksidan dan Kesehatan:

Penelitian fitokimia menunjukkan kandungan flavonoid, quersetin, terpenoid, tanin, saponin, fenolat, dan vitamin C yang tinggi pada berbagai bagian gandaria. Daun segar gandaria mengandung vitamin C hingga 148 mg per gram ekstrak — kadar yang sangat signifikan. Uji DPPH menunjukkan aktivitas antioksidan kuat dengan IC50 0,026 mg/mL (fraksi vakum evaporator daun). Konsumsi gandaria juga terbukti meningkatkan kadar beta-karoten dalam darah.

Antihiperlipidemia (Penurun Kolesterol):

Studi in vivo pada tikus menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah gandaria dosis 200 mg/kg mampu menurunkan kadar total kolesterol, trigliserida, dan LDL secara signifikan, serta meningkatkan HDL pada dosis 100 mg/kg. Temuan ini mengindikasikan potensi gandaria sebagai kandidat terapi hipolipidemia dan dislipidemia alami yang menjanjikan.

Pohon Peneduh dan Tanaman Hias Kota:

Tajuk gandaria yang membulat dan rimbun menjadikannya pohon peneduh yang nyaman. Keunikan estetika daun muda berwarna ungu tua yang kontras dengan daun dewasa hijau tua menjadikannya tanaman hias lansekap yang menarik — kombinasi warna hijau-ungu yang langka di antara pohon buah tropis. Pohon gandaria di lingkungan kampus menghadirkan nilai ornamental sekaligus nilai ekologis.

Nanoteknologi Antibakteri (Riset Mutakhir):

Penelitian terkini menunjukkan bahwa biji gandaria dapat digunakan sebagai bioreduktor ramah lingkungan untuk sintesis nanopartikel perak (Ag-NP) yang memiliki aktivitas antibakteri. Komposit nanopartikel perak dengan matriks tanah liat alami dan bioreduktor biji gandaria menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan. Ini merupakan salah satu contoh terdepan pemanfaatan tumbuhan lokal Indonesia dalam pengembangan material nanoteknologi generasi terbaru.

Manfaat Kayu dan Bahan Bangunan:

Kayu batang gandaria tergolong cukup keras dan padat, dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan papan dan bahan bangunan (balok, tiang). Keistimewaan khusus kayu gandaria adalah penggunaannya sebagai sarung keris (warangka) — benda pusaka tradisional Jawa — yang menunjukkan nilainya sebagai kayu pusaka yang dihormati dalam tradisi perkerisan Jawa.

Informasi Lain

Status Konservasi dan Urgensi Pelestarian:

Bouea macrophylla belum masuk dalam daftar merah IUCN secara resmi, namun kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pohon ini semakin langka di habitat alaminya — terutama di Pulau Jawa akibat tekanan alih fungsi lahan dan urbanisasi yang masif. Sebagai flora identitas Provinsi Jawa Barat, mestinya ada upaya konservasi ex-situ yang lebih serius dan terprogram. Penanaman gandaria di kampus, taman kota, dan halaman rumah merupakan tindakan konservasi nyata yang sekaligus mempertahankan plasma nutfah buah lokal asli Indonesia yang kaya nilai gizi dan budaya.

Nama Daerah dan Internasional:

Gandaria/Jatake (Jawa/Sunda), Remieu (Gayo, Aceh), Barania/Ramania (Dayak Ngaju/Kalimantan), Dandoriah (Minangkabau), Wetes (Sulawesi Utara), Rapo-rapo kebo/Kalawasa (Makassar), Buwa Melawe (Bugis). Internasional: Marian Plum / Maprang (Thailand), Kundang / Ramania / Rembunia (Malaysia), Ma-praang / Somprang (Thailand), Bouea (nama ilmiah internasional yang juga dikenal di kalangan pecinta tanaman buah eksotis).

Keunikan Daun Muda Berwarna Ungu — Fenomena Antosianin:

Salah satu keistimewaan botani paling mencolok dari gandaria adalah daun mudanya yang berwarna ungu tua kemerahan — fenomena yang disebabkan oleh akumulasi antosianin (pigmen flavonoid) pada daun yang belum matang. Antosianin berfungsi sebagai pelindung daun muda dari radiasi UV berlebih dan pemangsa serangga. Seiring pematangan, antosianin terdegradasi dan digantikan klorofil sehingga daun berubah menjadi hijau tua mengkilat. Fenomena ini menjadikan pohon gandaria memiliki tampilan visual yang unik: gradasi warna dari ungu tua (pucuk baru) hingga hijau tua (daun dewasa) dalam satu pohon — karakter ornamental yang langka.

Hubungan Kekerabatan dengan Mangga — Famili Anacardiaceae:

Kekerabatan dekat gandaria dengan mangga (Mangifera indica) terlihat jelas dari kemiripan buah, aroma, dan daging buahnya. Famili Anacardiaceae juga mencakup: jambu mete (Anacardium occidentale), kedondong (Spondias pinnata), kacang pistachio (Pistacia vera), dan sumac (Rhus spp.). Potensi pemuliaan tanaman (plant breeding) antara gandaria dan mangga atau anggota Anacardiaceae lain membuka peluang pengembangan kultivar buah tropis baru yang menarik bagi penelitian hortikultura.

Nilai Edukasi Lintas Disiplin:

Gandaria relevan sebagai objek pembelajaran lintas disiplin yang unik — Botani (daun berhadapan, fenomena antosianin daun muda, buah drupa satu biji, famili Anacardiaceae), Ekologi Budaya (flora identitas Jawa Barat, rujak Kanistren upacara Sunda, sambal ramania Kalimantan, warangka keris Jawa), Farmakognosi (flavonoid, quersetin, vitamin C 148 mg/g, antioksidan DPPH IC50 0,026 mg/mL, antihiperlipidemia), Nanoteknologi (biosintesis nanopartikel perak dari biji gandaria), serta Sejarah Linguistik (asal nama Majapahit, nama kawasan Gandaria Jakarta, plastisitas nama kultivar Nusantara). Pohon gandaria di kampus adalah representasi langsung dari kekayaan pangan lokal asli Indonesia yang terancam terlupakan di era modernisasi.

Referensi Akademik Utama:

Harsono, T. (2012). Gandaria (Bouea macrophylla Griffith): Distribusi, Taksonomi dan Pemanfaatannya di Indonesia. Blog Biologi Taksonomi Tumbuhan, Universitas Negeri Medan (UNIMED).
Harsono, T. (2017). Tinjauan Ekologi dan Etnobotani Gandaria (Bouea macrophylla Griffith). Jurnal Biosains, 3(2): 119. doi:10.24114/jbio.v3i2.7584.
Tanasale, V.L. (2011). Kajian Agronomi dan Pemanfaatan Buah Gandaria (Bouea macrophylla Griff.). Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan (Agrikan UMMU-Ternate), 4(2).
Wardani, W.V., et al. (2019). Effect of Extraction Technique on Antioxidant Capacity, Vitamin C, Total Phenol, and Total Flavonoid of Bouea macrophylla Griff Leaf. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering, 546.
Nopiana, M., et al. (2022). Karakterisasi Fraksi Aktif Antioksidan dari Biji Gandaria (Bouea macrophylla). Alchemy: Journal of Chemistry, 11(1).
Rajan, N.S., & Bhat, R. (2016). Antioxidant compounds and antioxidant activities in unripe and ripe kundang fruits (Bouea macrophylla Griffith). Fruits, 71(1): 41-47.
Bijang, C.M., et al. (2024). Antibacterial Activity Test of Silver Nanoparticle Composites with Bouea macrophylla Seed Bioreductor and Ouw Natural Clay Matrix. Jurnal Ilmiah.
Plants of the World Online (POWO). (2024). Bouea macrophylla Griffith. Royal Botanic Gardens, Kew.
Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. (2018). Mengenal Tanaman Gandaria (Bouea macrophylla Griffith). Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960