Flamboyan (Royal Poinciana, Flame Tree, Gulmohar, Pohon Semarak Api)

Delonix regia (Bojer ex Hook.) Raf.

Fam. Fabaceae

Nama Ilmiah yang Diakui
Delonix regia (Bojer ex Hook.) Raf., 1837

Nama genus Delonix berasal dari bahasa Yunani delos (mencolok/jelas terlihat) dan onyx (cakar), merujuk pada mahkota bunga yang sangat mencolok dengan petal menyerupai cakar terbuka. Epitet regia berasal dari bahasa Latin regis yang berarti “kerajaan/raja/agung” menggambarkan kemegahan bunga dan keagungan penampilannya.

Sinonim taksonomi utama:

Poinciana regia Bojer ex Hook., 1829
Caesalpinia regia (Bojer ex Hook.) D.Dietr., 1840
Delonix regia var. flavida Stehlé, 1946

Klasifikasi:

Kingdom   : Plantae
Divisi         : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas         : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Rosidae
Ordo         : Fabales
Famili       : Fabaceae
Subfamili  : Caesalpinioideae
Genus        : Delonix
Spesies       : Delonix regia (Bojer ex Hook.) Raf.

(POWO Kew, 2024; Plantamor)

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Delonix regia (Bojer ex Hook.) Raf., yang dikenal luas di Indonesia dengan nama flamboyan atau pohon semarak api, adalah pohon berbunga ikonik dari famili Fabaceae (subfamili Caesalpinioideae). Flamboyan berasal dari Madagaskar bagian utara dan barat dari hutan gugur musiman yang kering dan kini telah menyebar ke seluruh kawasan tropis dan subtropis dunia sebagai pohon hias dan peneduh. Nama genus Delonix berasal dari bahasa Yunani delos (mencolok) dan onyx (cakar), merujuk pada penampilan bunga yang sangat mencolok dengan mahkota mengembang menyerupai cakar. Flamboyan secara konsisten dinobatkan sebagai salah satu dari lima pohon berbunga paling indah di dunia, menjadikannya ikon lanskap kota tropis di lebih dari 50 negara.

Batang dan Percabangan:

Flamboyan tergolong pohon semi meranggas (semi deciduous) meranggas di kawasan dengan musim kemarau jelas, namun mempertahankan sebagian daun di daerah tropis basah. Tinggi pohon dewasa mencapai 9–15 m, namun tajuknya dapat melebar jauh melampaui tingginya, membentuk kanopi payung yang sangat lebar dengan cabang-cabang hampir horizontal. Diameter batang dewasa mencapai ±30–60 cm, dengan permukaan kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan, relatif halus. Batang tumbuh tegak dengan percabangan monopodial/simpodial membentuk tajuk lebar seperti payung terbuka. Akar flamboyan bersifat dangkal dan menyebar luas (superficial) ciri khas yang membedakannya dari Angsana atau Asem Jawa. Banir kecil setinggi ±30 cm kadang terbentuk pada pangkal batang dewasa. Kayu flamboyan ringan dan relatif lunak untuk ukuran pohonnya tidak sekuat kayu Angsana atau Asem Jawa.

Daun:

Daun flamboyan adalah daun majemuk menyirip rangkap dua (bipinnate) tingkat kerumitan daun yang lebih kompleks dibanding daun majemuk menyirip tunggal Angsana. Panjang daun majemuk 20–60 cm, tersusun berseling sepanjang ranting. Setiap daun memiliki 11–25 pasang pinnae primer, dan setiap pinna primer dibagi lagi menjadi 10–25 pasang anak daun sekunder (pinnula) berbentuk lonjong tumpul berukuran sangat kecil (±8–10 mm). Karakter daun yang amat kecil dan berlapis ganda ini menciptakan tekstur tajuk yang halus seperti bulu burung berbeda jauh dari daun besar Angsana atau daun majemuk genap Asem Jawa. Warna daun hijau muda cerah. Daun mengandung lupeol, β-sitosterol, flavonoid, dan polifenol.

Bunga:

Bunga flamboyan memiliki mahkota keindahannya yang tersusun dalam malai tandan (corymb) di ujung ranting, berdiameter 8–15 cm. Setiap bunga memiliki 5 mahkota (petal) empat berwarna merah terang hingga jingga berbentuk sendok-membulat (4–7 cm), dan satu petal lebih besar yang berdiri tegak (petal bendera/standard) berwarna putih-kuning dengan bercak merah, berfungsi sebagai pemandu serangga penyerbuk. Kelima kelopak bunga bersama membentuk tampilan “cakra api” yang sangat mencolok. Benang sari berjumlah 10, menonjol. Bunga bersifat biseksual (hermafrodit). Diameter bunga tergolong sangat besar untuk ukuran bunga pohon tropis — menjadikannya daya tarik visual utama. Saat berbunga massal, seluruh tajuk pohon berubah menjadi lautan merah-jingga yang memukau.

Buah:

Buah flamboyan berupa polong pipih berkayu panjang (woody pod/legume), berwarna coklat tua kehitaman saat masak, panjang 30–60 cm dengan lebar 4–5 cm salah satu polong terpanjang di antara pohon tropis berbunga. Polong bersifat indehiscent (tidak merekah sendiri), tergantung di pohon cukup lama setelah masak. Setiap polong berisi 20–40 biji berwarna coklat kekuningan, keras, berbentuk persegi panjang pipih berukuran ±1,5–2 cm, tertanam dalam jaringan penghubung di dalam polong. Biji mengandung senyawa galactomannan, alkaloid, dan saponin. Di Kepulauan Karibia, polong kering flamboyan secara tradisional digunakan sebagai instrumen perkusi digoyang-goyangkan untuk menghasilkan bunyi (marakas alami).

Akar:

Sistem perakaran flamboyan bersifat dangkal, melebar, dan agresif akar lateral menyebar jauh ke samping mendekati permukaan tanah. Ini merupakan karakter ekologi yang perlu diperhatikan dalam penanaman di trotoar atau dekat infrastruktur, karena akar dangkalnya dapat mengangkat dan merusak perkerasan jalan. Flamboyan bukan pengikat nitrogen (non-nodulating legume) meskipun termasuk Fabaceae, ia tidak membentuk simbiosis efektif dengan bakteri rhizobium. Toleransi terhadap tanah miskin dan kering diperoleh melalui adaptasi sistem perakarannya yang menyebar luas.

Informasi Etnobotani:

Flamboyan dikenal dengan beragam nama di seluruh dunia yang mencerminkan penyebarannya yang luas lewat jalur kolonial dan perdagangan botani abad ke-19. Di Indonesia: Flamboyan (umum), Pohon Semarak Api, Sepe (Kupang, NTT). Di tingkat internasional: Royal Poinciana (Inggris/Amerika), Flamboyant/Fleur de Paradis (Prancis), Flame Tree/Phoenix Flower (Inggris), Gulmohar (India/Hindi), Malinche (Meksiko/Amerika Tengah dinamai dari tokoh sejarah Malinche yang terkenal cantik), Árvore de Fogo (Brazil), Árbol de Fuego (Spanyol), Ohai ula (Hawaii). Dalam pengobatan tradisional India (Ayurveda), kulit batang, daun, bunga, dan biji flamboyan digunakan untuk mengobati demam, radang sendi, malaria, bronkitis, dan gangguan ginekologi.

Sejarah

Delonix regia adalah endemik asli dari hutan gugur musiman di Madagaskar bagian utara dan barat sebuah pulau dengan tingkat keanekaragaman hayati endemik yang luar biasa. Di habitat aslinya, flamboyan kini tergolong langka dan terancam akibat deforestasi dan perusakan habitat yang masif di Madagaskar. Ironisnya, di luar Madagaskar pohon ini tumbuh subur dan bahkan terinvasif di banyak kawasan tropis menjadikannya salah satu contoh paling dramatis dari spesies yang hampir punah di kampung halamannya sendiri namun berhasil eksis secara global berkat introduksi manusia.

Penemuan Ilmiah dan Penamaan Wenceslas Bojer (1829):

Flamboyan pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Wenceslas Bojer, botanis berkebangsaan Ceko-Mauritian, yang menemukannya di Madagaskar pada awal abad ke-19. Bojer menerbitkan deskripsi awal spesies ini sebagai Poinciana regia dalam Botanical Magazine terbitan W.J. Hooker pada tahun 1829. Nama Poinciana diberikan untuk menghormati Phillippe de Longvilliers de Poincy, Gubernur Kepulauan Karibia Prancis abad ke-17 yang dikenal sebagai pecinta dan kolektor tanaman tropis. Pada tahun 1837, botanis Amerika Constantine Samuel Rafinesque memindahkan spesies ini ke genus baru yang ia bentuk, Delonix, sehingga menghasilkan nama ilmiah yang berlaku hingga kini: Delonix regia (Bojer ex Hook.) Raf.

Penyebaran Global melalui Jalur Botani Kolonial:

Potensi ornamental flamboyan segera diakui oleh ahli botani Eropa, dan pada pertengahan abad ke-19 pohon ini telah dibudidayakan secara luas di koloni-koloni tropis Eropa dari Karibia, Amerika Latin, India, hingga Asia Tenggara. Flamboyan menjadi simbol keindahan tropis dalam estetika kolonial Eropa, dan penanamannya di avenue-avenue kota tropis menjadi tanda status peradaban perkotaan. Di India, ia menjadi ikon musim panas ketika berbunga berbarengan dengan Cassia fistula (Tengguli kuning), menciptakan kontras merah kuning yang dramatis. Di Thailand dan Vietnam, flamboyan dirayakan dalam festival dan puisi sebagai simbol musim berbunga.

Flamboyan di Nusantara:

Di Indonesia, flamboyan diperkenalkan pada masa kolonial Belanda dan menjadi pohon jalan ikonik di banyak kota. Nama “flamboyan” diadaptasi langsung dari bahasa Prancis flamboyant (berapi-api/menyala). Di Kupang, NTT, pohon ini mendapat nama lokal “sepe” dan menjadi bagian dari identitas kota. Flamboyan juga menjadi pohon resmi (state tree) Kepulauan Mariana Utara, Amerika Serikat, dan tumbuh melimpah di Puerto Rico, Hawaii, Florida, serta Guam.

Status Konservasi Global:

Delonix regia berstatus Endangered (Terancam Punah) di habitat aslinya di Madagaskar akibat perusakan hutan besar-besaran. Namun secara global, ia dikategorikan sebagai Least Concern (LC) dalam IUCN Red List karena populasi budidaya dan naturalisasinya sangat luas dan stabil di seluruh kawasan tropis dunia. Penanaman flamboyan di kampus dan ruang publik turut berkontribusi pada konservasi genetik spesies ini di luar habitat aslinya (ex-situ).

Manfaat

Flamboyan adalah pohon multiguna yang melampaui fungsi estetikanya. Dari segi farmakologis, hampir seluruh bagian pohon kulit batang, daun, bunga, biji, dan akar telah diteliti dan menunjukkan aktivitas biologis yang signifikan dalam riset ilmiah kontemporer.

Manfaat Utama:

Pohon Hias dan Peneduh Kota Paling Ikonik di Dunia:

Tajuk flamboyan yang berbentuk payung lebar dan bunga merah-jingga yang mencolok menjadikannya pohon ornamental terpopuler di kawasan tropis dan subtropis seluruh dunia. Ditanam secara massal di avenue-avenue kota, taman publik, kampus universitas, dan halaman rumah di lebih dari 50 negara. Saat berbunga massal (biasanya musim kemarau awal), seluruh tajuk berubah menjadi “lautan api” merah-jingga fenomena visual yang menjadi daya tarik wisata musiman di banyak kota tropis.

Antimalaria:

Kulit batang dan daun flamboyan mengandung alkaloid yang secara tradisional digunakan untuk mengobati malaria di berbagai wilayah Afrika dan Asia. Studi ilmiah mengonfirmasi aktivitas antimalaria ekstrak etanol kulit batang D. regia terhadap Plasmodium berghei pada model hewan coba, mendukung klaim pengobatan tradisional ini secara empiris.

Antiinflamasi dan Analgesik:

Senyawa lupeol, β-sitosterol, tanin, dan flavonoid yang diisolasi dari berbagai bagian flamboyan menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang signifikan melalui penghambatan mediator proinflamasi (modulasi sitokin dan kaskade inflamasi). Aktivitas analgesik (penghilang nyeri) juga terdokumentasi, mendukung penggunaannya secara tradisional untuk mengobati rematik dan radang sendi.

Antimikroba dan Antijamur:

Ekstrak berbagai bagian flamboyan (daun, bunga, kulit batang) menunjukkan aktivitas antibakteri dan antijamur terhadap berbagai patogen, termasuk Staphylococcus aureus dan beberapa spesies fungi patogen, membuka potensi pengembangan agen antimikroba berbasis tanaman.

Antioksidan:

Kandungan polifenol, flavonoid, tanin, dan karotenoid yang kaya pada bunga dan daun flamboyan menunjukkan aktivitas penangkap radikal bebas (free radical scavenging) yang kuat dalam uji DPPH, menjadikannya kandidat sumber antioksidan alami.

Hepatoprotektif (Pelindung Hati):

Ekstrak berbagai bagian flamboyan terbukti memiliki efek protektif terhadap kerusakan sel hati yang diinduksi secara kimia dalam model in vivo, menunjukkan potensi sebagai agen hepatoprotektif alami.

Manfaat Etnofarmakologi Lain:

Antidiabetik: Ekstrak daun flamboyan menunjukkan efek penurunan glukosa darah pada model mencit hiperglikemia.
Penyembuhan luka: Ekstrak topikal kulit batang dan daun digunakan secara tradisional untuk membantu penyembuhan luka.
Antiparasit/Antelmintik: Biji flamboyan secara tradisional digunakan untuk mengobati infeksi parasit cacing usus.
Demam dan gangguan pernapasan: Rebusan kulit batang digunakan untuk mengobati demam, bronkitis, dan sesak napas dalam pengobatan tradisional India (Ayurveda).
Galactomannan industri: Biji flamboyan mengandung galactomannan polisakarida yang digunakan sebagai pengental dan penstabil dalam industri pangan, farmasi, dan kertas mirip fungsi guar gum.

Instrumen Musik Tradisional:

Di Kepulauan Karibia, polong kering flamboyan secara tradisional digunakan sebagai instrumen perkusi alami digoyang untuk menghasilkan bunyi marakas, menjadikannya salah satu tumbuhan yang memiliki nilai budaya musik yang unik.

Informasi Lain

Status Konservasi — Paradoks Kepunahan Lokal dan Keberhasilan Global:

Delonix regia menghadirkan paradoks konservasi yang luar biasa: terancam punah di habitat aslinya di Madagaskar (akibat deforestasi ekstensif), namun berstatus Least Concern (LC) secara global karena populasi budidaya dan naturalisasinya sangat melimpah di seluruh kawasan tropis. Kasus ini menjadi contoh klasik tentang bagaimana eksploitasi estetika-hortikultura dapat menyelamatkan spesies dari kepunahan total meskipun memerlukan upaya konservasi in-situ yang serius di habitat aslinya.

Nama Daerah dan Internasional:

Flamboyan, Pohon Semarak Api (Indonesia umum), Sepe (Kupang, NTT). Secara internasional: Royal Poinciana (AS/Inggris), Flamboyant (Prancis/Eropa), Flame Tree/ Phoenix Flower (Inggris), Gulmohar (India), Malinche (Meksiko/Amerika Tengah), Ohai-ula (Hawaii), Árvore de Fogo (Brazil), Semarak Api (Malaysia).

Keunikan Daun Bipinnate Tekstur “Bulu Pakis”:

Daun majemuk menyirip rangkap dua (bipinnate) dengan ribuan anak daun mungil menciptakan tekstur tajuk yang sangat halus dan berbulu seperti pakis  sangat kontras dengan bunga merah menyalanya. Fitur ini, bersama dengan tajuk payung yang sangat lebar (kadang lebih lebar dari tinggi pohon), menjadikan flamboyan siluet pohon yang paling mudah dikenali bahkan dari kejauhan, terutama saat daunnya meranggas di musim kemarau dan hanya bunga merah yang tersisa sebuah tontonan botanical yang dramatis.

Fenomena Berbunga Massal Simfoni Api Musiman:

Flamboyan menunjukkan pola berbunga yang khas: berbunga massal di awal musim kemarau, seringkali tepat saat daunnya mulai gugur, sehingga seluruh tajuk didominasi bunga merah-jingga tanpa daun menciptakan pemandangan spektakuler seperti “pohon terbakar”. Di Indonesia, puncak pembungaan flamboyan sering dikaitkan dengan datangnya musim kemarau (Mei–Oktober). Fenomena ini menjadi penanda musim alami yang dikenal luas masyarakat dan menjadi objek fotografi yang sangat populer di media sosial.

Akar Dangkal Pertimbangan Teknis Penanaman:

Sistem perakaran flamboyan yang dangkal dan agresif menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan lanskap perkotaan. Akar yang menyebar luas mendekati permukaan dapat mengangkat dan merusak perkerasan trotoar, fondasi bangunan, dan pipa bawah tanah. Oleh karena itu, penanaman flamboyan di trotoar sempit atau dekat infrastruktur memerlukan perencanaan yang cermat berbeda dari Angsana yang berakar dalam atau Asem Jawa yang berakar tunggang kuat.

Nilai Edukasi Lintas Disiplin:

Flamboyan relevan sebagai objek pembelajaran lintas disiplin  Botani (daun bipinnate, bunga 5 petal asimetris, polong indehiscent terpanjang, akar dangkal non-nodulating), Ekologi dan Konservasi (paradoks kepunahan lokal/keberhasilan global, ex-situ conservation), Farmakognosi (alkaloid antimalaria, lupeol antiinflamasi, galactomannan industri), Sejarah Botani (jalur kolonial botani abad ke-19, Wenceslas Bojer, de Poincy), serta Antropologi Budaya (Malinche Meksiko, instrumen perkusi Karibia, simbol musim panas India). Pohon flamboyan di kampus menghubungkan keindahan estetika tropis dengan ilmu pengetahuan dan warisan budaya global.

Daftar Referensi:

  • Parekh, J., & Chanda, S. (2007). Phytochemicals and pharmaceutical potential of Delonix regia (Bojer ex Hook) Raf a review. Pharmacognosy Reviews.
  • Patel, J.K., et al. (2010). Physicochemical and phytochemical exploration on flower of Delonix regia. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research.
  • Singh, R., et al. (2011). Anti-inflammatory activity of Delonix regia (Boj. ex Hook). Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine, 1(6): 435–438.
  • Malik, S., et al. (2023). Utilizing the medicinal properties of Delonix regia for diseases and beyond: a review. Tropical Journal of Natural Product Research, 7(12).
  • Sharma, A., et al. (2016). Delonix regia: historic perspectives and modern phytochemical and pharmacological researches. PubMed / Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, 9(3): 215–224.
  • Hasibuan, R., et al. (2017). Antimalarial effect of flamboyant (Delonix regia) bark and papaya leaf ethanolic extracts against Plasmodium berghei in mice. Biomedical and Pharmacology Journal, 10(3).
  • Plants of the World Online (POWO). (2024). Delonix regia (Bojer ex Hook.) Raf. Royal Botanic Gardens, Kew.
    Plantamor. Delonix regia. plantamor.com/species/profile/delonix/regia
  • NTBG Tropical Plants Database. (2024). Delonix regia  species profile. National Tropical Botanical Garden, Hawaii.

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960