Bodhi

Ficus Religiosa L.

Fam. Moraceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Ficus religiosa L., 1753

Diterbitkan dalam Species Plantarum 2: 1059 oleh Carl Linnaeus (1707–1778).

Nama-Nama dalam Tradisi Buddha:

Selain “Bodhi Tree” dan “Bo Tree”, pohon ini dikenal dalam berbagai naskah Buddha kuno dengan sebutan Sri Maha Bodhi (pohon Bodhi Agung yang Mulia) dan Ashvattha/Assattha dalam bahasa Pali-Sanskerta. Nama “pipal/peepal” yang juga lazim digunakan merujuk pada nama umum spesies ini di anak benua India secara luas, terlepas dari konteks keagamaannya.

Catatan Taksonomi:

Pohon Bodhi yang berdiri di Bodh Gaya maupun Anuradhapura saat ini bukan individu asli tempat Buddha bermeditasi 2.500 tahun silam, melainkan keturunan hasil cangkokan berturut-turut dari pohon aslinya — sebuah rantai perbanyakan vegetatif berkelanjutan yang menjadikan garis keturunan genetik pohon Bodhi salah satu yang paling terdokumentasikan dalam sejarah botani dunia.

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Klad : Angiospermae

Klad : Eudikotil

Klad : Rosidae

Ordo : Rosales

Famili : Moraceae

Genus : Ficus

Subgenus : Urostigma

Spesies : Ficus religiosa, L.

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Ficus religiosa L., famili Moraceae, dikenal secara khusus dalam konteks agama Buddha sebagai pohon Bodhi atau Bo Tree — nama yang berasal dari bahasa Sinhala bo, turunan dari kata Sanskerta/Pali bodhi yang berarti “kebangkitan” atau “pencerahan”. Catatan penting: secara taksonomi, pohon Bodhi adalah spesies yang identik dengan Kalpataru (Ficus religiosa) yang telah dibahas dalam dokumen terpisah sebelumnya — perbedaan penamaan “Bodhi” dan “Kalpataru” bukan perbedaan botani, melainkan perbedaan penekanan makna: “Kalpataru” menonjolkan makna Sanskerta luas sebagai “pohon pengharapan/kehidupan” lintas tradisi Hindu-Buddha, sedangkan “Bodhi” secara spesifik merujuk pada satu peristiwa historis tunggal yang paling menentukan dalam agama Buddha: pencapaian pencerahan Siddharta Gautama di Bodh Gaya, India, sekitar abad ke-5 SM.

Batang dan Percabangan:

Pohon Bodhi dapat tumbuh hingga tinggi 30 m dengan diameter batang mencapai 3 m, membentuk tajuk lebar berbentuk kubah yang rindang dan meneduhkan — kondisi yang secara tradisi dianggap ideal untuk bermeditasi berlama-lama di bawahnya. Kulit batang berwarna abu-abu kecokelatan, dan banyak individu memulai hidup sebagai epifit sebelum akarnya menembus jaringan pohon inang dan tumbuh mandiri.

Daun:

Daun tunggal, berbentuk jantung (cordate) dengan ujung memanjang menyerupai ekor (drip tip), berukuran 10–17 cm × 8–12 cm. Dalam ikonografi dan seni Buddha, bentuk daun jantung pohon Bodhi menjadi motif yang sangat dikenal luas, kerap dipahatkan pada relief candi dan digunakan sebagai simbol kebijaksanaan serta kebangkitan spiritual. Daun muda berwarna kemerahan/tembaga, berubah hijau tua mengkilap saat dewasa.

Bunga dan Buah:

Sebagaimana anggota genus Ficus lainnya, pohon Bodhi tidak berbunga dalam pengertian umum, melainkan menghasilkan struktur syconium (buah semu/wadah bunga tertutup) yang bergantung pada penyerbukan oleh tabuhan ara (Blastophaga quadriceps) dalam hubungan mutualisme obligat. Buah masak berdiameter 1–1,5 cm, berubah dari hijau menjadi ungu kehitaman, dan menjadi sumber pakan burung serta mamalia kecil yang turut menyebarkan bijinya.

Akar:

Sistem akar pohon Bodhi luas dan kuat, mampu menopang usia yang sangat panjang. Ketahanan fisiologisnya yang luar biasa turut memungkinkan keturunan-keturunan pohon Bodhi bertahan hidup selama lebih dari dua milenium di berbagai lokasi suci, sebagaimana dibahas pada bagian Sejarah.

Informasi Etnobotani — 49 Hari Pencerahan :

Menurut tradisi Buddha, sekitar tahun 528 SM, Siddharta Gautama duduk bersila di bawah pohon Ficus religiosa di Uruvela (kini Bodh Gaya, India) dan bertekad tidak akan bangkit sebelum menemukan kebenaran hakiki. Setelah bermeditasi mendalam selama 49 hari, ia mencapai pencerahan sempurna (bodhi) dan menjadi Buddha, “Yang Tercerahkan”. Setelah pencerahan, Buddha dikisahkan menghabiskan tujuh minggu berikutnya di sekitar pohon tersebut — termasuk satu minggu penuh berdiri tanpa berkedip menatap pohon Bodhi sebagai ungkapan rasa syukur, lokasi yang kini ditandai Stupa Animeshlocha. Peristiwa pencerahan ini diperingati umat Buddha setiap tahun sebagai Hari Bodhi (8 Desember) dan menjadi salah satu dari Trisuci Waisak bersama kelahiran dan wafat (parinibbana) Buddha.

Sejarah

Pohon Bodhi asli di Bodh Gaya sempat mengalami serangkaian ancaman dan kehancuran sepanjang sejarah. Sekitar dua abad setelah pencerahan Buddha, Kaisar Ashoka (memerintah c. 268–232 SM), penguasa Kekaisaran Maurya yang menjadi pelindung utama agama Buddha, mengunjungi Bodh Gaya dan membangun pagar batu serta kompleks kuil di sekitar pohon suci tersebut — cikal bakal Kuil Mahabodhi yang kini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO. Menurut legenda, permaisuri Ashoka, Tissarakkha, yang cemburu terhadap waktu yang dihabiskan Ashoka di dekat pohon tersebut, diam-diam memerintahkan penebangannya pada tahun kesembilan belas masa pemerintahan Ashoka. Namun pohon itu tumbuh kembali, dan setiap kali mengalami kehancuran di masa-masa berikutnya, selalu ditanam kembali dari cangkokan keturunannya.

Pengiriman ke Sri Lanka oleh Sanghamitta (288 SM):

Peristiwa paling krusial dalam penyebaran pohon Bodhi terjadi pada tahun 288 SM, ketika Sanghamitta Theri, putri Kaisar Ashoka sekaligus pendiri ordo biksuni Buddha, membawa cabang selatan pohon Bodhi asli menuju Sri Lanka. Cabang tersebut kemudian ditanam oleh Raja Devanampiya Tissa di Taman Mahamewuna, Anuradhapura, dan dikenal hingga kini sebagai Jaya Sri Maha Bodhi — tumbuhan berbunga hasil tanam manusia tertua di dunia yang tercatat tanggal penanamannya secara pasti, kini berusia lebih dari 2.300 tahun. Ketika pohon asli di Bodh Gaya akhirnya musnah total, pohon pengganti yang berdiri sekarang (ditanam arkeolog Inggris Alexander Cunningham pada 1881) justru dicangkok dari keturunan pohon Sri Lanka ini — sehingga secara genetis, pohon Bodhi di Sri Lanka kini menjadi “induk” bagi pohon Bodhi di lokasi pencerahan aslinya.

Jejak Pohon Bodhi di Nusantara — Borobudur (1934):

Hubungan pohon Bodhi dengan Indonesia memiliki catatan sejarah modern yang jelas: pada tahun 1934, seorang biksu Buddha Theravada asal Colombo bernama Narada Mahathera membawa dan menanam bibit langsung keturunan Jaya Sri Maha Bodhi di sisi tenggara Candi Borobudur, Jawa Tengah, sebagai bagian dari misinya menghidupkan kembali ajaran Buddha di Indonesia. Penanaman ini menjadikan pohon Bodhi di Borobudur salah satu simbol berkelanjutan hubungan spiritual antara situs Buddha terbesar di dunia (Borobudur) dengan tempat asal-usul ajaran itu sendiri di India.

Bodhi di Lingkungan Kampus:

Penanaman pohon Bodhi di lingkungan kampus menghadirkan penghormatan terhadap salah satu peristiwa spiritual paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana edukasi lintas agama mengenai jejak panjang penyebaran ajaran Buddha dari India hingga Nusantara.

Manfaat

Sebagai pohon paling suci dalam agama Buddha, nilai utama pohon Bodhi terletak pada makna spiritual dan perannya sebagai penanda hidup sejarah keagamaan, di samping manfaat ekologis dan pengobatan tradisional yang diwarisinya sebagai anggota genus Ficus.

Manfaat Spiritual dan Ritual Buddha:

Pohon Bodhi menjadi pusat ziarah (pilgrimage) umat Buddha dari seluruh dunia, tempat dilakukannya pradakshina (berjalan mengelilingi pohon sebagai bentuk penghormatan), meditasi, serta perayaan Hari Bodhi setiap 8 Desember. Kompleks Kuil Mahabodhi di Bodh Gaya adalah satu dari empat situs ziarah utama Buddha, ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2002.

Manfaat Simbolis dalam Seni dan Ikonografi:

Bentuk daun jantung khas pohon Bodhi menjadi salah satu motif paling dikenal dalam seni Buddha di seluruh Asia, dipahatkan pada relief candi (termasuk Candi Mendut dan kawasan sekitar Borobudur di Indonesia), diukir pada naskah lontar, dan digunakan secara luas sebagai simbol kebijaksanaan serta kebangkitan spiritual dalam berbagai bentuk seni rupa Buddha.

Manfaat Ekologis:

Sebagaimana kerabat Ficus lainnya, pohon Bodhi berperan sebagai keystone species yang buahnya menopang populasi burung dan mamalia kecil di ekosistem sekitarnya, serta menjalin hubungan koevolusi erat dengan tabuhan ara penyerbuknya.

Manfaat Pengobatan Tradisional:

Bagian-bagian pohon Bodhi — daun, kulit kayu, akar, dan buah — telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional Ayurveda untuk membantu meredakan berbagai keluhan kesehatan, sejalan dengan kandungan fitokimia seperti flavonoid, tanin, dan triterpenoid yang dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan.

Informasi lain

Nama Lain:

Bodhi Tree, Bo Tree, Sri Maha Bodhi, Sacred Fig (internasional); Ashvattha/Assattha (Pali-Sanskerta); pohon Kalpataru, pohon Bodhi, pohon Pencerahan, peepal/pipal (Indonesia dan India umum).

Keunikan — Pohon Berumur Tercatat Tertua di Dunia:

Jaya Sri Maha Bodhi di Anuradhapura, Sri Lanka, tercatat sebagai tumbuhan berbunga hasil tanam manusia dengan tanggal penanaman paling pasti dan tertua di dunia — ditanam tahun 288 SM dan masih hidup hingga kini, berusia lebih dari 2.300 tahun, jauh melampaui pohon-pohon bersejarah lain yang usianya umumnya hanya diperkirakan tanpa catatan tanggal pasti.

Keunikan — Rantai Cangkokan Lintas Benua:

Pohon Bodhi di Bodh Gaya yang berdiri sekarang justru merupakan hasil cangkokan dari keturunan pohon di Sri Lanka (ditanam 1881 oleh Alexander Cunningham) — sebuah siklus unik di mana “pohon anak” yang dikirim keluar India pada 288 SM kembali menjadi sumber “pohon induk” bagi lokasi pencerahan aslinya berabad-abad kemudian, setelah pohon asli musnah berulang kali akibat bencana alam dan tindakan manusia.

Empat Situs Ziarah Utama Buddha:

Bodh Gaya, lokasi pohon Bodhi asli, adalah satu dari empat situs ziarah terpenting bagi umat Buddha di seluruh dunia (bersama Lumbini/tempat kelahiran, Sarnath/tempat kotbah pertama, dan Kushinagar/tempat wafat Buddha), dan dikunjungi peziarah dari Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Tibet, Bhutan, hingga Jepang sepanjang tahun.

Status Konservasi:

Belum masuk kategori terancam punah secara global sebagai spesies (Ficus religiosa tersebar luas dan banyak dibudidayakan). Namun, pohon-pohon Bodhi bersejarah tertentu — khususnya Jaya Sri Maha Bodhi di Anuradhapura — mendapat perlindungan hukum khusus; pemerintah Sri Lanka bahkan melarang segala jenis pembangunan dalam radius 500 meter dari situs tersebut sejak 2014 demi melestarikan pohon bersejarah ini.

Nilai Edukasi di Kampus:

Pohon Bodhi menghadirkan dimensi edukasi lintas disiplin yang mendalam: Studi Agama dan Sejarah Peradaban (peristiwa pencerahan Buddha, peran Kaisar Ashoka dan Sanghamitta dalam penyebaran Buddha, jejak Narada Mahathera di Borobudur 1934), Botani (biologi Ficus religiosa, mutualisme fig-wasp, propagasi vegetatif lintas generasi), Antropologi Budaya (ikonografi daun jantung dalam seni Buddha Asia), serta Konservasi Warisan Budaya (perlindungan situs Warisan Dunia UNESCO). Pohon Bodhi adalah pengingat hidup akan salah satu momen paling transformatif dalam sejarah spiritual manusia, sekaligus jembatan sejarah yang menghubungkan India kuno dengan Nusantara melalui Borobudur.

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960