Ara Suci atau Bodhi

(Ficus Religiosa L.)

Nama Ilmiah yang Diakui

Ficus religiosa L. 1753
Diterbitkan pertama kali dalam Species Plantarum 2: 1059 (1753)

Pemberi nama pertama adalah Carl Linnaeus pada tahun 1753, seorang ahli botani asal Swedia yang dikenal sebagai bapak taksonomi modern dan pencetus sistem penamaan binomial. Nama spesifik religiosa berasal dari bahasa Latin yang berarti bersifat suci atau keagamaan, merujuk pada kedudukan pohon ini yang sangat sakral dalam berbagai tradisi keagamaan, terutama Buddhisme dan Hindu.

Pohon bodhi dikenal secara luas sebagai tempat Siddhartha Gautama mencapai pencerahan dan menjadi Buddha, sehingga memiliki makna spiritual yang sangat tinggi. Dalam bahasa Inggris, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama umum seperti sacred fig, Bodhi tree, peepal tree, atau Bo tree.

Sinonim heterotipik:

  • Ficus peepul Griff.

  • Ficus religiosa var. cordata (Miq.)

  • Urostigma religiosum (L.) Gasp.

Klasifikasi :

Kingdom  : Plantae

Divisio      : Magnoliophyta

Class         : Magnoliopsida

Subclass   : Hamamelidae

Order        : Urticales

Family       : Moraceae

Genus      : Ficus

Species     : Ficus religiosa L.

Informasi Umum (Deskripsi morfologis)

Pohon bodhi (Ficus religiosa L.) adalah pohon besar hijau abadi hingga semi-gugur yang berasal dari kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara, terutama India, Nepal, Sri Lanka, serta wilayah Indochina. Pohon ini dapat tumbuh sangat tinggi dan kokoh, dengan ketinggian mencapai 20–30 m, bahkan lebih pada kondisi lingkungan yang optimal, serta memiliki tajuk yang lebar dan rindang.

Daunnya tunggal, bertangkai panjang dan ramping, berbentuk jantung (cordata) dengan ujung daun memanjang dan meruncing tajam (drip tip) yang khas; ukuran daun berkisar 10–17 cm, berwarna hijau cerah hingga hijau tua dengan permukaan halus dan urat daun menyirip yang jelas. Batangnya berkayu keras, berwarna abu-abu kecokelatan, bertekstur relatif halus pada pohon muda dan menjadi lebih kasar seiring bertambahnya usia. Saat dilukai, batang mengeluarkan getah putih (lateks). Sistem perakarannya kuat, berupa akar tunggang yang berkembang luas dan sering membentuk akar lateral besar.

Buahnya berupa buah ara kecil berbentuk bulat hingga agak lonjong, berdiameter sekitar 1–1,5 cm, tumbuh berpasangan pada ketiak daun, berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi ungu kehitaman ketika masak. Buah ini termasuk buah semu bertipe periuk (hypanthodium). Bunga pohon bodhi tidak tampak dari luar; bunga jantan dan betina berukuran sangat kecil terdapat di bagian dalam buah, sehingga untuk melihat bunganya buah harus dibelah.

Informasi Etnobotani :

Sejarah

Pohon bodhi (Ficus religiosa L.) merupakan tumbuhan asli Asia Selatan dan Asia Tenggara, dengan pusat sebaran alami di wilayah India, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, serta meluas ke Myanmar, Thailand, dan Indochina. Spesies ini tumbuh alami di hutan dataran rendah hingga perbukitan, tepi sungai, serta kawasan terbuka dengan iklim tropis hingga subtropis yang hangat.

Sejak ribuan tahun lalu, pohon bodhi telah memiliki peran sejarah dan spiritual yang sangat penting. Dalam tradisi Buddhisme, pohon ini dikenal sebagai tempat Siddhartha Gautama mencapai pencerahan di Bodh Gaya, India, sekitar abad ke-6 SM. Karena peristiwa tersebut, pohon bodhi kemudian ditanam secara luas di sekitar vihara, tempat ibadah, dan pusat pembelajaran agama Buddha. Dalam tradisi Hindu, pohon ini juga dianggap suci dan sering dikaitkan dengan pemujaan terhadap dewa-dewi tertentu.

Penyebaran pohon bodhi ke berbagai wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara dan Nusantara, tidak melalui jalur perdagangan tanaman hias, melainkan melalui penyebaran agama dan budaya. Seiring berkembangnya Hindu–Buddha di Asia Tenggara sejak awal milenium pertama Masehi, pohon bodhi mulai ditanam di lingkungan candi, pusat kerajaan, dan kawasan permukiman. Di Indonesia, keberadaan pohon bodhi telah dikenal sejak masa kerajaan Hindu–Buddha, terutama di Jawa dan Sumatra, sebagai bagian dari lanskap religius dan simbol kesucian.

Pada masa kolonial, pohon bodhi mulai dicatat secara ilmiah dan dikoleksi dalam kebun raya dan herbarium sebagai spesies penting dari genus Ficus, namun tetap dipertahankan utamanya sebagai pohon sakral dan peneduh, bukan sebagai komoditas tanaman hias komersial. Hingga saat ini, pohon bodhi tetap ditanam dan dilestarikan terutama karena nilai sejarah, keagamaan, dan budayanya, serta perannya sebagai pohon peneduh besar di ruang terbuka dan kawasan suci.

Manfaat

Manfaat pohon bodhi mencakup aspek religius, ekologis, sosial, dan kesehatan tradisional. Pohon ini dikenal luas sebagai simbol spiritual, pohon peneduh, serta tanaman yang memiliki nilai etnobotani tinggi. Selain itu, beberapa bagian pohon bodhi dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional dan pelestarian lingkungan.

Manfaat utama

  • Pohon simbol religius dan budaya
    Pohon bodhi memiliki makna spiritual yang sangat penting, terutama dalam Buddhisme sebagai simbol pencerahan, kebijaksanaan, dan ketenangan batin. Karena itu, pohon ini banyak ditanam di lingkungan vihara, candi, dan tempat ibadah.
  • Peneduh dan pengatur mikroklimat
    Dengan tajuk yang lebar dan perakaran kuat, pohon bodhi berfungsi sebagai pohon peneduh alami di ruang terbuka, halaman luas, dan kawasan publik. Keberadaannya membantu menurunkan suhu lingkungan dan meningkatkan kenyamanan mikroklimat.
  • Pelestarian lingkungan
    Sebagai pohon besar berumur panjang, bodhi berperan dalam konservasi tanah dan air, mencegah erosi, serta menyediakan habitat bagi burung, serangga, dan organisme lain.

Manfaat etnobotani :

  • Tanaman sakral
    Dalam tradisi Asia Selatan dan Asia Tenggara, pohon bodhi dipelihara sebagai tanaman suci yang berkaitan dengan ritual keagamaan dan meditasi.
  • Tanaman lanskap
    Digunakan sebagai elemen lanskap di kawasan bersejarah, taman kota, dan lingkungan religius karena bentuk tajuknya yang indah dan rindang.
  • Pohon pelindung
    Secara tradisional ditanam sebagai pohon pelindung di pekarangan luas, tepi jalan, dan kawasan publik, memberikan keteduhan serta perlindungan dari panas matahari.

Manfaat lainnya

  • Pengobatan tradisional
    Berbagai bagian pohon bodhi, seperti daun, kulit batang, akar, dan getah, digunakan dalam pengobatan tradisional (Ayurveda dan pengobatan lokal) untuk membantu mengatasi gangguan pencernaan, peradangan, penyakit kulit, dan keluhan pernapasan. Pemanfaatan ini bersifat tradisional dan perlu kehati-hatian.
  • Manfaat ekologis lanjutan
    Akar dan tajuknya membantu memperbaiki struktur tanah, menyerap air hujan, serta berkontribusi dalam penyerapan karbon dioksida.
  • Kualitas hidup dan kesejahteraan
    Keberadaan pohon bodhi di lingkungan sekitar menciptakan suasana teduh dan tenang, mendukung aktivitas meditasi, refleksi, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara fisik dan mental.

Informasi lain

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960