Angsana

(Narra, Burmese Rosewood, Malay Padauk, Sonokembang)

Pterocarpus indicus Willd.

Fam. Fabaceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Pterocarpus indicus Willd., 1802

Nama genus Pterocarpus pertama kali digunakan oleh Carl Linnaeus (1753), berasal dari bahasa Yunani pteron (sayap) dan karpos (buah), merujuk pada buah bersayapnya yang khas. Epitet indicus merujuk pada asal distribusinya di kawasan India Timur (Hindia).

Sinonim heterotipik:

Pterocarpus echinatus Pers., 1807

Pterocarpus flavus Lour., 1790

Pterocarpus zollingeri Miq.

Lingoum indicum (Willd.) Kuntze, 1891

Klasifikasi :

Kingdom     : Plantae

Divisi             : Spermatophyta

Sub Divisi    : Angiospermae

Kelas             :  Dicotyledoneae

Sub Kelas    : Dialypetalae

Ordo             :  Fabales

Famili           :  Fabaceae

Genus           :  Pterocarpus

Spesies         : Pterocarpus indicus Willd.

(POWO Kew, 2024; Plantamor)

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Pterocarpus indicus Willd., yang dikenal luas di Indonesia dengan nama angsana atau sonokembang, adalah pohon peneduh besar dari famili Fabaceae (suku polong-polongan, subfamili Faboideae/Papilionaceae). Pohon ini tersebar luas di Asia Tenggara, Australasia bagian utara, dan kepulauan Pasifik Barat. Angsana dikenal sebagai pohon peneduh jalan ikonik di banyak kota tropis, sekaligus penghasil kayu mewah bernilai tinggi yang dijuluki “kayu darah naga” karena getahnya yang merah pekat.

Batang dan Percabangan:

Pohon angsana tergolong pohon meranggas (deciduous) berukuran besar, dapat tumbuh setinggi 10–40 m dengan diameter batang lebih dari 2 m. Bentuk batang umumnya tidak lurus sempurna pendek, terpuntir, dan beralur dalam serta sering dilengkapi akar papan (banir) yang menonjol menyerupai dinding penopang di bagian pangkal batang. Kulit batang berwarna abu-abu kecoklatan. Ciri khas angsana adalah eksudat (getah) berwarna merah gelap yang disebut “kino” atau darah naga, yang keluar bila kulit kayu dilukai. Kayu angsana berwarna kemerahan, cukup keras dan berat, tergolong kayu bernilai ekonomi tinggi kelas dunia. Batang mengandung senyawa fenolik seperti formononetin, isoliquiritigenin, hydroxy hydratropic acid, dan aryl benzofuran.

Daun:

Daun angsana termasuk daun majemuk menyirip gasal (imparipinnate), tersusun berseling, dengan 5–13 anak daun per tangkai. Anak daun berbentuk bulat telur memanjang (ovate-oblong), berbulu halus, dengan ujung meruncing hingga tumpul dan permukaan mengkilat. Panjang anak daun berkisar 4–10 cm dengan lebar 2,5–5 cm, bertangkai pendek 0,5–1,5 cm. Panjang keseluruhan daun majemuk sekitar 12–22 cm. Daun mengandung senyawa loliolide dan berbagai metabolit fenolik lainnya.

Bunga:

Bunga angsana tersusun dalam malai (panicle/tandan) yang muncul di ujung ranting atau ketiak daun, sedikit atau tidak bercabang, dan berambut coklat. Bunga berwarna kuning cerah hingga jingga-kuning, berbentuk khas bunga kupu-kupu (tipe polong-polongan) dengan mahkota “bendera dan lunas” (banner and keel), sangat harum. Kelopak bunga sekitar 5–6 mm, berbulu; mahkota bunga sekitar 16–18 mm. Angsana berbunga secara serentak dan lebat namun berumur pendek, menciptakan pemandangan tajuk kuning keemasan yang mencolok salah satu fenomena berbunga tropis paling dramatis.

Buah:

Buah angsana sangat khas: berupa polong bersayap (samara) berbentuk cakram pipih menyerupai piring terbang, tidak merekah (indehiscent), berdiameter 4–6,6 cm. Bagian tengah buah yang membungkus biji berdiameter 2–3 cm dan tebal 5–8 mm, dikelilingi sayap tipis selebar 1–2,5 cm yang memungkinkan buah terbawa angin (anemokori) sesuai makna nama ilmiahnya, “pteron” (sayap) dan “karpos” (buah) dalam bahasa Yunani. Buah berwarna coklat muda, berambut, dengan 1 biji (kadang 2–6 bakal biji, namun umumnya hanya satu yang berkembang).

Akar:

Angsana memiliki akar papan (buttress root/banir) yang menjorok dan menonjol menyerupai dinding penopang pada pangkal batang adaptasi struktural yang umum pada pohon besar hutan tropis. Sebagai anggota famili Fabaceae, akar angsana bersimbiosis dengan bakteri rhizobium pengikat nitrogen, menjadikan spesies ini bermanfaat untuk perbaikan kesuburan tanah dan sistem agroforestri.

Informasi Etnobotani:

Angsana memiliki tempat istimewa dalam pengobatan tradisional Nusantara dan Asia Tenggara. Getah merah (kino) secara tradisional digunakan untuk mengobati sariawan, diare (mencret), bisul, dan luka di mulut. Air rendaman daun digunakan sebagai sampo tradisional. Di berbagai daerah Indonesia, angsana memiliki banyak nama lokal: Asan (Aceh), Lala/Lalan (Ambon), Sena/Sona/Hasona (Batak), Sana Kembang (Jawa/Madura), Asana/Langsano (Minang), Linggua (Maluku), dan Ligua (Ternate/Tidore/Halmahera) mencerminkan penyebaran budaya yang luas di seluruh kepulauan Indonesia.

Sejarah

Pterocarpus indicus memiliki distribusi alami yang luas di Asia tropis dan Pasifik Barat, mencakup Kamboja, Tiongkok bagian selatan, Timor Leste, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Ryukyu, Kepulauan Solomon, Thailand, dan Vietnam, dengan populasi introduksi yang meluas hingga India, Andaman, dan beberapa negara Afrika serta Pasifik seperti Kepulauan Society. Pohon ini tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian 750–1.300 m, terutama di hutan primer dan sekunder di sepanjang aliran sungai pasang surut dan pantai berbatu.

Penamaan Ilmiah oleh Linnaeus:

Genus Pterocarpus pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus, ahli botani Swedia, pada tahun 1753 dalam Species Plantarum. Nama spesies Pterocarpus indicus secara resmi divalidasi oleh Carl Ludwig Willdenow pada tahun 1802, ahli botani Jerman yang banyak merevisi dan memperluas karya taksonomi Linnaeus.

Angsana dalam Sejarah Kolonial dan Perdagangan Kayu:

Kayu angsana — dikenal secara internasional sebagai Amboyna wood (merujuk pada Ambon, Maluku) — telah diperdagangkan sejak era kolonial sebagai salah satu kayu paling berharga di dunia untuk furnitur mewah, veneer, dan alat musik. Burl (bonggol batang) angsana sangat dicari karena pola serat uniknya. Kayu ini juga dikenal dengan berbagai nama dagang seperti Malay padauk, Papua New Guinea rosewood, Philippine mahogany, Andaman redwood, dan Burmese rosewood.

Narra Pohon Nasional Filipina:

Di Filipina, angsana dikenal sebagai narra (dari bahasa Tagalog) dan ditetapkan sebagai pohon nasional Filipina. Pohon ini juga menjadi pohon provinsi Chonburi dan Phuket di Thailand, menunjukkan signifikansi budayanya di seluruh Asia Tenggara.

Status Konservasi Global:

Akibat eksploitasi kayu yang intensif selama beberapa dekade untuk memenuhi permintaan pasar kayu mewah global, Pterocarpus indicus dikategorikan sebagai Vulnerable (Rentan) dalam IUCN Red List sejak 1998, menjadikan konservasi populasi liarnya sebagai perhatian penting bagi pengelolaan hutan tropis Indo-Pasifik.

Manfaat

Manfaat ketapang biola ini adalah sebagai tanaman hias dekoratif, pembersih udara, dan peneduh. Selain itu, bagian tanaman ini dapat digunakan dalam pengobatan tradisional untuk diare dan kecemasan, serta memiliki potensi untuk aplikasi lain seperti pewarna alami.

Manfaat utama

  • Tanaman hias dekoratif: Cocok untuk mempercantik interior rumah, kantor, restoran, atau hotel, karena bentuk daunnya yang unik dan ukurannya yang dapat disesuaikan.
  • Pembersih udara: Daunnya yang lebar dapat membantu membersihkan udara dengan menyerap polutan seperti formaldehida dan dioksin, sehingga membuat udara lebih bersih.
  • Peneduh: Ketapang biola juga dapat memberikan keteduhan, terutama jika ditanam di luar ruangan dan dibiarkan tumbuh besar.

Manfaat etnobotani :

  • Tanaman hias : Populer sebagai tanaman hias interior karena dedaunannya yang besar dan unik, serta dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan pembelajaran.
  • Tanaman lanskap : Digunakan sebagai peneduh dan titik fokus dalam lanskap karena bentuk tajuknya yang indah.
  • Pohon pelindung : Digunakan sebagai pohon pelindung atau tanaman tepi jalan.

Manfaat lainnya

  • Pengobatan tradisional: Beberapa bagian tanaman ini secara tradisional digunakan untuk membantu mengobati diare, kecemasan, dan masalah kesehatan lainnya, seperti yang disebutkan dalam Haibundadan Socfindo Conservation. Namun, penggunaan dalam pengobatan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan.
  • Pewarna alami: Daun ketapang biola memiliki potensi untuk digunakan sebagai sumber pewarna alami, seperti yang dilaporkan dalam Open Library Telkom University.
  • Kualitas hidup: Keberadaan tanaman di dalam ruangan dapat meningkatkan kualitas hidup, menciptakan suasana yang lebih segar, dan membantu mengurangi stres,

Informasi lain

Status Konservasi:

Vulnerable (Rentan) – IUCN Red List sejak 1998. Berbeda dengan banyak pohon peneduh lain, angsana menghadapi tekanan konservasi nyata akibat eksploitasi kayu berlebihan untuk memenuhi permintaan pasar kayu mewah internasional. Populasi liar di hutan primer terus menyusut, sehingga penanaman angsana di ruang publik dan kampus turut berkontribusi pada pelestarian genetik spesies ini di luar habitat alaminya (konservasi ex-situ).

Nama Daerah dan Internasional:

Angsana, Sonokembang (Jawa/Madura), Asan (Aceh), Lala/Lalan (Ambon), Sena/Hasona (Batak), Asana/Langsano (Minang), Linggua (Maluku), Ligua (Ternate/Tidore). Secara internasional dikenal sebagai Narra (Filipina — pohon nasional), Amboyna Wood, Malay Padauk, Burmese Rosewood, Papua New Guinea Rosewood, Philippine Mahogany, dan Andaman Redwood.

Keunikan Buah Bersayap (Samara):

Buah angsana berbentuk cakram bersayap merupakan salah satu adaptasi penyebaran biji melalui angin (anemokori) paling khas di dunia tumbuhan famili Fabaceae. Bentuknya yang menyerupai piring terbang menjadikannya contoh morfologi buah yang sangat menarik untuk materi pembelajaran biologi dispersal biji.

Fenomena Berbunga Serentak:

Angsana menunjukkan pola berbunga massal serentak namun berumur sangat pendek (biasanya hanya beberapa hari), sering dipicu oleh perubahan suhu atau curah hujan mendadak setelah periode kering. Fenomena ini menjadikan momen berbunga angsana sebagai daya tarik visual musiman yang dinantikan di banyak kota tropis.

Nilai Edukasi Lintas Disiplin:

Angsana relevan sebagai objek pembelajaran lintas disiplin — Botani (morfologi buah bersayap, akar papan/banir), Ekologi dan Konservasi (status Vulnerable IUCN, agroforestri, fiksasi nitrogen), Farmakognosi (getah kino, kandungan flavonoid dan aktivitas antioksidan), serta Sejarah dan Antropologi Ekonomi (perdagangan kayu Amboyna era kolonial, signifikansi budaya sebagai pohon nasional Filipina). Pohon angsana di lingkungan kampus menghubungkan pembelajaran botani dengan isu konservasi kayu tropis yang mendesak.

Daftar Referensi:

  • Barstow, M. (2018). Pterocarpus indicus. IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T33241A2835450.
  • (2010). Angsana (Pterocarpus indicus Willd.). Kajian morfologi dan taksonomi.
  • Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar. (2024). Pohon Angsana (Pterocarpus indicus).
  • (2015). Kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan dari daun Pterocarpus indicus Willd. Prosiding Seminar Nasional Kimia Indonesia.
  • Nurmila, N., Sinay, H., & Watuguly, T. (2019). Identifikasi dan analisis kadar flavonoid ekstrak getah angsana (Pterocarpus indicus Willd). Biopendix: Jurnal Biologi, Pendidikan dan Terapan, 5(2), 65–71.
  • Plants of the World Online (POWO). (2024). Pterocarpus indicus Willd. Royal Botanic Gardens, Kew.
  • Purdue University Center for New Crops and Plant Products. Pterocarpus indicus.
  • Taman Digital Fakultas Pertanian Unand. Angsana (Pterocarpus indicus Willd).
  • Tropical Plants Database, NTBG. Pterocarpus indicus — species profile.

Wikipedia bahasa Indonesia. Angsana (Pterocarpus indicus).

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960