Rambutan

(Hairy Fruit)

Nephelium lappaceum L.

Fam. Sapindaceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Nephelium lappaceum L.

Pertama kali dipublikasikan dalam Mantissa Plantarum 1: 125 (1767).

Sinonim heterotipik (di antaranya):

Dimocarpus crinitus Lour.

Euphoria nephelium DC.

Nephelium glabrum Noronha

Nephelium pallens Radlk.

Scytalia rimosa Roxb. (GBIF Backbone Taxonomy, 2024).

Kedudukan dalam Genus Nephelium:

Genus Nephelium beranggotakan 22 spesies yang tersebar dari Indocina hingga Malesia bagian barat. Meski secara alami tidak native di Papua Nugini, N. lappaceum kini dibudidayakan secara luas di sana sebagai tanaman buah dan komoditas ekonomi.

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Klad : Tracheophyta – Angiospermae – Eudikotil – Rosidae

Ordo : Sapindales

Famili : Sapindaceae

Genus : Nephelium

Spesies : Nephelium lappaceum L.

(GBIF Backbone Taxonomy, 2024)

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Nephelium lappaceum L. (rambutan) merupakan tanaman buah tropis indigenous Asia Tenggara yang tergolong dalam famili Sapindaceae. Secara etimologis, penamaan “rambutan” diturunkan dari kata “rambut” dalam bahasa Melayu, yang mengacu pada struktur spinterna (duri lunak) pada eksokarp buahnya (Nawi et al., 2025). Secara taksonomi, spesies ini memiliki kekerabatan dekat dengan Litchi chinensis (leci), Dimocarpus longan (kelengkeng), dan Melicoccus bijugatus (mamoncillo) (GBIF Backbone Taxonomy, 2024).

Batang dan Tajuk:

Nephelium lappaceum merupakan pohon pohon hijau abadi berukuran sedang hingga besar yang dapat mencapai tinggi tajuk 18 m. Morfologi tajuk spesies ini tergolong padat, membulat, dan menyebar rendah, dengan pola dedaunan berwarna hijau kusam (Nawi et al., 2025).

Buah:

Buah N. lappaceum berbentuk bulat (spherical) hingga oval, dengan eksokarp coriaceus (serupa kulit jangat) yang tertutup oleh spinterna (duri lunak) yang lentur (Nawi et al., 2025). Warna eksokarp mengalami pematangan dari hijau hingga merah cerah atau kuning, tergantung varietasnya. Bagian yang terkonsumsi merupakan arilus berwarna putih translusen yang menyelimuti biji tunggal di bagian tengah.

Perikarp (Kulit) sebagai Sumber Fitokimia:

Perikarp Nephelium lappaceum diketahui kaya akan senyawa fenolik. Studi oleh Palanisamy et al. (2008) mengonfirmasi bahwa kulit buah rambutan merupakan sumber antioksidan alami yang potensial. Selanjutnya, melalui analisis kromatografi kolom dan high-performance liquid chromatography (HPLC), Thitilertdecha et al. (2010) berhasil mengisolasi serta mengidentifikasi tiga senyawa fenolik utama pada perikarp tersebut, yaitu asam elagat, korilagin, dan geraniin.

Biji:

Biji N. lappaceum kaya akan makronutrien (lemak, protein, karbohidrat, dan serat) serta senyawa fenolik, sehingga memiliki prospek pemanfaatan yang luas dalam industri pangan, farmasi, maupun kosmetik.

Informasi Etnobotani:

Secara etnobotani, N. lappaceum telah dimanfaatkan dalam sistem pengobatan tradisional selama berabad-abad, terutama sebagai agen profilaksis untuk manajemen diabetes melitus dan hipertensi.

Sejarah

Pusat keanekaragaman dan asal-usul N. lappaceum mencakup kawasan Semenanjung Malaya, Kalimantan (termasuk Sabah dan Sarawak), Sumatra, serta Thailand. Spesies ini kemudian mengalami domestikasi dan introduksi secara luas di Singapura, Filipina, dan Sri Lanka.

Komoditas Buah Terpopuler di Asia:

Rambutan tergolong salah satu buah paling populer di kawasan Timur, menempati posisi tiga besar buah dengan permintaan tertinggi setelah durian dan manggis. Menariknya, Nephelium lappaceum merupakan satu-satunya spesies dalam famili Sapindaceae dengan volume produksi panen tertinggi di antara seluruh kerabatnya (tinjauan taksonomi Nephelium lappaceum, dalam Nawi et al., 2025).

Riset Fitokimia Kulit Buah:

Eksplorasi ilmiah terhadap konstituen bioaktif perikarp N. lappaceum mengalami eskalasi pesat sejak akhir dekade 2000-an. Studi rintisan oleh Palanisamy et al. (2008) berhasil mengonfirmasi potensi antioksidan alami pada perikarp tersebut, yang kemudian dilanjutkan oleh Thitilertdecha et al. (2010) melalui karakterisasi dan identifikasi senyawa fenolik utamanya.

Perkembangan Riset Antidiabetes:

Evaluasi terhadap potensi antidiabetes perikarp N. lappaceum mengalami perkembangan signifikan sejak pertengahan dekade 2010-an. Muhtadi et al. (2015) mengonfirmasi efek hipoglikemik ekstrak perikarp rambutan dan durian secara in vivo pada model tikus terinduksi aloksan. Pada periode yang sama, Widowati et al. (2015) membuktikan mekanisme antidiabetes tersebut secara in vitro melalui penghambatan aktivitas enzim alpha-glukosidase dan beta-glukosidase.

Studi Genomik Kontemporer:

Studi genomik terkini oleh Liu et al. (2021) berhasil melakukan sekuensing genom kloroplas lengkap N. lappaceum. Analisis filogenetik komparatif dalam famili Sapindaceae tersebut mengungkapkan bahwa N. lappaceum memiliki kekerabatan evolusioner yang erat dengan Pometia tomentosa, sehingga menyediakan landasan molekuler penting bagi program pemuliaan dan konstruksi taksonomi spesies di masa depan.

Rambutan di Yogyakarta:

Sebagai salah satu koleksi dalam Pustaka Hijau Hutan Kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, keberadaan N. lappaceum merepresentasikan contoh konkret spesimen pohon buah tropis yang memiliki signifikansi ilmiah tinggi. Kehadirannya tidak hanya mendukung perkembangan riset farmakognosi pada perikarp buah, tetapi juga berperan sebagai media edukasi mengenai valoisasi limbah agroindustri menjadi sumber bahan bioaktif fungsional.

Manfaat

Berdasarkan kompilasi literatur ilmiah, N. lappaceum menunjukkan spektrum aktivitas nutrisional dan farmakologis yang luas. Potensi terbesar ditemukan pada bagian perikarp (kulit buah) yang selama ini dikategorikan sebagai limbah agroindustri, tetapi terbukti kaya akan metabolit sekunder bioaktif.

Manfaat Pangan:

Bagian edibel (arillus) N. lappaceum yang memiliki cita rasa manis umumnya dikonsumsi secara langsung sebagai buah segar dan merupakan salah satu komoditas hortikultura tropis dengan tingkat permintaan pasar domestik maupun regional yang tinggi di Asia Tenggara.

Manfaat Etnobotani (Berdasarkan Tinjauan Ilmiah):

Secara etnobotani, N. lappaceum telah dimanfaatkan dalam sistem pengobatan tradisional secara turun-temurun sebagai agen profilaksis untuk manajemen diabetes mellitus dan hipertensi.

Manfaat Farmakologis Terverifikasi Ilmiah:

Aktivitas antioksidan: Ekstrak perikarp N. lappaceum terbukti menunjukkan kapasitas antioksidan alami yang signifikan secara in vitro (Palanisamy et al., 2008). Lebih lanjut, ekstrak metanol perikarp N. lappaceum dilaporkan memiliki aktivitas penangkap radikal bebas yang lebih unggul dibandingkan butylated hydroxytoluene (BHT) sebagai kontrol positif sintetis (Monrroy et al., 2020).

Aktivitas antidiabetes: Efek hipoglikemik ekstrak perikarp N. lappaceum terbukti secara in vivo dalam menurunkan kadar glukosa darah pada model tikus terinduksi aloksan (Muhtadi et al., 2015). Secara mekanistis, efikasi ini didukung oleh pengujian in vitro yang menunjukkan bahwa ekstrak perikarp efektif menginhibisi aktivitas enzim alpha dan beta glukosidase, yaitu enzim kunci yang berperan dalam hidrolisis karbohidrat dan regulasi hiperglikemia pascaprandial (Widowati et al., 2015).

Senyawa fenolik teridentifikasi: Karakterisasi fitokimia pada perikarp N. lappaceum berhasil mengisolasi tiga senyawa fenolik utama, yaitu asam elagat, korilagin, dan geraniin (Thitilertdecha et al., 2010). Ketiga konstituen aktif tersebut terbukti memiliki aktivitas antioksidatif yang kuat berdasarkan penentuan kapasitas penangkapan radikal 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH) serta penghambatan peroksidasi lipid.

Aktivitas antibakteri dan antiinflamasi: Analisis profil fitokimia pada perikarp N. lappaceum berhasil mengidentifikasi 18 konstituen bioaktif yang tergolong dalam kelompok fenolik, flavonoid, dan asam lemak (Monrroy et al., 2020). Kelompok senyawa metabolit sekunder ini dilaporkan menunjukkan spektrum aktivitas biofarmakologis yang luas, mencakup efikasi antimikroba, antiinflamasi, antikanker, serta antioksidatif.

Manfaat Pemanfaatan Limbah Agroindustri:

Kulit dan biji rambutan yang selama ini dianggap limbah non-pangan terbukti secara ilmiah kaya akan senyawa bioaktif bernilai tinggi, membuka peluang pengembangan produk turunan fungsional dari limbah pengolahan buah rambutan untuk industri pangan, farmasi, dan kosmetik.

Informasi Lain

Status Konservasi:

Least Concern (Risiko Rendah) IUCN Red List Assessment. Rambutan merupakan spesies yang tersebar luas dan dibudidayakan secara aktif sebagai komoditas ekonomi penting di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Kerabat Dekat dalam Famili Sapindaceae:

Secara taksonomi, N. lappaceum tergolong dalam famili Sapindaceae dan memiliki hubungan kekerabatan morfologis yang erat dengan leci (Litchi chinensis), kelengkeng (Dimocarpus longan), serta mamoncillo (Melicoccus bijugatus). Meskipun demikian, studi genomik kloroplas komparatif terhadap 21 spesies oleh Liu et al. (2021) merevelasi bahwa N. lappaceum secara filogenetik memiliki hubungan genetik terdekat dengan Pometia tomentosa dibandingkan dengan leci maupun kelengkeng. Temuan molekuler ini memberikan perspektif dan wawasan baru dalam memahami sejarah evolusi serta taksonomi intragenerik pada famili Sapindaceae.

Nilai Genom Kloroplas untuk Pemuliaan:

Sekuensing kloroplas lengkap N. lappaceum oleh Liu et al. (2021) menghasilkan genom berukuran 161.356 pasang basa (bp) yang mengodekan 132 gen teridentifikasi. Genom ini mencakup 35 lokus Simple Sequence Repeat (SSR) yang sangat potensial untuk diaplikasikan sebagai marka molekuler dalam pemuliaan tanaman, analisis keanekaragaman genetik, serta seleksi varietas N. lappaceum unggul di masa depan.

Potensi Pengembangan Nutrasetikal dari Limbah Kulit:

Konsistensi temuan dari berbagai studi independen (Monrroy et al., 2020; Muhtadi et al., 2015; Palanisamy et al., 2008; Thitilertdecha et al., 2010; Widowati et al., 2015) menegaskan bahwa perikarp N. lappaceum yang umumnya dikategorikan sebagai limbah pascapanen merupakan matriks kaya senyawa fenolik bioaktif. Hal ini membuktikan potensi besarnya untuk divalorisasi menjadi produk fungsional pada sektor nutrasetikal, farmasetika, dan kosmetik berbasis agroindustri berkelanjutan.

Nilai Edukasi di Kampus UAD:

Rambutan di lingkungan kampus UAD relevan sebagai objek pembelajaran multidisiplin berbasis bukti ilmiah: Botani dan Filogenetik (kekerabatan genom kloroplas dengan famili Sapindaceae berdasarkan Liu et al., 2021), Farmakognosi dan Fitokimia (senyawa fenolik asam elagat, korilagin, dan geraniin berdasarkan Thitilertdecha et al., 2010), Farmakologi (bukti ilmiah aktivitas antioksidan dan antidiabetes berdasarkan Palanisamy et al., 2008 dan Widowati et al., 2015), serta Teknologi Pangan (potensi pemanfaatan limbah kulit dan biji sebagai bahan bioaktif fungsional).

Referensi Akademik

Liu, J., Zheng, C., Liu, Z.-Y., & Niu, Y.-F. (2021). The complete chloroplast genome and phylogenetic analysis of Nephelium lappaceum (rambutan). Mitochondrial DNA Part B, 6(2), 655–656. https://doi.org/10.1080/23802359.2021.1872449

Monrroy, M., García, E., Ríos, K., & García, J. R. (2020). Active compound identification in extracts of N. lappaceum peel and evaluation of antioxidant capacity. Journal of Chemistry, 2020, 4301891. https://doi.org/10.1155/2020/4301891

Muhtadi, Primarianti, A. U., & Sujono, T. A. (2015). Antidiabetic activity of durian (Durio zibethinus Murr.) and rambutan (Nephelium lappaceum L.) fruit peels in alloxan diabetic rats. Procedia Food Science, 3, 255–261. https://doi.org/10.1016/j.profoo.2015.01.028

Nawi, L., Norsham, N. L., Md Isa, N. N., Md. Jan, S. L., Mohd Khaazai, S. N., Shaikh Nasir, N. T., Wahidah Musa, N. L., & Mohd Badiazaman, A. A. (2025). A preliminary review on the morphological and phytochemical characteristics of rambutan (Nephelium lappaceum L.). Bioresources and Environment, 3(3), 10–21. https://doi.org/10.24191/bioenv.v3i3.111

Palanisamy, U., Manaharan, T., Teng, L. L., Radhakrishnan, A. K. P., Subramaniam, T., & Masilamani, T. (2008). Rind of the rambutan, Nephelium lappaceum, a potential source of natural antioxidants. Food Chemistry, 109(1), 54–63. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2007.12.018

Thitilertdecha, N., Teerawutgulrag, A., Kilburn, J. D., & Rakariyatham, N. (2010). Identification of major phenolic compounds from Nephelium lappaceum L. and their antioxidant activities. Molecules, 15(3), 1453–1465. https://doi.org/10.3390/molecules15031453

Widowati, W., Prahastuti, S., Ekayanti, N. L., Munira, S., Kusuma, H. S. W., Wibowo, S. H. B., Amalia, A., & Anggia, R. (2015). Free radical scavenging and alpha/beta-glucosidases inhibitory activities of rambutan (Nephelium lappaceum L.) peel extract. The Indonesian Biomedical Journal, 7(3), 157–162.

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960