Tulip Afrika

(African Tulip Tree, Fountain Tree)

Spathodea campanulata P.Beauv.

Fam. Bignoniaceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Spathodea campanulata P.Beauv.

Genus Spathodea bersifat monotipik dan hanya beranggotakan satu spesies tunggal ini dalam famili Bignoniaceae (Padhy, 2021).

Subspesies yang Tercatat dalam Literatur Taksonomi:

Spathodea campanulata subsp. campanulata, serta Spathodea campanulata subsp. nilotica (Seem.) Bidgood subspesies dengan ciri daun dan kelopak bunga yang lebih berambut, tercatat di kawasan Somalia berdasarkan tinjauan taksonomi regional (Bidgood, Verdcourt, & Vollesen, dalam Flora of Tropical East Africa, seperti dirujuk

Klasifikasi :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Lamiales

Famili : Bignoniaceae

Genus : Spathodea

Spesies : Spathodea campanulata P.Beauv.

(Padhy, 2021, dalam Journal of Applied Pharmaceutical Science)

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Spathodea campanulata P.Beauv., yang dikenal luas sebagai tulip afrika atau African tulip tree, adalah pohon berbunga besar dari famili Bignoniaceae dengan sejarah panjang pemanfaatan obat tradisional di Afrika (Padhy, 2021). Genus Spathodea bersifat monotipik, artinya hanya memiliki satu spesies tunggal, yaitu S. campanulata itu sendiri.

Batang dan Percabangan:

Berdasarkan deskripsi taksonomi dalam Flora of Tropical East Africa yang dirujuk oleh Padhy (2021), tulip afrika tumbuh sebagai pohon tegak yang dapat mencapai tinggi hingga 30 m, dengan kulit batang berwarna abu-abu kecokelatan yang bervariasi dari licin, beralur halus memanjang, hingga kasar. Ranting mudanya licin atau sedikit bergaris, berlentisel, dan bervariasi dari gundul (glabrous) hingga berambut halus (pubescent) atau berambut lebat (tomentose).

Bunga:

Bunga tulip afrika berukuran besar, berwarna merah-jingga menyala, berbentuk seperti terompet atau lonceng (campanulate) yang tersusun rapat dalam perbungaan di ujung ranting. Studi histologis oleh Bittencourt Júnior, Gibbs, dan Semir (2003) yang diterbitkan dalam Annals of Botany mengungkap bahwa spesies ini memiliki sistem inkompatibilitas-diri yang bekerja pada fase akhir (late acting self incompatibility)  mekanisme reproduksi yang mencegah pembuahan sendiri terjadi pada tahap akhir pascapenyerbukan, bukan pada tahap awal penyerbukan seperti pada kebanyakan tumbuhan berbunga lain.

Buah dan Biji:

Buahnya berupa polong berbentuk seperti perahu (boat-shaped), berwarna cokelat, dengan panjang 15–25 cm, dan umumnya berkembang 1–4 polong dari setiap kelompok bunga. Biji tulip afrika berukuran ringan dan bersayap tipis, menyebar terutama melalui perantaraan angin (anemokori), sehingga memungkinkan penyebaran biji dalam jarak yang cukup jauh dari pohon induknya.

Daun:

Daun tulip afrika berukuran besar dan tersusun majemuk menyirip, dengan tekstur yang bervariasi dari licin hingga berambut tergantung kondisi lingkungan tumbuhnya. Kajian fitokimia atas ekstrak daun tulip afrika menggunakan teknologi GC-MS dan LC-MS oleh Duryat, Ghozali, Rodiani, dan Ismanto (2025) yang diterbitkan dalam Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science mengidentifikasi keberadaan berbagai senyawa metabolit sekunder bioaktif pada jaringan daunnya.

Informasi Etnobotani:

Padhy (2021) mencatat bahwa dalam sistem pengobatan tradisional Afrika, hampir seluruh bagian tulip afrika — kulit kayu, daun, bunga, dan biji — telah lama dimanfaatkan untuk mengatasi malaria, diabetes, tukak lambung, luka, infeksi kulit, serta penyakit yang disebabkan oleh virus.

Sejarah

Menurut tinjauan komprehensif Padhy (2021) yang diterbitkan dalam Journal of Applied Pharmaceutical Science, Spathodea campanulata memiliki sejarah panjang sebagai tanaman obat di Afrika, dengan literatur ilmiah mengenai pemanfaatannya terlacak sejak tahun 1972 hingga kini.

Riset Fitokimia dan Senyawa Bioaktif:

Padhy (2021) merangkum bahwa berbagai senyawa telah berhasil diisolasi dari tulip afrika, di antaranya asam ursolat, asam tomentosolat, 20β-hidroksi asam ursolat, verminosida, spesiosida, spatosida, kaempferol, dan β-sitosterol-3-asetat, yang masing-masing menunjukkan aktivitas biologis yang menjanjikan pada tahap penelitian praklinis.

Studi Antimalaria:

Rangasamy, Asirvatham, Muthusamy, Rajamanickam, Muthusamy, dan Jeyaraman (2008) dalam Ethnobotany Leaflets melakukan penapisan fitokimia awal dan studi antimalaria terhadap ekstrak daun tulip afrika, menjadi salah satu studi ilmiah rintisan yang menguji validitas penggunaan tradisional tanaman ini untuk pengobatan malaria.

Riset Antelmintik dan Sitotoksisitas:

Wagh, Butle, dan Telang (2019) dalam Asian Journal of Pharmacognosy menguji efikasi antelmintik (anticacing) ekstrak tulip afrika secara in vitro terhadap Pheretima posthuma. Penelitian lanjutan oleh Wagh, Butle, dan Raut (2021) dalam Future Journal of Pharmaceutical Sciences berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi fitokimia dari ekstrak kloroform tulip afrika, sekaligus mengevaluasi sitotoksisitasnya.

Perkembangan Riset Kontemporer di Indonesia:

Penelitian fitokimia atas ekstrak daun tulip afrika turut dilakukan di Indonesia, sebagaimana dipublikasikan oleh Duryat, Ghozali, Rodiani, dan Ismanto (2025) dalam Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science, yang menganalisis profil metabolit sekunder daun tulip afrika menggunakan teknologi GC-MS dan LC-MS.

Tulip Afrika di Yogyakarta:

Sebagai koleksi Pustaka Hijau Hutan Kampus, kehadiran tulip afrika di lingkungan UAD Yogyakarta menghadirkan contoh pohon berbunga besar dengan riwayat riset farmakognosi lintas benua yang terus berkembang, sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai mekanisme reproduksi tumbuhan berbunga yang unik.

Manfaat

Berdasarkan rangkaian penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan, tulip afrika menunjukkan spektrum aktivitas farmakologis yang luas, sekaligus tetap berperan sebagai pohon peneduh berbunga dengan nilai estetika tinggi.

Manfaat Etnobotani (Berdasarkan Tinjauan Ilmiah):

Padhy (2021) mencatat bahwa dalam sistem pengobatan tradisional Afrika, tulip afrika digunakan untuk menangani malaria, diabetes, tukak lambung, luka, infeksi kulit, dan penyakit virus. Kulit kayunya secara khusus tercatat dalam sejumlah studi etnofarmakologi di Ghana digunakan untuk penyembuhan luka (sebagaimana dirujuk dalam Padhy, 2021).

Manfaat Farmakologis Terverifikasi Ilmiah:

Aktivitas antimalaria: Rangasamy et al. (2008) dalam Ethnobotany Leaflets melaporkan hasil positif dari penapisan fitokimia dan uji antimalaria pendahuluan terhadap ekstrak daun tulip afrika, memberikan dasar ilmiah awal bagi penggunaan tradisionalnya sebagai obat malaria. Padhy (2021) turut menyimpulkan bahwa tulip afrika merupakan kandidat menjanjikan untuk pengembangan nutrasetikal antimalaria dan antidiabetes berdasarkan kombinasi studi potensi dan toksisitas in vivo maupun in vitro.

Aktivitas antelmintik: Wagh, Butle, dan Telang (2019) dalam Asian Journal of Pharmacognosy membuktikan efikasi antelmintik ekstrak tulip afrika secara in vitro terhadap cacing uji Pheretima posthuma, mendukung potensi pengembangannya sebagai agen antiparasit alami.

Aktivitas sitotoksik: Wagh, Butle, dan Raut (2021) dalam Future Journal of Pharmaceutical Sciences berhasil mengisolasi fitokimia dari ekstrak kloroform tulip afrika dan mengevaluasi aktivitas sitotoksiknya, membuka arah penelitian lebih lanjut mengenai potensi antikankernya.

Senyawa bioaktif teridentifikasi: Padhy (2021) merangkum sejumlah senyawa aktif yang telah diisolasi dari tulip afrika termasuk asam ursolat, verminosida, spesiosida, spatosida, kaempferol, dan β-sitosterol-3-asetat yang menunjukkan aktivitas biologis signifikan pada tahap penelitian praklinis, meski catatan uji klinis pada manusia hingga saat tinjauan tersebut ditulis baru terbatas pada penggunaan ekstrak mentah untuk malaria.

Profil fitokimia kontemporer: Duryat, Ghozali, Rodiani, dan Ismanto (2025) dalam Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science mengonfirmasi keberadaan berbagai golongan metabolit sekunder pada ekstrak etanol daun tulip afrika melalui analisis GC-MS dan LC-MS, memperkuat dasar ilmiah kontemporer bagi eksplorasi lebih lanjut potensi farmakologisnya.

Manfaat Estetika dan Peneduh:

Selain dimanfaatkan dalam kajian etnomedisin, tulip afrika (Spathodea campanulata) diakui secara luas sebagai salah satu spesies pohon hias tropis paling fenomenal. Karakteristik mahkota bunganya yang besar, mencolok, dan berbentuk mirip mangkuk (goble-shaped) memberikan daya tarik estetika yang tinggi pada tata kota. Dipadukan dengan struktur kanopi yang membentang lebar dan lebat, tumbuhan ini berfungsi optimal sebagai pohon peneduh koridor jalan, taman kota, maupun kawasan kampus.

Informasi Lain

Perlu Kewaspadaan Ekologis:

Padhy (2021) turut mencatat bahwa di luar wilayah asalnya di Afrika, tulip afrika perlu ditanam dengan mempertimbangkan aspek ekologis, mengingat karakter pertumbuhannya yang cepat dan produksi bijinya yang melimpah dapat mendorong regenerasi alami yang agresif di beberapa kawasan tropis non-asli.

Keunikan Sistem Reproduksi:

Salah satu temuan ilmiah paling menarik mengenai tulip afrika adalah mekanisme inkompatibilitas-diri fase akhir (late-acting self-incompatibility) yang didokumentasikan secara histologis oleh Bittencourt Júnior, Gibbs, dan Semir (2003). Berbeda dari mekanisme inkompatibilitas-diri pada umumnya yang mencegah pembuahan sejak awal penyerbukan (gametofitik atau sporofitik dini), pada S. campanulata penolakan serbuk sari sendiri baru terjadi pada tahap akhir setelah proses pembuahan berlangsung sebuah fenomena reproduksi yang relatif jarang terdokumentasi secara rinci pada tumbuhan tropis.

Signifikansi Riset Farmakognosi:

Tinjauan Padhy (2021) menyimpulkan bahwa meskipun berbagai senyawa aktif tulip afrika telah menunjukkan aktivitas biologis yang menjanjikan pada tahap praklinis, penelitian lanjutan berupa uji klinis dan pengembangan produk masih diperlukan agar potensi farmakologis tanaman yang tersebar luas ini dapat dimanfaatkan secara optimal.

Perkembangan Riset Fitokimia Regional:

Riset fitokimia tulip afrika terus berkembang di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Duryat et al. (2025) yang meneliti profil metabolit sekunder daun tulip afrika menggunakan teknologi GC-MS dan LC-MS menunjukkan bahwa penelitian mengenai spesies ini tetap relevan dan aktif dilakukan hingga saat ini di kawasan Asia Tenggara.

Nilai Edukasi di Kampus UAD:

Tulip afrika di lingkungan kampus UAD relevan sebagai objek pembelajaran multidisiplin berbasis bukti ilmiah: Botani Reproduksi (mekanisme inkompatibilitas diri fase akhir berdasarkan Bittencourt Júnior et al., 2003), Farmakognosi dan Fitokimia (senyawa aktif dan profil metabolit berdasarkan Padhy, 2021 dan Duryat et al., 2025), serta Farmakologi (bukti ilmiah aktivitas antimalaria, antelmintik, dan sitotoksik berdasarkan Rangasamy et al., 2008 dan Wagh et al., 2019, 2021).

Referensi Akademik

Bittencourt Júnior, N. S., Gibbs, P. E., & Semir, J. (2003). Histological study of post-pollination events in Spathodea campanulata Beauv. (Bignoniaceae), a species with late-acting self-incompatibility. Annals of Botany, 91(7), 827–834. https://doi.org/10.1093/aob/mcg080

Duryat, D., Ghozali, R. I., Rodiani, R., & Ismanto, I. (2025). Phytochemical screening of an ethanolic extract of Spathodea campanulata leaf using GC-MS and LC-MS technology. Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science, 5(3), 983–997. https://doi.org/10.47352/jmans.2774-3047.296

Padhy, G. K. (2021). Spathodea campanulata P. Beauv. — A review of its ethnomedicinal, phytochemical, and pharmacological profile. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 11(12), 017–044. https://doi.org/10.7324/JAPS.2021.1101202

Rangasamy, D., Asirvatham, D., Muthusamy, J., Rajamanickam, K., Muthusamy, P., & Jeyaraman, A. (2008). Preliminary phytochemical screening and antimalarial studies of Spathodea campanulatum P. Beauv leaf extracts. Ethnobotany Leaflets, 12, 811–819.

Wagh, A., Butle, S., & Raut, D. (2021). Isolation, identification, and cytotoxicity evaluation of phytochemicals from chloroform extract of Spathodea campanulata. Future Journal of Pharmaceutical Sciences, 7(1), 1–8. https://doi.org/10.1186/s43094-021-00278-w

Wagh, A., Butle, S., & Telang, P. (2019). In vitro anthelmintic efficacy of Spathodea campanulata P. Beauv. (Bignoniaceae) against Pheretima posthuma. Asian Journal of Pharmacognosy, 3, 32–38.

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960