Kayu Putih
(Cajuput, Gelam, White Samet)
Melaleuca cajuputi Banks, Maton & Sm. ex R.Powell
Fam. Myrtaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Melaleuca cajuputi Banks, Maton & Sm. ex R.Powell
Nama genus Melaleuca berasal dari bahasa Yunani melas (hitam) dan leukos (putih), merujuk pada kontras warna kulit batangnya yang gelap dengan lapisan kulit luar yang mengelupas berwarna putih (Botanical Realm, 2024).
Nama spesies cajuputi diserap dari bahasa Melayu kayu putih, yang kemudian melahirkan istilah internasional cajuput dalam berbagai bahasa Eropa untuk menyebut minyak maupun pohon ini.
Sinonim heterotipik:
Melaleuca saligna (J.F.Gmel.) Reinw. ex Blume
Melaleuca trinervis Buch.-Ham.
Pimentus saligna (J.F.Gmel.) Raf. (Wikipedia, 2024).
Subspesies:
Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi, M. cajuputi subsp. cumingiana, dan M. cajuputi subsp. platyphylla (Liang, Zhu, He, & Xiong, 2021).
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Klad : Tracheophyta – Angiospermae – Eudikotil – Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Melaleuca
Spesies : Melaleuca cajuputi Powell
(Wikipedia Taxonomy, 2024)
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Melaleuca cajuputi Powell, yang dikenal luas di Indonesia sebagai kayu putih, adalah pohon penghasil minyak atsiri dari famili Myrtaceae. Nama “kayu putih” berasal dari bahasa Melayu, kayu (pohon) dan putih (putih), merujuk pada kulit batangnya yang berlapis tipis, berwarna keputihan, dan mudah mengelupas. Pohon ini terkenal sebagai sumber minyak kayu putih (cajuput oil), salah satu produk obat tradisional paling ikonik di Indonesia (Wikipedia, 2024; Patramurti et al., 2020).
Batang dan Percabangan:
Kayu putih tumbuh sebagai pohon berukuran sedang hingga tinggi, dengan tinggi bervariasi tergantung kondisi habitat. Ciri paling khas dari batangnya adalah kulit kayu yang berlapis-lapis seperti kertas (papery bark), mudah mengelupas dalam lembaran tipis, dan berwarna putih keabu-abuan hingga cokelat pucat (Wikipedia, 2024; Botanical Realm, 2024). Percabangan menghasilkan tajuk yang cukup rimbun, dan pertumbuhan tunas baru tampak berwarna keperakan (silvery new growth) yang mencolok dibandingkan daun tua yang lebih hijau.
Daun:
Daun kayu putih berbentuk lonjong sempit (narrowly ovate) hingga elips sempit, sering kali sedikit melengkung (falcate to subfalcate), dengan tulang daun yang tampak jelas sejajar memanjang ciri umum genus Melaleuca (Patramurti et al., dalam International Journal of Forestry Research, 2020). Daun mengandung kelenjar minyak atsiri yang tersebar di seluruh permukaan; apabila diremas, daun mengeluarkan aroma khas menyerupai kayu putih atau kamper yang tajam dan menyegarkan, berasal dari kandungan sineol (cineole) yang tinggi.
Bunga:
Bunga kayu putih tersusun dalam bentuk bulir (spike) di ujung ranting, berwarna putih hingga kehijauan. Setiap bulir terdiri atas banyak bunga kecil dengan benang sari yang menonjol, memberikan tampilan seperti sikat botol (bottle-brush) ciri khas genus Melaleuca (Wikipedia, 2024). Bunga menghasilkan nektar yang disukai lebah madu, sehingga kayu putih turut berperan sebagai sumber pakan lebah penting di kawasan tempat tumbuhnya.
Buah:
Buah kayu putih berupa kapsul kecil berkayu yang tumbuh melekat rapat pada ranting, tersusun berderet mengikuti pola bekas kedudukan bunga. Buah tetap menempel pada ranting dalam waktu lama setelah masak, dan biji yang berukuran sangat kecil akan terlepas secara bertahap dari celah kapsul.
Akar:
Sistem perakaran kayu putih kuat dan sangat toleran terhadap tanah basah, tergenang, maupun berawa. Sifat ini menjadikannya salah satu spesies unggulan untuk kawasan lahan basah tropis, tepi rawa, dan daerah pesisir yang tergenang secara musiman (Botanical Realm, 2024).
Informasi Etnobotani:
Kayu putih memiliki posisi istimewa dalam pengobatan tradisional masyarakat Nusantara. Minyak yang disuling dari daunnya dikenal luas sebagai minyak kayu putih telah digunakan turun-temurun sebagai obat gosok untuk meredakan masuk angin, sakit perut, gigitan serangga, dan pilek, serta menjadi salah satu produk kesehatan rumah tangga paling dikenal di Indonesia (PROSEA/Pl@ntUse, 1998).
Sejarah
Melaleuca cajuputi tersebar luas secara alami di Australia bagian utara, Asia Tenggara, Papua Nugini, hingga wilayah Selat Torres (Wikipedia, 2024). Genus Melaleuca secara keseluruhan mencakup sedikitnya 230 spesies di dunia, sebagian besar ditemukan di Tasmania (Australia), Indonesia, Papua Nugini, Amerika tropis, dan Asia Selatan (Patramurti et al., 2020).
Sejarah Budidaya di Indonesia:
Di Indonesia, kayu putih telah dibudidayakan secara sistematis sejak 1926 di Pulau Jawa untuk produksi minyak kayu putih, menggunakan bibit yang berasal dari Pulau Buru, Maluku daerah yang sejak lama dikenal sebagai penghasil minyak kayu putih berkualitas tinggi (PROSEA/Pl@ntUse, 1998). Sejak saat itu, budidaya kayu putih berkembang luas di berbagai daerah di Jawa, khususnya di kawasan hutan milik Perhutani, serta di Nusa Tenggara dan Maluku.
Peran dalam Industri Minyak Atsiri Nasional:
Minyak kayu putih menjadi salah satu komoditas minyak atsiri tertua dan paling mapan di Indonesia, dengan sejarah produksi komersial yang telah berlangsung hampir satu abad. Industri ini menjadikan Pulau Buru dan sejumlah kawasan di Jawa sebagai pusat produksi minyak kayu putih yang dikenal hingga mancanegara.
Penamaan Internasional:
Kata “cajuput” dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa Eropa lainnya merupakan serapan langsung dari istilah Melayu “kayu putih”, menunjukkan bagaimana pengetahuan etnobotani Nusantara turut memengaruhi tata nama ilmiah dan perdagangan global sejak masa kolonial (ethnobotany archive, 2009).
Kayu Putih di Yogyakarta:
Sebagai tanaman koleksi Pustaka Hijau Hutan Kampus, keberadaan kayu putih di lingkungan UAD Yogyakarta menghadirkan representasi nyata dari salah satu komoditas obat tradisional paling penting dalam sejarah kesehatan masyarakat Indonesia, sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai industri minyak atsiri nasional.
Manfaat
Kayu putih adalah pohon multiguna dengan manfaat utama sebagai penghasil minyak atsiri obat, di samping berbagai manfaat ekologis dan ekonomi lainnya.
Manfaat Utama:
Minyak Kayu Putih (Cajuput Oil): Manfaat paling terkenal dari pohon ini adalah minyak atsiri yang disuling dari daunnya. Minyak kayu putih berwarna kehijauan, beraroma khas menyerupai kamper, dan telah lama digunakan sebagai obat gosok tradisional untuk meredakan masuk angin, nyeri otot, dan gejala pilek (Borneo Journal of Resource Science and Technology, 2021).
Kayu Konstruksi: Batang dan tiang kayu putih dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi ringan, tiang pancang, dan kerangka bangunan sederhana di berbagai wilayah Asia Tenggara (Liang, Zhu, He, & Xiong, 2021).
Sumber Pakan Lebah: Bunga kayu putih yang kaya nektar menjadikannya sumber pakan penting bagi lebah madu, mendukung produksi madu lokal sekaligus keanekaragaman hayati penyerbuk (Liang et al., 2021).
Manfaat Etnobotani:
Pengobatan tradisional Melayu: Minyak dan daun kayu putih digunakan luas dalam pengobatan tradisional Melayu untuk mengatasi kram perut, batuk, jerawat, gigitan serangga, dan gangguan sariawan (Borneo Journal of Resource Science and Technology, 2021).
Obat luar tradisional: Daun kayu putih memiliki khasiat antibakteri, antiradang, dan pereda nyeri (anodyne), sehingga secara tradisional digunakan untuk mengatasi nyeri, luka bakar, flu, dan gangguan pencernaan (PROSEA/Pl@ntUse, 1998).
Manfaat Farmakologis (Berbasis Bukti Ilmiah):
Aktivitas antibakteri: Studi in vitro menunjukkan minyak esensial kayu putih memiliki aktivitas antibakteri terhadap berbagai spesies mikobakteri, mendukung penggunaan tradisionalnya sebagai antiseptik alami (Bua et al., dalam Natural Product Research, 2020).
Aktivitas insektisida dan repelen: Ekstrak kayu putih dalam bentuk aerosol terbukti efektif terhadap vektor nyamuk penyebab demam berdarah dalam pengujian laboratorium, menunjukkan potensinya sebagai bahan insektisida nabati (Bakar, Sulaiman, Omar, & Ali, dalam Journal of Tropical Medicine and Parasitology, 2009).
Senyawa bioaktif: Komponen bioaktif utama minyak kayu putih meliputi terpena, ester, aldehida, dan alkena, dengan sineol (1,8-cineole) sebagai senyawa dominan yang bertanggung jawab atas aroma dan sebagian besar aktivitas farmakologisnya (Borneo Journal of Resource Science and Technology, 2021).
Informasi Lain
Status Konservasi:
Least Concern (Risiko Rendah) IUCN Red List Assessment. Kayu putih merupakan spesies yang tersebar luas dan dibudidayakan secara komersial di berbagai negara Asia Tenggara dan Australia, dengan populasi yang stabil (Wikipedia, 2024).
Nama Daerah:
Kayu Putih (Indonesia umum), Gelam (Sumatra/Semenanjung Malaya), Cajuput / Cajeput / White Samet / Paperbark Tree (Inggris internasional).
Habitat Lahan Basah:
Kayu putih dikenal sebagai spesies lahan basah (wetland species) yang sangat adaptif terhadap kondisi rawan banjir dan tanah tergenang. Pohon ini sering tumbuh di sepanjang tepi sungai, rawa, dan kawasan pesisir, menjadikannya bagian penting dari ekosistem riparian dan lahan basah tropis (Botanical Realm, 2024).
Genus Melaleuca dan Minyak Atsiri Dunia:
Selain Melaleuca cajuputi, genus ini juga mencakup spesies penghasil minyak atsiri terkenal lainnya, yaitu Melaleuca alternifolia (penghasil minyak pohon teh/tea tree oil) dan Melaleuca quinquenervia (penghasil minyak niaouli). Ketiganya menjadi komoditas minyak atsiri komersial utama dari famili Myrtaceae di dunia (Patramurti et al., 2020).
Nilai Ekologis:
Sebagai pohon multiguna, kayu putih menyediakan tiang dan kayu konstruksi, bahan baku minyak atsiri dari daunnya, serta sumber nektar bagi lebah madu — menjadikannya spesies dengan nilai ekonomi dan ekologi ganda bagi masyarakat di sekitar habitatnya (Liang, Zhu, He, & Xiong, 2021).
Nilai Edukasi di Kampus UAD:
Kayu putih di lingkungan kampus UAD relevan sebagai objek pembelajaran multidisiplin: Botani (morfologi kulit kayu berlapis dan bunga bertipe bottle-brush khas Myrtaceae), Kimia dan Farmakognosi (kandungan sineol dan senyawa bioaktif minyak atsiri), Farmakologi (bukti ilmiah aktivitas antibakteri dan insektisida), Ekologi Lahan Basah (adaptasi terhadap tanah tergenang), serta Sejarah Industri dan Etnobotani (sejarah panjang industri minyak kayu putih nasional sejak 1926).
Referensi Akademik
Bakar, A. A., Sulaiman, S., Omar, B., & Ali, R. M. (2009). Evaluation of Melaleuca cajuputi Powell (Family: Myrtaceae) extract in aerosol can against dengue vectors in the laboratory. Journal of Tropical Medicine and Parasitology, 32(2), 58–64.
Botanical Realm. (2024). Melaleuca cajuputi: The cajuput tree. Botanical Realm Plant Identification Reference.
Bua, A., Molicotti, P., Donadu, M. G., Usai, D., Le, L. S., Thi, T. T. T., Viet, Q. T. N., Mauro, M., Marianna, U., Piero, S., & Stefania, Z. (2020). “In vitro” activity of Melaleuca cajuputi against mycobacterial species. Natural Product Research, 34(10), 1494–1497.
Liang, D., Zhu, L., He, Y., & Xiong, X. (2021). Characterization of the complete chloroplast genome of Melaleuca cajuputi subsp. cumingiana (Myrtaceae). Mitochondrial DNA Part B, 6(2), 653–654. https://doi.org/10.1080/23802359.2020.1871438
Patramurti, C., et al. (2020). A review on the potency of Melaleuca leucadendron leaves solid waste in wood preservation and its in silico prediction upon biological activities. International Journal of Forestry Research, 2020, 8885259. https://doi.org/10.1155/2020/8885259
Pl@ntUse / PROSEA. (1998). Melaleuca cajuputi (PROSEA) — Plant Resources of South-East Asia. Pl@ntUse Database.
Rahman, N. F. A., et al. (2021). Melaleuca cajuputi Powell essential oil: A review of botanical, phytochemical and pharmacological properties. Borneo Journal of Resource Science and Technology, 11(2), 1–15.
Wikipedia contributors. (2024). Melaleuca cajuputi. Wikipedia, The Free Encyclopedia.




