Damar
(Amboina Pine, Manila Copal, Mountain Agathis)
Agathis dammara (Lamb.) Rich.
Fam. Araucariaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Agathis dammara (Lamb.) Rich.
Pertama kali dipublikasikan dalam Comm. Bot. Conif. Cycad.: 83 (1826) (Plants of the World Online, Royal Botanic Gardens Kew, 2024).
Status konservasi menurut IUCN Red List: Vulnerable / Rentan (Wikipedia, 2024; Farjon, dalam IUCN Red List, 2013).
Nama genus Agathis berasal dari bahasa Yunani agathis (bola benang), merujuk pada bentuk runjung betinanya yang bulat. Nama spesies dammara diserap langsung dari bahasa Indonesia “damar”, merujuk pada resin yang dihasilkan pohon ini (Monaco Nature Encyclopedia, 2025).
Sinonim heterotipik (di antaranya):
Agathis alba (Rumph. ex Hassk.) Foxw.
Agathis loranthifolia Salisb.
Agathis philippinensis Warb.
Dammara alba Rumph. ex Hassk.
Pinus dammara Lamb. (basionim) (Wikipedia, 2024; Plants of the World Online, Kew, 2024).
Kerabat Dekat:
Berbeda dengan Agathis borneensis kerabat dekatnya yang endemik di kawasan Malesia barat (Jawa, Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya) Agathis dammara secara taksonomi merupakan “kauri Malesia timur”, endemik di Filipina, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku (Conifers.org, 2019).
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Klad : Tracheophyta – Gymnospermae
Divisi : Pinophyta
Kelas : Pinopsida
Ordo : Araucariales
Famili : Araucariaceae
Genus : Agathis
Spesies : Agathis dammara (Lamb.) Rich.
(Wikipedia Taxonomy, 2024; Plants of the World Online, Kew, 2024)
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Agathis dammara (Lamb.) Rich., yang dikenal luas di Indonesia sebagai damar, adalah pohon konifer (tumbuhan berdaun jarum) raksasa dari famili Araucariaceae — famili tumbuhan runjung purba yang telah ada sejak zaman Jura. Nama “damar” berasal dari bahasa Indonesia yang merujuk pada getah resin yang dihasilkan pohon ini, sekaligus menjadi asal nama ilmiah genusnya (Monaco Nature Encyclopedia, 2025). Pohon ini termasuk salah satu pohon tertinggi di hutan hujan tropis Indonesia bagian timur.
Batang dan Percabangan:
Damar tumbuh sebagai pohon evergreen (selalu hijau) berumah satu (monoecious) dengan batang tegak dan silindris, dapat mencapai tinggi hingga 50–65 m dan diameter hingga 1,8 m pada pohon tua di habitat alaminya (Monaco Nature Encyclopedia, 2025; Steemit Tree Species Indonesia, 2018). Kulit batang berwarna abu-abu terang hingga cokelat kemerahan, pada mulanya licin lalu berubah bersisik dan sering tampak berlubang-lubang kecil akibat keluarnya getah damar. Pohon dewasa memiliki batang bebas cabang yang panjang dengan tajuk yang muncul di bagian atas (emergent crown), disusun oleh cabang-cabang utama yang besar dan kaku.
Daun:
Daun damar berbentuk jorong memanjang (oblong), berukuran panjang 6–8 cm dan lebar 2–3 cm, dengan pangkal daun yang menunjukkan ujung yang jelas dan tulang daun sejajar yang banyak (Steemit Tree Species Indonesia, 2018). Berbeda dengan kebanyakan tumbuhan runjung lain yang berdaun sempit seperti jarum, daun damar justru relatif lebar dan tebal, dengan warna yang sangat bervariasi pada tiap pohonnya (Wikipedia, 2024).
Struktur Reproduksi (Runjung):
Sebagai tumbuhan runjung (konifer), damar tidak menghasilkan bunga sejati melainkan runjung (cone) sebagai organ reproduksinya. Nama genus Agathis berasal dari bahasa Yunani agathis, yang berarti “bola benang”, merujuk pada bentuk runjung betinanya yang bulat (Monaco Nature Encyclopedia, 2025). Damar bersifat monoecious, menghasilkan runjung jantan (penghasil serbuk sari) dan runjung betina (penghasil biji) pada pohon yang sama.
Getah/Resin:
Ciri paling bernilai secara ekonomi dari pohon damar adalah getah resinnya yang dikenal sebagai damar gum atau cat-eye resin. Getah ini keluar dari celah kulit batang dan mengeras membentuk gumpalan bening hingga kekuningan yang telah lama menjadi komoditas perdagangan penting di Nusantara (Wikipedia, 2024).
Akar:
Sistem perakaran damar kuat dan dalam, mendukung tegaknya pohon berukuran raksasa yang dapat bertahan hingga ratusan tahun. Pohon ini umumnya tumbuh pada hutan hujan lembap di ketinggian 300–2.200 m dpl, sehingga akarnya beradaptasi baik pada kondisi tanah hutan pegunungan tropis yang subur dan berdrainase baik (Monaco Nature Encyclopedia, 2025).
Informasi Etnobotani:
Damar telah lama menjadi komoditas resin penting dalam perdagangan Nusantara, dikenal secara internasional dengan nama Manila copal. Getahnya secara tradisional dimanfaatkan sebagai bahan pernis, dupa, dan penerangan (obor damar) jauh sebelum era industri modern.
Sejarah
Agathis dammara merupakan spesies asli hutan lembap Filipina dan Indonesia, khususnya kawasan Maluku dan Sulawesi, tumbuh pada ketinggian 300–2.200 m dpl (Monaco Nature Encyclopedia, 2025). Famili Araucariaceae yang menjadi induknya merupakan salah satu famili tumbuhan runjung paling purba di dunia, tersebar luas sejak periode Jura, Kapur, hingga Paleogen (sekitar 201 juta tahun lalu), namun kini keberadaannya di alam liar terbatas hanya pada belahan bumi selatan (Wikipedia, 2024).
Sejarah Perdagangan Resin:
Getah damar dari Agathis dammara telah lama diperdagangkan secara internasional dengan nama Manila copal, mengingat perannya sebagai pelabuhan ekspor utama resin ini pada masa kolonial. Resin ini menjadi salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu paling bernilai dari kawasan Indonesia timur dan Filipina selama berabad-abad, dimanfaatkan sebagai bahan baku pernis dan cat sebelum ditemukannya bahan sintetis modern.
Kontroversi Taksonomi:
Klasifikasi damar Malesia timur sempat menjadi perdebatan ilmiah cukup panjang. de Laubenfels (1988) berpendapat bahwa populasi di Filipina (disebut A. philippinensis) dan di Sulawesi-Maluku (disebut A. celebica) merupakan taksa yang berbeda, sementara Farjon (2010) menyatukan keduanya ke dalam satu spesies tunggal Agathis dammara berdasarkan analisis morfologi yang lebih komprehensif (Conifers.org, 2019). Perdebatan ini mencerminkan tingginya variasi fenotipik pada karakter daun genus Agathis, sehingga studi molekuler lebih lanjut masih diperlukan untuk resolusi taksonomi yang lebih pasti.
Nama dalam Catatan Ilmiah Awal:
Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Aylmer Bourke Lambert sebagai Pinus dammara, kemudian dipindahkan ke genus Agathis oleh Louis Claude Richard dan dipublikasikan secara resmi pada 1826 (Plants of the World Online, Kew, 2024). Penamaan awal sebagai anggota genus Pinus mencerminkan kesulitan klasifikasi konifer tropis pada masa awal penjelajahan botani Eropa di Nusantara.
Damar di Yogyakarta:
Sebagai koleksi Pustaka Hijau Hutan Kampus, kehadiran damar di lingkungan UAD Yogyakarta menghadirkan representasi langka dari kelompok tumbuhan runjung purba yang berstatus rentan (vulnerable), sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai sejarah panjang perdagangan resin Nusantara dan pentingnya konservasi pohon-pohon raksasa hutan hujan tropis.
Manfaat
Damar adalah pohon konifer bernilai ekonomi tinggi, dikenal terutama sebagai penghasil resin dan kayu, dengan potensi farmakologis yang terus diungkap melalui penelitian ilmiah modern.
Manfaat Utama:
Resin/Getah Damar: Manfaat paling ikonik dari pohon ini adalah getah resinnya, yang dikenal secara internasional sebagai damar gum atau Manila copal. Resin ini telah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku pernis, cat, dupa, dan bahan perekat tradisional (Wikipedia, 2024).
Kayu Konstruksi: Kayu damar yang lurus dan berbatang bebas cabang panjang dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan, papan, dan berbagai keperluan pertukangan di kawasan persebarannya (Wikipedia, 2024).
Pohon Peneduh Raksasa: Dengan ukurannya yang menjulang tinggi, damar menjadi salah satu pohon peneduh paling monumental yang dapat ditanam di kawasan terbuka luas seperti area konservasi dan hutan kampus.
Manfaat Etnobotani:
Pengobatan tradisional: Berbagai bagian tumbuhan famili Araucariaceae, termasuk damar, secara tradisional dimanfaatkan sebagai emolien, antiseptik, serta untuk mengobati infeksi saluran pernapasan dan rematik (Chen, He, Deng, Zhu, & Mao, dalam ResearchGate, 2024). Resin Araucariaceae secara umum juga digunakan untuk mengobati luka dan tukak lambung.
Sumber cahaya tradisional: Getah damar yang mudah terbakar secara tradisional dimanfaatkan sebagai bahan obor penerangan di berbagai daerah di Indonesia sebelum tersedianya penerangan listrik.
Manfaat Farmakologis:
Aktivitas antibakteri: Minyak esensial dari daun segar Agathis dammara menunjukkan aktivitas antibakteri yang signifikan berdasarkan analisis komposisi kimia GC-FID dan GC-MS (Chen, He, Deng, Zhu, & Mao, dalam ResearchGate, 2024). Ekstrak daunnya juga terbukti memiliki sifat antibakteri dalam penelitian etnobotani konifer di Filipina (Gutierrez, Baculi, Pastor, Puma-at, & Balangcod, 2013).
Aktivitas antimelanogenesis: Studi in vitro dan in vivo menunjukkan minyak esensial daun Agathis dammara memiliki efek antimelanogenesis, yakni potensi menghambat produksi pigmen melanin berlebih, membuka peluang pengembangan sebagai bahan kosmeseutikal (Wahyudi, dalam ResearchGate, 2024).
Potensi kardiovaskular: Penelitian terbaru menemukan bahwa ekstrak Agathis dammara dan senyawa monomernya, araucarone, mampu menghambat perkembangan aneurisma aorta abdominalis pada model tikus, menunjukkan potensi farmakologis baru di bidang kardiovaskular (Zhang, Cai, Yu, Di, Qiu, & Qi, 2025).
Senyawa bioaktif biflavonoid: Penelitian di Institut Teknologi Bandung mengidentifikasi kandungan biflavonoid dari Agathis dammara di hutan tropis Indonesia yang menunjukkan aktivitas sebagai inhibitor enzim BACE-1 — enzim yang berperan penting dalam penelitian penyakit Alzheimer (ITB, dalam Springer Nature, 2024).
Informasi Lain
Status Konservasi:
Vulnerable / Rentan — IUCN Red List Assessment (Farjon, 2013). Berbeda dari sebagian besar pohon lain dalam koleksi Pustaka Hijau Hutan Kampus, damar berstatus rentan akibat eksploitasi resin dan kayu yang intensif serta hilangnya habitat hutan alami, menjadikannya spesies dengan nilai konservasi yang perlu mendapat perhatian khusus.
Nama Daerah:
Damar / Damar Minyak / Bedendang / Penyum / Tesanum / Tulong (Indonesia), Damar Nunu (Sulawesi), Kalline / Oeneela (Maluku), Almaciga / Saleng (Filipina/Tagalog), Amboina Pine / Manila Copal / Mountain Agathis (Inggris internasional).
Kelompok Tumbuhan Purba:
Famili Araucariaceae, tempat damar bernaung, merupakan salah satu famili tumbuhan runjung tertua di dunia, muncul pertama kali pada awal periode Jura sekitar 201 juta tahun lalu dan pernah tersebar luas di seluruh dunia. Kini famili ini hanya terdiri dari tiga genus yang masih bertahan: Agathis, Araucaria, dan Wollemia genus yang ditemukan kembali di Australia setelah sebelumnya dikira punah (Wikipedia, 2024).
Runjung sebagai Objek Edukasi:
Sebagai tumbuhan gymnospermae (berbiji terbuka), struktur reproduksi damar berupa runjung jantan dan betina menjadi contoh ideal untuk mempelajari perbedaan mendasar antara tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae) dan tumbuhan berbunga (angiospermae) dalam materi Botani dan Morfologi Tumbuhan.
Nilai Ekonomi Resin:
Resin damar telah menjadi komoditas hasil hutan bukan kayu bernilai tinggi selama berabad-abad, diperdagangkan secara internasional dengan nama Manila copal, dan tetap menjadi sumber penghidupan penting bagi masyarakat di sekitar hutan tempat pohon ini tumbuh.
Nilai Edukasi di Kampus UAD:
Damar di lingkungan kampus UAD relevan sebagai objek pembelajaran multidisiplin: Botani dan Paleobotani (kelompok konifer purba famili Araucariaceae dan struktur reproduksi runjung), Kimia dan Farmakognosi (senyawa biflavonoid dan minyak esensial bioaktif), Farmakologi (bukti ilmiah aktivitas antibakteri, antimelanogenesis, dan kardiovaskular), Konservasi (status rentan/vulnerable IUCN), serta Sejarah Ekonomi (peran resin damar dalam perdagangan Nusantara).
Referensi Akademik
Chen, Z., He, D., Deng, J., Zhu, J., & Mao, Q. (2024). Chemical composition and antibacterial activity of the essential oil from Agathis dammara (Lamb.) Rich fresh leaves. Journal of Essential Oil Research.
Conifers.org / de Laubenfels, D. J. (2019). Agathis dammara (Amboyna kauri) description. The Gymnosperm Database.
Farjon, A. (2013). Agathis dammara. The IUCN Red List of Threatened Species. https://doi.org/10.2305/IUCN.UK.2013-1.RLTS.T202906A2757847.en
Frezza, C., Venditti, A., De Vita, D., Toniolo, C., Franceschin, M., Ventrone, A., Tomassini, L., Foddai, S., Guiso, M., Nicoletti, M., & Bianco, A. (2020). Phytochemistry, chemotaxonomy, and biological activities of the Araucariaceae family — A review. Plants, 9(7), 888. https://doi.org/10.3390/plants9070888
Gutierrez, R. M., Baculi, R., Pastor, N., Puma-at, T., & Balangcod, T. (2013). Antibacterial potential of some medicinal plants of the Cordillera region, Philippines.
Institut Teknologi Bandung, Program Studi Kimia FMIPA. (2014). Biflavonoids from Agathis dammara growing in Indonesian tropical forest and their activity as inhibitor of BACE-1 enzyme.
Monaco Nature Encyclopedia. (2025). Agathis dammara.
Royal Botanic Gardens, Kew. (2024). Agathis dammara (Lamb.) Rich. Plants of the World Online. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:261669-1
Wahyudi, S. T. (2024). In vitro and in vivo antimelanogenesis effects of leaf essential oil from Agathis dammara.
Wikipedia contributors. (2024). Agathis dammara. Wikipedia, The Free Encyclopedia.
Zhang, Q., Cai, Z., Yu, Z., Di, C., Qiu, Y., & Qi, R. (2025). Agathis dammara extract and its monomer Araucarone attenuate abdominal aortic aneurysm in mice. Cardiovascular Drugs and Therapy, 39(2), 239–257.




