Trembesi

(Ki Hujan, Rain Tree, Saman Tree)

Samanea saman (Jacq.) Merr.

Fam. Fabaceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Samanea saman (Jacq.) Merr., 1916

Diterbitkan dalam Journal of the Washington Academy of Sciences 6(2): 47 (1916)

Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Nikolaus Joseph von Jacquin (1727–1817) sebagai Mimosa saman pada 1800. Kemudian direklasifikasi oleh Elmer Drew Merrill (1876–1956), ahli botani Amerika spesialis flora Asia-Pasifik, ke dalam genus Samanea pada 1916. Nama genus Samanea berasal dari nama lokal pohon ini di Venezuela, saman atau zamang. Beberapa otoritas taksonomi modern memasukkan spesies ini kembali ke dalam genus Albizia sebagai Albizia saman, namun nama Samanea saman tetap paling luas digunakan.

Sinonim heterotipik :

Mimosa saman Jacq., 1800

Pithecellobium saman (Jacq.) Benth., 1844

Albizia saman (Jacq.) F.Muell., 1876

Enterolobium saman (Jacq.) Prain, 1897

Klasifikasi :

Kingdom    : Plantae

Divisi          : Magnoliophyta

Kelas           : Magnoliopsida

Subkelas    : Rosidae

Ordo           : Fabales

Famili         : Fabaceae

Subfamili   : Mimosoideae

Genus        : Samanea

Spesies      : Samanea saman, (Jacq.) Merr.

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Samanea saman (Jacq.) Merr., yang dikenal luas sebagai trembesi atau ki hujan, adalah pohon tropis besar cepat tumbuh dari famili Fabaceae (subfamili Mimosoideae). Asli dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan, trembesi kini telah tersebar luas ke seluruh kawasan tropis dunia dan menjadi salah satu pohon peneduh paling ikonik di Indonesia. Pohon ini dikenal dengan tajuknya yang sangat lebar menyerupai payung raksasa, kemampuan menyerap karbon yang luar biasa, dan kebiasaan unik menutup daun saat akan hujan asal muasal nama “pohon hujan” (rain tree).

Batang dan Percabangan:

Trembesi adalah salah satu pohon dengan tajuk terlebar di dunia. Tingginya dapat mencapai 20–30 m, namun yang paling mengesankan adalah diameter tajuknya yang mampu mencapai 30–60 m menjadikannya pohon peneduh yang bisa menaungi area seluas lapangan sepak bola. Batangnya pendek dan besar, berdiameter hingga 1–2 m, dengan percabangan yang menyebar sangat horizontal sejak rendah di atas tanah. Kulit batang berwarna abu-abu kecokelatan, kasar, dan beralur dalam pada pohon tua. Kayu trembesi berwarna cokelat tua keemasan, cukup keras, dan memiliki serat yang dekoratif.

Daun:

Daun trembesi termasuk daun majemuk ganda (bipinnately compound), khas famili Mimosoideae. Panjang daun keseluruhan mencapai 20–40 cm, tersusun dari 2–6 pasang ibu tangkai (pinnae), masing-masing memiliki 3–8 pasang anak daun (leaflets). Anak daun berbentuk lonjong asimetris, berukuran 2–5 cm × 1–3 cm, berwarna hijau tua di atas dan lebih pucat di bawah. Salah satu ciri paling dikenal trembesi adalah nyktinasti (nyctinasty) daun-daunnya akan menutup rapat menjelang sore/malam hari dan saat cuaca mendung atau menjelang hujan, sehingga menghasilkan bayangan yang lebih sedikit dan tetesan air dari kondensasi nokturnal jatuh ke tanah, membasahi area sekitar pohon.

Bunga:

Bunga trembesi tersusun dalam karangan berbentuk bola (globose head) berwarna putih dengan ujung benang sari berwarna merah muda hingga merah cerah, menciptakan tampilan seperti kembang api atau pompom yang indah. Diameter kepala bunga 3–5 cm. Bunga bersifat biseksual, dengan banyak benang sari panjang yang menjadi bagian paling mencolok. Trembesi berbunga sepanjang tahun di iklim tropis lembap, menjadi sumber nektar penting bagi lebah, kupu-kupu, dan burung pengisap madu.

 

 

Buah:

Buah trembesi berupa polong memanjang (legume), lurus atau sedikit melengkung, berukuran 15–25 cm panjang dan 1,5–2 cm lebar. Polong berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi hitam mengkilap saat masak. Daging buah (mesokarp) berwarna kehitaman, manis, dan dapat dimakan oleh manusia dan hewan ternak. Setiap polong berisi 15–25 biji keras berwarna cokelat. Polong tidak membuka sendiri (indehiscent) dan disebarkan oleh hewan yang memakan buahnya (endozoochory).

Akar:

Trembesi memiliki sistem perakaran yang dalam dan menyebar luas, dengan kemampuan fiksasi nitrogen atmosfer melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium di bintil akarnya ciri khas famili Fabaceae. Kemampuan fiksasi nitrogen ini menjadikan trembesi sebagai pohon yang dapat menyuburkan tanah di sekitarnya secara alami. Perakaran yang kuat namun dalam juga berkontribusi pada stabilitas pohon menghadapi angin kencang.

Informasi Etnobotani :

Trembesi telah diintegrasikan ke dalam kehidupan masyarakat tropis Asia selama lebih dari 200 tahun sejak introduksinya dari Amerika. Di Indonesia, pohon ini sangat lekat dengan budaya pedesaan Jawa sebagai pohon perindang jalan, naungan sawah, dan titik kumpul masyarakat (sanggar pamujan). Beberapa pohon trembesi tua di Jawa bahkan dianggap keramat dan menjadi objek ziarah budaya.

Sejarah

Samanea saman berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian utara, mencakup Venezuela, Kolombia, Peru, Ekuador, Panama, Kosta Rika, dan Meksiko bagian selatan. Di habitat aslinya, trembesi tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 m dpl, di hutan musim semi-gugur dan sabana tropis.

Introduksi ke Asia Tenggara:

Trembesi diperkenalkan ke Asia Tenggara oleh kolonialis Eropa, terutama Belanda dan Inggris, pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Di Hindia Belanda (Indonesia), trembesi mulai ditanam secara massal pada era Tanam Paksa (Cultuurstelsel, 1830–1870) sebagai pohon peneduh di sepanjang jalan-jalan perkebunan dan jalur pos (postweg). Jalan Daendels (Anyer–Panarukan) yang legendaris dihiasi dengan barisan pohon trembesi yang hingga kini masih berdiri sebagai saksi sejarah.

Trembesi di Jawa dan Yogyakarta:

Di Jawa, trembesi menjadi salah satu pohon jalan paling ikonik. Deretan trembesi tua di sepanjang jalan-jalan kabupaten dan jalan nasional di Jawa Tengah dan DIY menciptakan lorong hijau teduh yang menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap pedesaan Jawa. Di Yogyakarta, beberapa pohon trembesi berusia lebih dari 100 tahun masih berdiri megah di kawasan Kraton, Kota Gede, dan Imogiri.

Trembesi dan Program Penghijauan Nasional:

Pada era modern, trembesi menjadi andalan program penghijauan dan penanaman pohon nasional di Indonesia, termasuk dalam program One Billion Trees yang digagas mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kemampuan trembesi menyerap CO₂ dalam jumlah sangat besar diperkirakan satu pohon trembesi dewasa mampu menyerap 28,5 ton CO₂ per tahun menjadikannya primadona dalam program mitigasi perubahan iklim dan penghijauan perkotaan.

Status Naturalisasi:

Kini trembesi telah sepenuhnya ternaturalisasi di Indonesia dan kawasan tropis Asia lainnya, tumbuh liar di tepi hutan, pinggir jalan, dan lahan terlantar. Di beberapa negara seperti Hawaii, Australia, dan Fiji, trembesi bahkan dikategorikan sebagai spesies invasif yang perlu dikelola karena tajuknya yang sangat lebar dapat menekan tumbuhan lokal di bawahnya.

Manfaat

Trembesi merupakan pohon dengan spektrum manfaat yang sangat luas, mencakup fungsi ekologis, ekonomi, pangan, dan medis tradisional. Keunggulan utamanya terletak pada kombinasi antara pertumbuhan cepat, tajuk naungan yang luar biasa lebar, dan kemampuan menyerap karbon yang tidak tertandingi.

Manfaat Utama:

Pohon Peneduh Terbaik: Tajuk trembesi yang dapat mencapai diameter 30–60 m menjadikannya pohon peneduh paling efektif di kawasan tropis. Satu pohon trembesi dewasa mampu mendinginkan suhu udara di sekitarnya hingga 3–5°C dan mengurangi intensitas cahaya matahari hingga 70–90%, memberikan kenyamanan termal yang signifikan di lingkungan kampus dan perkotaan.

Penyerap Karbon Terbesar:

Trembesi dikenal sebagai salah satu pohon dengan kemampuan serapan CO₂ tertinggi. Satu pohon trembesi dewasa berdiameter tajuk 15 m diperkirakan menyerap sekitar 28,5 ton CO₂ per tahun, jauh melampaui kemampuan pohon-pohon lain pada umumnya. Hal ini menjadikan trembesi sangat strategis dalam program mitigasi perubahan iklim dan penghijauan kota.

Fiksasi Nitrogen Tanah: Bintil akar trembesi mengandung bakteri Rhizobium yang memfiksasi nitrogen bebas dari atmosfer menjadi nitrogen tersedia di tanah. Proses ini menyuburkan tanah di sekitar pohon secara alami, mengurangi kebutuhan pupuk nitrogen pada tanaman di bawah tajuknya.

Kayu dan Bahan Bangunan: Kayu trembesi berwarna cokelat keemasan dengan serat yang indah, cukup keras dan tahan lama. Digunakan untuk furnitur, ukiran, papan, dan kerajinan tangan. Di industri modern, kayu trembesi banyak dimanfaatkan untuk meja makan besar dari potongan melintang batang utuh (live edge table) yang kini sangat populer di pasar internasional.

Manfaat Etnobotani:

Pakan ternak: Polong dan daun trembesi merupakan sumber pakan berkualitas tinggi untuk sapi, kambing, dan kerbau. Kandungan protein kasar daun trembesi mencapai 18–22%, setara dengan legum pakan ternak unggul lainnya.

Buah sebagai pangan: Daging polong yang manis dapat dimakan langsung oleh manusia dan dikenal sebagai camilan tradisional di beberapa daerah di Jawa dan Amerika Latin.

Pengobatan tradisional: Kulit kayu trembesi mengandung senyawa aktif yang digunakan sebagai obat sakit perut, diare, dan luka bakar dalam pengobatan tradisional di berbagai negara tropis.

Manfaat Lainnya:

Bioinsektisida alami: Ekstrak biji trembesi terbukti memiliki aktivitas insektisida alami terhadap beberapa hama tanaman, berpotensi dikembangkan sebagai pestisida nabati ramah lingkungan.

Rehabilitasi lahan: Kombinasi pertumbuhan cepat, fiksasi nitrogen, dan toleransi terhadap tanah miskin menjadikan trembesi ideal untuk rehabilitasi lahan kritis dan revegetasi lahan pasca tambang.

Informasi Lain

Status Konservasi: Least Concern (Risiko Rendah) – IUCN. Trembesi tidak terancam punah dan populasinya sangat melimpah di seluruh kawasan tropis. Justru di beberapa negara statusnya sebagai spesies invasif yang perlu pengendalian.

Nama Daerah: Trembesi / Ki Hujan (Jawa), Munggur (Jawa Tengah/DIY), Kayu Ambon (Sulawesi), Johar Laut (Melayu), Saman Tree / Rain Tree / Monkey Pod (Inggris internasional), Acacia Pluie (Prancis), Zamang (Venezuela/asal).

Fenomena Nyktinasti: Penutupan daun trembesi menjelang hujan atau malam hari bukan bersifat prediktif cuaca, melainkan respons terhadap penurunan intensitas cahaya. Ketika daun menutup, air kondensasi dari kelembapan udara malam terkumpul di tajuk dan jatuh ke tanah — inilah yang membuat tanah di bawah trembesi selalu terasa lebih lembap dan basah, seolah hujan terus-menerus.

Rekor Tajuk: Pohon trembesi tertua dan terbesar di Indonesia diperkirakan berdiameter tajuk lebih dari 50 m. Beberapa pohon trembesi di Jawa yang berusia lebih dari 150 tahun masih berdiri kokoh dan telah ditetapkan sebagai Pohon Warisan oleh pemerintah daerah.

Serapan Karbon vs Pohon Lain: Kemampuan serapan CO₂ trembesi (±28,5 ton/tahun/pohon) dibandingkan dengan pohon lain: Mahoni (±1,0 ton), Jati (±0,9 ton), Sengon (±0,6 ton). Keunggulan ini menjadikan setiap pohon trembesi di kampus UAD setara dengan menanam ±30 pohon mahoni dalam hal kontribusi terhadap penurunan emisi karbon.

Nilai Edukasi di Kampus UAD: Trembesi di kampus UAD merupakan laboratorium alam terbuka untuk berbagai disiplin ilmu: Botani dan Fisiologi Tumbuhan (nyktinasti, fiksasi nitrogen), Ekologi (interaksi simbiosis Rhizobium, keanekaragaman fauna di tajuk), Teknik Lingkungan (serapan karbon dan pengurangan panas perkotaan/urban heat island), serta Ilmu Kehutanan dan Agronomi (rehabilitasi lahan dan agroforestri).

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960