Tanjung

(Bunga Tanjung, Spanish Cherry, Bullet Wood)

Mimusops elengi L.

Fam. Sapotaceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Mimusops elengi L., 1753

Diterbitkan dalam Species Plantarum 1: 349 (1753)

Nama genus Mimusops berasal dari bahasa Yunani: mimos (kera/pelawak) dan ops (wajah/penampilan), yang secara keseluruhan bermakna “wajah kera” kemungkinan merujuk pada bentuk mahkota bunga yang dianggap menyerupai wajah kera. Nama spesies elengi berasal dari nama lokal pohon ini dalam bahasa Tamil/Sansekerta, elengi atau iluppai, yang sudah digunakan di India jauh sebelum klasifikasi ilmiah modern. Nama ilmiah ini ditetapkan oleh Carl Linnaeus dalam edisi pertama Species Plantarum (1753).

Sinonim heterotipik :

Mimusops elengi var. parvifolia R.Br., 1810

Mimusops elengi var. acutifolia DC., 1844

Kaukenia elengi (L.) Kuntze, 1891

Manilkara elengi (L.) Dubard, 1912

Klasifikasi :

Kingdom    : Plantae

Divisi          : Magnoliophyta

Kelas           : Magnoliopsida

Subkelas    : Dilleniidae

Ordo           : Ebenales

Famili         : Sapotaceae

Genus        : Mimusops

Spesies      : Mimusops elengi, L.

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Mimusops elengi L., yang dikenal luas dengan nama tanjung atau bunga tanjung, adalah pohon tropis berdaun hijau abadi dari famili Sapotaceae. Pohon ini sangat dikenal di Indonesia khususnya di Jawa dan Bali karena bunganya yang kecil berwarna putih kekuningan dengan aroma harum yang sangat kuat dan khas, terutama di malam hari. Tanjung merupakan salah satu pohon budaya paling ikonik dalam tradisi Jawa dan Hindu Bali, serta dikenal luas sebagai pohon peneduh perkotaan yang indah dan tahan lama.

Batang dan Percabangan:

Tanjung tumbuh sedang hingga besar dengan tinggi 10–20 m dan diameter batang 40–80 cm. Batangnya tegak, silindris, dengan kulit batang berwarna abu-abu gelap hingga kecokelatan, beralur dangkal dan cenderung mengelupas dalam kepingan kecil. Percabangan mulai dari ketinggian rendah hingga sedang, membentuk tajuk yang lebat, rimbun, dan berbentuk kubah (dome-shaped) yang sangat indah. Kayunya keras, padat, dan berwarna merah kecokelatan dikenal sebagai bullet wood karena kekerasannya.

Daun:

Daun tanjung termasuk daun tunggal, bertangkai pendek, tersusun spiral atau berselang-seling (alternate). Bentuk daun lonjong hingga oval (elliptic-ovate), berukuran 5–14 cm panjang dan 3–7 cm lebar. Ujung daun tumpul atau sedikit meruncing, pangkal membaji atau membulat, tepi rata (entire). Permukaan daun atas berwarna hijau tua mengkilap seperti dilapisi lilin (lustrous), permukaan bawah lebih pucat. Daun bersifat persisten (hijau abadi/evergreen) dan memberikan naungan yang padat sepanjang tahun. Tulang daun menyirip dengan tulang lateral yang melengkung rapi sebelum menyentuh tepi daun.

Bunga:

Bunga tanjung adalah bagian yang paling dikenal dan paling bernilai. Berukuran kecil (diameter 1–1,5 cm), berwarna putih kekuningan hingga krem, dengan 8 kelopak yang terbagi menjadi dua lingkaran, masing-masing 4 kelopak. Benang sari berjumlah 8. Bunga muncul soliter atau dalam kelompok kecil di ketiak daun (axillary), sehingga seringkali tersembunyi di balik dedaunan. Meskipun kecil dan tidak mencolok secara visual, bunga tanjung menghasilkan aroma harum yang sangat kuat terutama saat malam hari dan setelah gugur ke tanah. Satu pohon tanjung yang sedang berbunga dapat mewangikan area dalam radius puluhan meter. Tanjung berbunga sepanjang tahun dengan intensitas tertinggi pada musim kemarau.

Buah:

Buah tanjung berupa buah buni (berry), berbentuk bulat telur hingga lonjong, berukuran 2–3,5 cm. Buah muda berwarna hijau dan berubah menjadi merah oranye hingga merah cerah saat masak, menciptakan kontras warna yang indah di antara dedaunan hijau tua. Daging buah berwarna oranye, manis, dan dapat dimakan. Setiap buah mengandung 1–4 biji keras berwarna cokelat mengkilap. Buah masak disebarkan oleh burung dan mamalia kecil (zoochory).

Akar:

Sistem perakaran tanjung dalam dan kuat, menjadikannya pohon yang sangat tahan angin dan tahan kekeringan. Akarnya tidak invasif terhadap infrastruktur sehingga ideal untuk penanaman di tepi jalan, trotoar, dan area kampus. Tanjung juga toleran terhadap berbagai jenis tanah, termasuk tanah berbatu, tanah berpasir, dan tanah berkapur.

Informasi Etnobotani :

Bunga tanjung yang harum memiliki tempat yang sangat istimewa dalam budaya Jawa dan Bali. Dalam tradisi Jawa, bunga tanjung digunakan sebagai salah satu komponen utama dalam kembang setaman campuran bunga segar untuk sesaji, ritual pernikahan, dan upacara keagamaan. Namanya pun diabadikan dalam lagu keroncong legendaris “Bengawan Solo” (“bunga tanjung di tepi kali”) dan berbagai karya sastra Jawa klasik.

Sejarah

Mimusops elengi dipercaya berasal dari kawasan India Selatan, Sri Lanka, dan Asia Tenggara bagian barat, termasuk Myanmar, Thailand, dan Semenanjung Malaya. Dari wilayah asalnya, tanjung telah menyebar dan dibudidayakan di seluruh kawasan tropis Asia dari Pakistan hingga Filipina dan kepulauan Pasifik barat jauh sebelum era kolonialisme Eropa, terutama melalui jalur perdagangan dan pengaruh budaya Hindu-Buddha.

Tanjung dalam Peradaban India Kuno:

Tanjung memiliki catatan sejarah penggunaan yang sangat panjang di India. Bunga dan kayunya disebutkan dalam teks Sansekerta kuno, termasuk Arthashastra (abad ke-4 SM) karya Kautilya dan berbagai teks Ayurveda seperti Charaka Samhita. Di India, tanjung dikenal sebagai Bakul dan dianggap sebagai pohon suci yang sering ditanam di kuil-kuil Hindu dan Buddha. Menurut legenda Hindu, bunga tanjung merupakan bunga kesayangan dewa Wisnu dan digunakan dalam pemujaan Lakshmi.

Masuk ke Nusantara:

Tanjung masuk ke Nusantara diperkirakan bersamaan dengan penyebaran pengaruh Hindu-Buddha dari India antara abad ke-1 hingga ke-8 M. Para pedagang, brahmana, dan biksu yang berlayar ke Jawa, Bali, dan Sumatera membawa serta tanaman-tanaman suci termasuk tanjung. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa tanjung sudah ditanam di kompleks candi-candi Hindu-Buddha di Jawa sejak abad ke-8–10 M, termasuk di kompleks Candi Prambanan dan Borobudur.

Tanjung dalam Budaya Keraton Yogyakarta:

Di Yogyakarta, tanjung memiliki kedudukan budaya yang tinggi. Pohon tanjung tua masih terdapat di halaman Keraton Yogyakarta, Taman Sari, dan berbagai kompleks makam raja-raja Mataram. Bunga tanjung adalah salah satu komponen utama kembang setaman yang digunakan dalam berbagai upacara Keraton, mulai dari siraman pengantin hingga haul di makam Imogiri. Aroma bunga tanjung yang khas bahkan menjadi penanda waktu bagi masyarakat Jawa ketika harum tanjung tercium kuat di malam hari, pertanda alam sedang dalam keadaan harmonis.

Dokumentasi Ilmiah Eropa:

Georg Eberhard Rumphius (1628–1702) mendokumentasikan tanjung secara rinci dalam Herbarium Amboinense dengan nama Bonum Malum. Linnaeus kemudian menetapkan nama ilmiahnya berdasarkan spesimen dari India pada 1753. Sejak itu tanjung menjadi salah satu pohon tropis yang paling banyak diteliti dalam konteks etnobotani, farmakologi, dan aromatik oleh ilmuwan Eropa dan Asia.

Manfaat

Tanjung merupakan pohon dengan nilai manfaat yang sangat beragam  dari wewangian alami, pengobatan tradisional, hingga fungsi ekologis dan spiritual. Di antara pohon-pohon peneduh tropis, tanjung memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak pohon lain: kemampuannya mengharumkan lingkungan secara alami.

Manfaat Utama:

Wewangian Alami Berkelas Tinggi: Bunga tanjung mengandung senyawa aromatik utama berupa benzyl benzoate, benzyl salicylate, α-terpineol, dan linalool. Minyak atsiri bunga tanjung telah digunakan selama berabad-abad dalam industri parfum tradisional India (attar) dan kini mulai dieksplorasi kembali oleh industri parfum modern sebagai alternatif bahan wewangian alami premium.

Pohon Peneduh Berkualitas Tinggi: Tajuk tanjung yang lebat dan berbentuk kubah memberikan naungan yang sangat efektif. Daunnya yang hijau abadi menjamin ketersediaan naungan sepanjang tahun. Ketahanannya terhadap polusi udara, kekeringan, dan kondisi perkotaan menjadikan tanjung salah satu pohon peneduh terbaik untuk lingkungan kampus dan kota.

Kayu Keras Berkualitas (Bullet Wood): Kayu tanjung berwarna merah kecokelatan, sangat keras, padat, dan tahan lama. Digunakan untuk konstruksi berat, tiang bangunan, jembatan kayu, perkakas pertanian, dan ukiran halus. Kekerasannya bahkan dijadikan sebutan internasional: bullet wood (kayu peluru).

Pengobatan Tradisional Ayurveda dan Jamu:

Bunga: digunakan sebagai tonik jantung, astringen, dan penguat gigi-gusi dalam Ayurveda; air rebusan bunga untuk berkumur menguatkan gigi.

Kulit kayu: mengandung saponin dan glikosida, digunakan sebagai obat demam, diare, disentri, dan penyakit gigi.

Biji: mengandung minyak non-drying (mowrah butter) yang digunakan sebagai pelembap kulit dan bahan obat tradisional.

Buah: dimakan segar sebagai tonik dan sumber energi; manis dan bergizi.

Manfaat Etnobotani:

Kembang setaman dan ritual Jawa: Bunga tanjung adalah salah satu dari lima bunga wajib dalam kembang setaman (bersama mawar, melati, kenanga, dan kantil), digunakan dalam siraman pernikahan, selametan, dan haul.

Parfum rambut tradisional: Wanita Jawa secara tradisional menyimpan bunga tanjung segar di antara lipatan kain atau di sanggul rambut sebagai wewangian alami.

Pewarna alami: Kulit buah dan biji tanjung mengandung pigmen yang digunakan sebagai pewarna alami dalam batik dan kerajinan tradisional di beberapa daerah.

Informasi Lain

Status Konservasi: Least Concern (Risiko Rendah) IUCN. Tanjung tidak termasuk spesies terancam punah dan populasinya stabil berkat budidaya luas di Asia. Namun pohon-pohon tanjung tua di hutan alam primer terus berkurang akibat penebangan dan konversi lahan.

Nama Daerah: Tanjung / Bunga Tanjung (Jawa/Indonesia), Keupula (Aceh), Tanjung (Melayu/Sunda/Bali), Bakul (Hindi/India), Elengi / Maulsari (Sansekerta/Tamil), Spanish Cherry/Bullet Wood/Medlar (Inggris internasional).

Fenologi Berbunga: Tanjung berbunga sepanjang tahun, namun puncak pembungaan terjadi pada musim kemarau (April–Oktober di Jawa). Bunga mekar dan menghasilkan aroma paling kuat pada malam hari, sehingga disebut juga sebagai pohon pewangi malam. Bunga yang gugur ke tanah tetap mewangi selama 1–3 hari  menjadikan tanah di bawah pohon tanjung selalu harum.

Kandungan Kimia Bunga: Analisis fitokimia bunga tanjung menunjukkan kandungan: Benzyl benzoate, Benzyl salicylate, α-Terpineol, Linalool, Geraniol, Farnesol, β-Ionone. Kombinasi senyawa ini menghasilkan aroma bunga yang kompleks, manis, dan tahan lama yang sangat dihargai dalam industri parfum.

Simbol Budaya Jawa-Yogyakarta: Bunga tanjung adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Jawa dan Yogyakarta. Selain dalam upacara adat, bunga tanjung disebutkan dalam berbagai tembang macapat, geguritan (puisi Jawa), dan karya sastra Jawa klasik sebagai simbol kehalusan budi, kesucian, dan keabadian. Kehadirannya di kampus UAD Yogyakarta merupakan jembatan budaya antara tradisi leluhur dan dunia pendidikan modern.

Nilai Edukasi di Kampus UAD: Pohon tanjung di kampus UAD relevan sebagai objek multidisiplin: Botani (morfologi bunga tersembunyi dan fenologi berbunga malam), Farmakognosi dan Kimia Bahan Alam (kandungan minyak atsiri kompleks), serta Arsitektur Lansekap (pohon peneduh berbentuk kubah yang estetis dan non invasif terhadap infrastruktur kampus).

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960