Pule
(Pulai, Devil Tree, Blackboard Tree, White Cheesewood)
Alstonia scholaris (L.) R.Br.
Fam. Apocynaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Alstonia scholaris (L.) R.Br., 1811
Diterbitkan dalam On the Asclepiadeae: 64 (1811)
Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Linnaeus sebagai Echites scholaris pada 1767 dalam Mantissa Plantarum. Kemudian direklasifikasi oleh Robert Brown (1773–1858), ahli botani Skotlandia terkenal yang juga dikenal karena penemuan “gerak Brown”, ke dalam genus Alstonia pada 1811. Nama genus Alstonia diberikan untuk menghormati Charles Alston (1683–1760), profesor botani dari Universitas Edinburgh, Skotlandia. Nama spesies scholaris berasal dari bahasa Latin yang berarti “sekolah” merujuk pada kebiasaan penggunaan kayu pule sebagai papan tulis sekolah (blackboard) di India dan Asia Tenggara pada masa lampau, sebelum era papan tulis modern.
Sinonim heterotipik :
Echites scholaris L., 1767
Alstonia grandiflora A.DC., 1844
Alstonia kurzii Hook.f., 1882
Pala scholaris (L.) Roberty, 1953
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Famili : Apocynaceae
Genus : Alstonia
Spesies : Alstonia scholaris, (L.) R.Br.
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Alstonia scholaris (L.) R.Br. merupakan pohon tropis berkayu besar (arbor) yang tergolong dalam famili Apocynaceae. Spesies ini dicirikan oleh tiga karakter diagnostik utama:
- Perawakan cabang dan phyllotaxis daun tersusun melingkar (verticillate).
- Eksudat berupa getah putih susu (latex) yang melimpah pada seluruh bagian organ vegetatif maupun generatif.
- Aroma bunga yang pekat (fragrant) dengan aktivitas pelepasan senyawa volatil yang meningkat pada malam hari (nocturnal pollination syndrome).
Batang dan Percabangan (Caulis et Ramificatio):
Alstonia scholaris berperawakan pohon besar dengan tinggi berkisar antara 15 hingga 40 meter dan diameter batang setinggi dada (diameter at breast height/DBH) mencapai 60–150 cm pada individu tua. Batang tumbuh tegak, silindris, dan lurus. Kulit batang (cortex) berwarna abu-abu terang hingga putih keabu-abuan, berserat halus hingga beralur dangkal, serta mengelupas dalam bentuk kepingan tipis.
Jaringan kulit batang mengandung saluran getah (laticifer) yang mengeluarkan getah berwarna putih susu secara melimpah saat mengalami koakan atau luka mekanis. Pola percabangan tersusun dalam lingkaran pada satu nodus (verticillate), sehingga membentuk arsitektur tajuk bertingkat yang menyerupai kandelabra (candelabra-like crown).
Daun (Folium):
Daun tergolong daun tunggal (folium simplex) dengan filotaksis melingkar (folia verticillata) yang terdiri atas 4–9 helai daun per nodus. Helai daun berbentuk bulat telur terbalik (obovatus) hingga spatula (spatulatus), dengan ukuran panjang 7–20 cm dan lebar 2,5–7 cm. Ujung daun membulat (rotundatus) atau sedikit berlekuk (emarginatus), sedangkan pangkal daun meruncing (cuneatus).
Pertulangan daun menyirip (penninervis) dengan urat daun sekunder rapat (20–60 pasang), sejajar, dan membentang hampir tegak lurus terhadap tulang daun utama (costa). Permukaan adaksial (atas) daun berwarna hijau tua mengkilap (nitidus), sedangkan permukaan abaksial (bawah) berwarna hijau pucat hingga sedikit keabu-abuan (glaucous). Tepi daun rata (integer).
Bunga (Flos):
Bunga tersusun dalam perbungaan majemuk berbatas tipe malai rata (corymbose cyme) yang muncul di bagian terminal. Bunga berukuran kecil, bersifat biseksual, dan aktinomorf. Taju mahkota (corolla) berbentuk tabung (tubular) dengan lima cuping yang mekar menyerupai bintang, berwarna putih hingga putih kekuningan.
Bunga menghasilkan senyawa aromatis volatil secara intensif pada malam hari. Mekanisme ini berfungsi untuk menarik organisme penyerbuk nocturnus (sphingophily). Periode antesis terjadi satu hingga dua kali dalam setahun.
Buah dan Biji (Fructus et Semen):
Buah berupa buah ganda tipe folikel berpasangan (paired follicles) yang menggantung silindris memanjang. Buah memiliki panjang 20–50 cm dan diameter 0,3–0,5 cm. Biji berbentuk pipih, berwarna cokelat, berukuran 1,5–2 cm, serta memiliki sekumpulan rambut halus (coma) pada ujungnya. Struktur coma berfungsi mempermudah pemencaran biji oleh angin (anemochory).
Akar (Radix):
Alstonia scholaris memiliki sistem perakaran tunggang (radix primaria) yang dalam dan kuat. Pada spesimen tua yang tumbuh di habitat berkelembapan tinggi, bagian pangkal batang sering berkembang membentuk akar papan atau banir (buttress roots) untuk meningkatkan stabilitas mekanis pohon.
Informasi Etnobotani :
Dalam etnobotani masyarakat Jawa, Alstonia scholaris memiliki nilai spiritual, budaya, dan medis yang signifikan:
- Etnofarmakologi (Jamu): Kulit batang pule (cortex alstoniae) dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan baku jamu pahitan untuk meredakan demam, malaria, dan gangguan sistem pencernaan. Kandungan senyawa aktif utamanya meliputi kelompok alkaloid (echitamine dan alstonine).
- Kebudayaan: Kayu pule memiliki bobot ringan, struktur serat yang relatif halus, serta kemudahan dalam proses pemahatan. Oleh karena itu, kayu ini secara khusus digunakan sebagai bahan baku pembuatan wayang kulit, wayang golek (terutama tokoh Punakawan), dan topeng tradisional.
Peran Ekologis dan Sosial: Individu pohon tua berukuran besar kerap dipertahankan oleh masyarakat lokal sebagai penanda ruang ekologis, pelindung kawasan tangkapan air (recharge area), dan elemen vegetasi dalam lanskap budaya
Sejarah
Alstonia scholaris (L.) R.Br. memiliki wilayah distribusi alami yang sangat luas, meliputi kawasan tropis dan subtropis di Asia Selatan (India, Sri Lanka, dan Nepal), Tiongkok bagian selatan, kawasan Asia Tenggara, hingga Australia bagian utara dan Papua Nugini.
Di Indonesia, spesies ini merupakan vegetasi alami yang tersebar di hampir seluruh pulau besar dan kepulauan, meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Secara ekologis, A. scholaris tumbuh pada rentang habitat yang bervariasi, mulai dari hutan hujan dataran rendah hingga hutan pegunungan bawah pada ketinggian 0–1.200 meter di atas permukaan laut (m dpl).
Pule sebagai “Blackboard Tree”:
Etimologi epitat spesifik scholaris pada Alstonia scholaris (L.) R.Br. memiliki keterkaitan historis dengan kebudayaan material pedagogis di Asia Selatan. Pada era pra-kolonial hingga kolonial Inggris di India, kayu A. scholaris secara luas dimanfaatkan sebagai media papan tulis alami pada sistem pendidikan tradisional (gurukul).
Pemanfaatan tersebut didasari oleh karakteristik fisika kayu yang berbobot ringan, berwarna putih terang, serta memiliki permukaan halus setelah melalui proses pengamplasan. Murid-murid menuliskan materi pembelajaran di atas papan kayu pule menggunakan batu kapur atau pigmen tinta alami.
Praktik pemanfaatan papan tulis kayu yang berlangsung secara berkelanjutan tersebut melatarbelakangi penamaan komersial spesies ini dalam bahasa Inggris sebagai blackboard tree. Secara taksonomis, aspek signifikansi sejarah dan kultural tersebut diabadikan oleh ahli botani Robert Brown melalui penetapan epitat spesifik scholaris (berasal dari bahasa Latin yang berarti “terkait dengan sekolah atau pembelajaran”)
Pule dalam Tradisi Jawa dan Pewayangan:
Dalam kebudayaan Jawa, Alstonia scholaris menempati kedudukan yang signifikan dalam ranah kriya tradisional maupun simbolisme spiritual. Secara historis, kayu A. scholaris dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pembuatan wayang (khususnya wayang golek dan tatahan kayu wayang kulit). Material kayu ini secara khusus diprioritaskan dalam pembuatan figur Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang merepresentasikan kearifan lokal serta punjer kebijaksanaan rakyat dalam filsafat Jawa.
Pemilihan kayu A. scholaris tidak hanya didasari oleh sifat fisika-mekanisnya seperti bobot yang ringan, kerapatan serat yang stabil, dan kemudahan dalam proses pemahatan tetapi juga ditinjau dari aspek simbolis. Dalam kosmologi spiritual masyarakat Jawa, kayu pule dipercaya memiliki sifat ngemong (mengayomi dan membimbing), sehingga dinilai selaras untuk merepresentasikan karakter-karakter figur pemimipin dan penasihat yang bijaksana.
Peran dalam Pengobatan Tradisional Asia:
Alstonia scholaris telah lama dimanfaatkan dalam sistem pengobatan tradisional Asia. Dalam tradisi pengobatan Ayurveda di India, spesies ini dikenal dengan nama Sanskerta Saptaparna (merujuk pada filotaksis daun yang umumnya berjumlah tujuh helai per nodus). Pemanfataan medikamentosa spesies ini telah terdokumentasi dalam literatur medis kuno, seperti Charaka Samhita dan Sushruta Samhita (sekitar 600 SM–200 M), sebagai terapi tradisional untuk mengatasi malaria, demam (antipiretik), dan gangguan saluran pernapasan.
Di Jawa, jaringan kulit batang (cortex) A. scholaris merupakan salah satu komponen utama dalam formulasi racikan jamu tradisional (khususnya jamu pahitan). Secara historis, simplisia kulit batang ini dimanfaatkan oleh praktisi pengobatan tradisional (husada/tabib) untuk meredakan gejala malaria, demam berkepanjangan, serta gangguan sistem pencernaan.
Fitokimia dan Aktivitas Farmakologis Modern:
Memasuki abad ke-20, Alstonia scholaris menjadi subjek eksplorasi fitokimia dan farmakologi secara intensif berkat keanekaragaman senyawa metabolit sekundernya, khususnya kelompok alkaloid. Berbagai studi berhasil mengisolasi lebih dari 50 jenis senyawa alkaloid indol dari bermacam organ tumbuhan ini, di antaranya echitamine, ditamine, scholarine, dan piculamine.
Uji aktivitas biologis secara in vitro maupun in vivo mengonfirmasi bahwa fraksi alkaloid terisolasi dari A. scholaris memiliki potensi farmakologis yang signifikan, mencakup aktivitas antimalaria, sitotoksik (antikanker), dan antiinflamasi. Temuan riset modern ini memberikan dasar ilmiah (evidence-based) terhadap pemanfaatan etnofarmakologis A. scholaris sebagai salah satu tanaman obat potensial di kawasan Asia Tenggara.
Manfaat
Alstonia scholaris (L.) R.Br. merupakan spesies pohon multifungsi yang seluruh bagian organ vegetatif maupun generatifnya—meliputi kayu, kulit batang, getah, daun, dan bunga—memiliki nilai guna luas. Pemanfaatan berbagai organ tumbuhan ini telah terdokumentasi secara terstruktur, baik dalam sistem etnofarmakologi tradisional maupun pembuktian melalui pengujian ilmiah modern.
Manfaat Utama:
Elemen Lanskap dan Ruang Terbuka Hijau (RTH):
Alstonia scholaris dimanfaatkan secara meluas sebagai pohon peneduh dan tanaman hias pada lanskap perkotaan maupun area kampus. Keunggulan arsitekturalnya didukung oleh tajuk yang melebar, pola percabangan melingkar (verticillate), serta estetika filotaksis daunnya. Selain itu, emisi senyawa volatil dari bunganya memberikan interaksi olfaktori yang khas pada ekosistem sekitar.
Properti Fisika-Mekanis dan Kegunaan Kayu:
Kayu A. scholaris berwarna putih gading hingga kekuningan, berbobot ringan, memiliki tingkat kekerasan lunak hingga sedang, serta berserat lurus dan halus. Karakteristik ini memberikan nilai kemudahan pengerjaan (workability) yang tinggi. Kayu ini dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan ukiran kriya tradisional (seperti tatahan wayang), kerajinan mainan, perabot ringan, papan kemasan, korek api, hingga industri bubur kayu (pulp). Secara historis di India, kayu spesies ini dimanfaatkan sebagai papan tulis alami (blackboard).
Pemanfaatan Etnofarmakologi Kulit Batang:
Jaringan kulit batang (cortex) mengandung kelompok senyawa alkaloid kompleks dan telah lama digunakan dalam sistem pengobatan tradisional (seperti Jamu di Jawa dan Ayurveda di India). Simplisia kulit batang ini berfungsi sebagai antipiretik (penurun demam), antimalaria, tonik pahit (bitter tonic) untuk merangsang nafsu makan, serta pengobatan simptomatis pada gangguan saluran pernapasan (asma dan batuk kronis) serta pencernaan (disentri).
Aplikasi Eksudat Getah (Latex):
Getah berwarna putih susu yang dihasilkan dari saluran laticifer dimanfaatkan secara tradisional sebagai agens topikal untuk mempercepat penyembuhan luka terbuka, mengobati infeksi lokal (bisul), dan meredakan nyeri tenggorokan atau sakit gigi. Dalam konteks lokal tertentu, getah terkoagulasi/kering dimanfaatkan sebagai bahan pengganti resin alami.
Manfaat Ilmiah dan Fitofarmaka:
Aktivitas Antimalaria:
Isolat alkaloid echitamine dari kulit batang Alstonia scholaris terbukti secara ilmiah memiliki aktivitas antimalaria terhadap Plasmodium falciparum. Temuan ini mengindikasikan potensi senyawa tersebut sebagai kandidat agens antimalaria baru maupun bahan baku suplemen pendamping terapi sintetis.
Potensi Sitotoksik (Antikanker):
Sejumlah senyawa alkaloid indol yang diisolasi dari A. scholaris, di antaranya scholaricine dan 19-epi-scholaricine, menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap beberapa galur sel kanker (cancer cell lines) pada pengujian secara in vitro. Aktivitas ini membuka peluang pengembangan kandidat agens kemoterapi berbasis bahan alam.
Mekanisme Antiinflamasi:
Ekstrak kulit batang A. scholaris terbukti secara signifikan mampu menghambat kerja mediator inflamasi, khususnya melalui penekanan ekspresi enzim siklooksigenase-2 (COX-2) dan sintesis prostaglandin. Bukti farmakologis ini memberikan dasar ilmiah (evidence-based) atas pemanfaatan tradisionalnya dalam meredakan edema (pembengkakan) dan nyeri sendi.
Aktivitas Antimikroba (Antibakteri dan Antijamur):
Minyak atsiri serta ekstrak pelarut organ daun A. scholaris menunjukkan daya hambat (zone of inhibition) yang signifikan terhadap spektrum bakteri patogen dan kapang oportunistik.
Manfaat Lainnya:
Penyerap polutan udara: Pule dikenal sebagai salah satu pohon dengan kemampuan tinggi menyerap polutan udara perkotaan, termasuk partikulat halus (PM2.5), SO₂, dan NO₂, menjadikannya pilihan strategis untuk penghijauan kota.
Sumber nektar: Bunga pule yang harum dan berlendir menjadi sumber nektar penting bagi lebah madu, kupu-kupu malam, dan ngengat mendukung keanekaragaman fauna penyerbuk di kampus UAD.
Informasi Lain
Status Konservasi: Least Concern (Risiko Rendah) – IUCN. Pule tidak terancam punah dan populasinya masih melimpah di Asia Tropis. Namun eksploitasi kulit batang untuk keperluan farmasi tradisional di beberapa wilayah perlu diperhatikan agar tidak mengganggu populasi liar.
Nama Daerah: Pule / Pulai (Jawa/Indonesia), Lame (Sunda), Rite (Timor), Puleh (Melayu), Saptaparna (Sansekerta/India), Dita (Filipina), Blackboard Tree/ Devil Tree / White Cheesewood (Inggris), Chatian (Bangladesh).
Mengapa “Devil Tree”?: Nama “devil tree” dalam bahasa Inggris berasal dari kepercayaan masyarakat India dan Asia Tenggara bahwa pohon pule tua yang besar menjadi tempat tinggal roh halus atau makhluk gaib. Aroma bunganya yang sangat kuat di malam hari, getah putih yang mengalir seperti darah, dan percabangannya yang dramatis memperkuat aura mistis pohon ini. Di Jawa, pule tua memang sering dianggap sebagai pohon bertuah yang dihuni kekuatan spiritual.
Ciri Diagnostik Unik: Tiga ciri yang langsung membedakan pule dari pohon lain:
- daun melingkar (whorl) 4–9 daun tersusun melingkar di setiap ruas ranting;
- getah putih melimpah mengalir deras saat ranting dipatahkan;
- buah polong berpasangan panjang (20–50 cm) menggantung seperti pasangan pensil. Ketiga ciri ini bersama-sama tidak ditemukan pada pohon lain.
Alkaloid Pule dan Potensi Farmasi: Lebih dari 50 alkaloid indol monoterpenoid telah diisolasi dari Alstonia scholaris, menjadikannya salah satu sumber alkaloid terkaya di dunia tumbuhan. Senyawa-senyawa ini termasuk dalam kelompok Corynanthe-type alkaloids dan Strychnos-type alkaloids. Penelitian aktif terus berlangsung di laboratorium farmasi di India, Malaysia, Tiongkok, dan Indonesia untuk mengembangkan obat antimalaria dan antikanker berbasis alkaloid pule.
Nilai Edukasi di Kampus UAD: Pohon pule di kampus UAD merupakan objek pembelajaran untuk berbagai disiplin: Botani (morfologi whorl unik, anatomi lateks Apocynaceae), Farmakognosi dan Kimia Bahan Alam (lebih dari 50 alkaloid indol), Farmasi (potensi antimalaria, antikanker), Ekologi (penyerap polutan PM2.5), Antropologi dan Budaya Jawa (wayang kulit, pohon keramat), serta Sejarah Sains (nama scholaris dan tradisi papan tulis India). Satu pohon seribu pelajaran.



