Matoa
(Pacific Lychee, Island Lychee, Tava, Taun Tree)
Pometia pinnata J.R.Forst. & G.Forst.
Fam. Sapindaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Pometia pinnata. J.R.Forst. & G.Forst., 1776.
Diterbitkan dalam Characteres Generum Plantarum, ed. 2 (1776)
Nama genus Pometia kemungkinan merujuk kepada Pierre Pomet (1658–1699), ahli farmasi Perancis. Epitet spesifik pinnata berasal dari bahasa Latin berarti ‘bersirip’, merujuk pada bentuk daun majemuk menyirip. Matoa bukan genus monotipik genus Pometia mencakup beberapa spesies, namun Pometia pinnata adalah yang paling dikenal secara ekonomi dan ekologi.
Sinonim heterotipik:
Aporetica pinnata (J.R.Forst. & G.Forst.) DC., 1824
Nephelium pinnatum (J.R.Forst. & G.Forst.) Cambess., 1829
Euphoria pometia Poir., 1823
Pometia tomentosa (Blume) Teijsm. & Binn., 1853
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Sapindaceae
Genus : Pometia
Spesies : Pometia pinnata J.R.Forst. & G.Forst.
(IUCN Red List, 2019; Plantamor)
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Pometia pinnata J.R.Forst. & G.Forst., yang dikenal di Papua dan Nusantara dengan nama matoa, adalah pohon buah tropis besar dari famili Sapindaceae. Berasal dari wilayah Papua, Indonesia, matoa tersebar luas hingga kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Sering dijuluki “Permata Papua“, buah matoa memiliki cita rasa unik perpaduan rambutan, kelengkeng, dan kelapa, menjadikannya buah paling ikonik dari Bumi Cenderawasih.
Batang dan Percabangan:
Pohon matoa tergolong pohon besar yang dapat mencapai tinggi 20–50 m di habitat alami, dengan diameter batang hingga 1,8 m. Dalam kondisi budidaya, ketinggian umumnya berkisar 15–30 m. Batang tegak, silindris, berkambium, dengan kulit kayu berwarna abu-abu hingga coklat bertekstur kasar dan beretakan vertikal pada pohon tua. Kayu matoa termasuk kayu keras tropis (hardwood) berwarna coklat kemerahan bernilai ekonomi tinggi, dengan nilai kalori panas mencapai 20.659 kJ/g (Gusamo et al., 2022), memenuhi standar bahan bakar biomassa internasional.
Daun:
Daun matoa berupa daun majemuk menyirip (pinnate compound leaf) dengan 4–13 pasang anak daun (leaflet) tersusun berhadapan atau hampir berhadapan. Setiap anak daun berbentuk lonjong hingga lonjong-memanjang, berukuran besar, permukaan atas berkilat dan permukaan bawah lebih pucat. Daun muda matoa berwarna merah cerah (ciri khas famili Sapindaceae), kemudian berubah menjadi hijau. Tepi daun berombak (sinuate), ujung daun meruncing. Secara mikroskopis, daun mengandung stomata, nukleus sel, serta jaringan xylem dan floem yang khas (Sutomo et al., 2021).
Bunga:
Bunga matoa tersusun dalam malai (panicle) bercabang sepanjang 8–30 cm dengan 4–16 cabang bunga dalam infloresensi monopodial. Bunga berukuran kecil, berwarna hijau kekuningan hingga putih. Pohon matoa mulai berbunga pada akhir musim kemarau (Juni–Juli), mencapai puncak berbunga penuh pada bulan September. Periode rata-rata dari munculnya kuncup generatif hingga anthesis adalah 56 hari. Pembentukan ovarium terjadi sekitar 9–12 hari setelah anthesis (Agusri et al., 2024).
Buah:
Buah matoa berbentuk lonjong hingga oval, berukuran panjang 1,5–5 cm dengan diameter 1–3 cm. Kulit buah muda berwarna hijau, kemudian berubah sesuai kultivar: merah, kuning, hijau, hitam, atau ungu saat matang. Daging buah berwarna putih bening, bertekstur kenyal-lembut, berasa manis dengan aroma khas. Berat buah 5–25 g per buah (Yuniastuti et al., 2024). Setiap buah mengandung satu biji besar berbentuk bulat-lonjong berwarna coklat, mengandung minyak dengan kadar 22,37% yang berpotensi sebagai bahan baku biodiesel (Sholiha et al., 2024). Kadar fruit set alami rata-rata hanya 2,51% (Agusri et al., 2024).
Akar:
Matoa berakar tunggang (taproot) sistem perakaran primer khas tumbuhan dikotil berwarna coklat. Pada pohon yang telah berumur puluhan tahun, perakaran dapat menembus dan menonjol ke permukaan tanah (BPTP Papua, 2014). Di habitat alami hutan Papua, beberapa individu mengembangkan akar papan (buttress root) yang dapat mencapai 5 m, berfungsi sebagai penyangga pohon pada tanah hutan tropis yang lembap.
Informasi Etnobotani:
Matoa adalah pohon buah yang melekat erat pada identitas budaya masyarakat Papua. Sejak era pra-kolonial, suku-suku asli Papua seperti yang tercermin dalam penamaan kultivar menggunakan bahasa lokal (Emme Anokhong, Emme Khabelaw, Emme Bhanggahe) telah memanfaatkan matoa sebagai sumber pangan, bahan obat, dan kayu bangunan. Dalam tradisi masyarakat Papua, pohon matoa tua sering menjadi penanda batas wilayah adat dan tempat berkumpul komunal.
Sejarah
Pometia pinnata memiliki distribusi alami yang luas di kawasan tropis Indo-Pasifik, mencakup Papua/Papua Nugini, Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara), Malaysia, Filipina, Sri Lanka, Kepulauan Andaman, Kepulauan Solomon, Vanuatu, Fiji, Samoa, Tonga, hingga Polinesia. Matoa dapat ditemukan dari dataran rendah tropis lembap sekitar lintang 14°U hingga 20°S (Agusri et al., 2024).
Matoa dalam Tradisi Papua:
Masyarakat asli Papua telah memanfaatkan matoa jauh sebelum kolonialisme. Nama-nama kultivar dalam bahasa lokal mencerminkan pengetahuan etnobotani yang kaya akan keanekaragaman matoa. Suku-suku Papua membedakan matoa berdasarkan warna kulit buah dan rasa daging, menunjukkan sistem pengetahuan tradisional yang setara dengan taksonomi ilmiah modern.
Dokumentasi Ilmiah Barat:
Matoa pertama kali didokumentasikan secara ilmiah oleh naturalis Johann Reinhold Forster dan putranya Georg Forster dalam ekspedisi Pasifik bersama James Cook (1772–1775). Nama ilmiah resminya ditetapkan dalam Characteres Generum Plantarum edisi kedua (1776). Koleksi herbarium awal dari ekspedisi Cook tersimpan di herbarium utama Eropa, termasuk di Kew Gardens, London.
Reklasifikasi Filogenetik Modern:
Secara historis matoa ditempatkan dalam subfamili Sapindoideae, famili Sapindaceae. Analisis filogenomik terbaru (Joyce et al., 2023) menggunakan data Angiosperms353 dengan 448 sampel mengkonfirmasi Sapindaceae sebagai kelompok monofiletik, dengan Pometia pinnata berkerabat dekat dengan rambutan (Nephelium lappaceum), longan (Dimocarpus longan), dan leci (Litchi chinensis). Hal ini menjelaskan kesamaan cita rasa buah-buah famili Sapindaceae.
Matoa dalam Pembangunan Indonesia:
Pada era modern, matoa ditetapkan sebagai pohon khas Provinsi Papua. Pohon ini menjadi simbol identitas Papua dalam berbagai produk budaya dan pariwisata. Seiring meningkatnya kepentingan ekonomi, penelitian akademik tentang matoa berkembang pesat sintesis 25 kajian akademik (2018–2026) oleh Fazli Syam (2026) mendokumentasikan kemajuan pengetahuan botani, fenologi, dan ekologi matoa secara komprehensif.
Manfaat
Matoa merupakan pohon serbaguna dengan nilai manfaat pada berbagai aspek: pangan, ekonomi, ekologis, dan medis tradisional. Hampir seluruh bagian pohon dapat dimanfaatkan.
Manfaat Utama:
Buah Segar: Daging buah matoa dikonsumsi langsung sebagai buah meja. Rasanya yang unik perpaduan rambutan, kelengkeng, dan kelapa menjadikannya buah premium yang bernilai ekonomi tinggi di pasar lokal Papua dan kota-kota besar Indonesia.
Kayu Keras Bernilai Tinggi: Kayu matoa termasuk kategori kayu keras tropis berwarna coklat kemerahan yang digunakan untuk konstruksi bangunan, furnitur, perabot rumah tangga, pembuatan perahu di Filipina dan Papua Nugini, serta berbagai kerajinan. Nilai kalori kayu yang tinggi (20.659 kJ/g) juga menjadikannya bahan bio-energi potensial (Gusamo et al., 2022).
Pohon Peneduh Perkotaan: Tajuk matoa yang lebar dan rimbun menjadikannya pilihan pohon peneduh di jalur hijau dan taman kota. Di Indonesia, matoa semakin popular sebagai pohon lanskap perkotaan (Salmah et al., 2024).
Bahan Baku Biodiesel: Biji matoa mengandung minyak sebesar 22,37%. Parameter kualitas minyak (viskositas kinematik, titik tuang, kadar air) memenuhi standar SNI untuk biodiesel, menjadikan biji matoa kandidat bahan bakar nabati masa depan (Sholiha et al., 2024).
Manfaat Etnobotani:
Pengobatan tradisional: Daun matoa mengandung senyawa bioaktif saponin, terpenoid, flavonoid, alkaloid, tanin, dan kumarin yang berkhasiat menurunkan tekanan darah, antidiabetes, mengatasi diare dan disentri, serta penyakit ginekologi (Utoro et al., 2022). Kulit batang mengandung flavonoid, fenolik, triterpena, dan saponin dengan aktivitas antibakteri dan antioksidan (Rahmawati et al., 2021).
Anti-obesitas: Serbuk kulit buah matoa pada dosis 3% terbukti mengurangi berat badan, lemak viseral, dan kadar trigliserida serum pada tikus yang diberi diet tinggi lemak, dengan saponin hederagenin sebagai senyawa aktif utama (Suzuki et al., 2021).
Bioremedasi logam berat: Kulit buah matoa terbukti efektif sebagai biosorben ion logam berat Pb²⁺ dengan kapasitas penyerapan 34,015 mg/g pada kondisi optimum pH 5, membuka peluang pemanfaatan limbah matoa untuk pengolahan air tercemar (Indriyani et al., 2023).
Larvisida nyamuk Aedes aegypti: Ekstrak etanol kulit batang matoa menunjukkan aktivitas larvisida yang signifikan terhadap Aedes aegypti, vektor dengue, dengan respons dosis tergantung konsentrasi (Moniharapon et al., 2025). Temuan ini membuka pengembangan insektisida alami berbasis matoa.
Manfaat Lainnya:
Potensi farmasi komprehensif: Tinjauan sistematis Sulastri et al. (2025) menemukan 64 studi tentang matoa dalam riset farmasi, meliputi aktivitas antibakteri, analgesik, antioksidan, sunscreen, antikanker, antidiare, anti-HIV, anti-obesitas, diuretik, dan antihipertensi. Formulasi topikal (losion, krim, sabun) dan oral (minuman herbal, jeli) telah dikembangkan.
Penyerbuk dan keanekaragaman hayati: Bunga matoa yang berbunga lebat menarik lebah dan serangga penyerbuk, mendukung keanekaragaman hayati ekosistem.
Informasi Lain
Status Konservasi:
Least Concern (Risiko Rendah) IUCN Red List. Matoa tidak termasuk spesies terancam punah secara global. Namun, populasi matoa hutan liar di Papua yang menjadi reservoir genetik unik terus menghadapi tekanan akibat deforestasi dan perubahan penggunaan lahan. Kajian Hanum et al. (2025) menggunakan ITS rDNA menunjukkan matoa hutan membentuk klad filogenetis tersendiri dengan kepelbagaian genetik signifikan yang perlu dilindungi melalui konservasi in-situ.
Nama Daerah dan Internasional:
Matoa / Tava (Papua), Kasai (Malaysia/Sabah), Taun Tree (Papua Nugini), Island Lychee / Pacific Lychee (Inggris internasional), Bago (Filipina). Di Samoa dan Tonga dikenal sebagai Tava.
Keunikan Genetik — Empat hingga Lima Kultivar:
Matoa memiliki 4–5 kultivar utama berdasarkan warna kulit buah: merah, kuning, hijau, hitam, dan ungu. Analisis RAPD menunjukkan fragmentasi polimorfik 80,41% yang mencerminkan kepelbagaian genetik tinggi akibat penyerbukan silang alami (Zulfahmi et al., 2023). Kariotipe ketiga kultivar utama (hijau, kuning, merah) identik: 2n=2x=22 dengan bentuk kromosom metasentrik, formula kariotipe 2n=2x=22=11m (Yuniastuti et al., 2023).
Fenologi dan Musim Berbuah:
Pembungaan dipicu oleh tekanan kekeringan ringan di akhir musim kemarau (Juni–Juli). Berbunga penuh September. Periode anthesis hingga buah matang: ±12 minggu. Kadar fruit set alami hanya 2,51%, menjadi tantangan utama bagi budidaya komersial. Riset tentang mekanisme penyerbukan dan kompatibilitas diri masih diperlukan (Agusri et al., 2024).
Nilai Edukasi Lintas Disiplin:
Matoa relevan sebagai objek pembelajaran lintas disiplin Botani (morfologi daun majemuk, fenologi unik), Ekologi (peran sebagai pohon kanopi hutan hujan tropis dan pemasok nektar), Farmakognosi (metabolit sekunder multi-bioaktivitas), Teknologi Pangan (pengolahan buah, fortifikasi susu dengan ekstrak daun), serta Energi Terbarukan (potensi biji matoa sebagai bahan baku biodiesel). Pohon matoa di lingkungan kampus menjadi laboratorium hidup yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kekayaan hayati Nusantara.
Referensi Akademik :
- Agusri, A., et al. (2024). Phenological studies of matoa (Pometia pinnata) flowering and fruit development. Agricultural Research Journal, 11(2).
- Gusamo, B.K., et al. (2022). A comparative evaluation of combustion characteristics of Araucaria cunninghamii, Intsia bijuga and Pometia pinnata for bio-energy source. Forests, 13(8).
- Hanum, L., et al. (2025). Genetic diversity and phylogenetic analysis of matoa (Pometia pinnata) from South Sumatra based on ITS rDNA. Biodiversitas, 26(11).
- Joyce, E.M., et al. (2023). Phylogenomic analyses of Sapindales. Frontiers in Plant Science, 14.
- Salmah, N.S., et al. (2024). Pometia pinnata as urban tree species: chloroplast genome and phylogenetic studies. IOP Conference Series, 1308(1).
- Sholiha, F.U., et al. (2024). Potential of matoa seeds (Pometia pinnata) as a biodiesel raw material. IOP Conference Series, 1308(2).
- Sulastri, L., et al. (2025). Pometia pinnata in pharmaceutical research: Bioactivity, mechanisms, and formulation prospects. Sciences of Pharmacy, 4(1).
- Suzuki, T., et al. (2021). Anti-obesity effects of matoa fruit peel powder in high-fat diet-fed rats. Molecules, 26(20).
- Tehuayo, M.N., et al. (2023). Identifikasi struktur morfologi tumbuhan matoa (Pometia pinnata). Biolearning Journal, UNIMUDA Sorong.
- Utoro, et al. (2022). Tinjauan literatur bioaktivitas ekstrak daun matoa (Pometia pinnata). Journal of Tropical AgriFood.
- Yuniastuti, E., et al. (2024). Morphological characterization of matoa (Pometia pinnata) in Central Java. Journal of Biodiversity and Biotechnology, 4(2).
Zulfahmi, Z., et al. (2023). Molecular identification of four matoa cultivars using RAPD markers. Biodiversitas, 24(3).




