Gaharu
(Agarwood, Aloeswood, Eaglewood, Oud, Kekaras)
Aquilaria malaccensis Lam.
Fam. Thymelaeaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Aquilaria malaccensis Lam., 1789
Nama genus Aquilaria berasal dari bahasa Latin aquila (elang/rajawali), kemungkinan merujuk pada kuatnya pohon ini atau nilai prestisiusnya yang setara “raja” di antara kayu-kayu berharga. Epitet malaccensis merujuk pada Malaka (Malacca), wilayah Semenanjung Melayu tempat spesimen tipe pertama kali dikumpulkan dan dideskripsikan secara ilmiah.
Sinonim taksonomi utama:
Aquilaria agallochum Roxb., 1832
Aquilaria secundaria DC., 1828
Aquilaria ovata Cav., 1797
Agallochum malaccense (Lam.) Kuntze
Ophispermum sinense Lour., 1790
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Famili : Thymelaeaceae
Genus : Aquilaria
Spesies : Aquilaria malaccensis Lam.
(POWO Kew, 2024; IUCN 2018; CITES Appendix II)
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Aquilaria malaccensis Lam., yang dikenal di Indonesia dengan nama gaharu, adalah pohon hutan hujan tropis dari famili Thymelaeaceae yang menghasilkan salah satu komoditas kehutanan paling berharga di dunia. Nama “gaharu” berasal dari bahasa Melayu yang berarti “harum”. Gaharu adalah satu-satunya penghasil utama resin aromatik (agarwood/oud) produk kayu non-kayu yang terbentuk akibat respons pertahanan pohon terhadap infeksi jamur, yang harganya dapat mencapai USD 100.000 per kilogram di pasar internasional, menjadikannya salah satu bahan alami paling mahal di dunia. Ekspor gaharu Indonesia mencapai USD 40 juta pada 2023, dengan pasar utama di Timur Tengah dan Asia Tenggara.
Batang dan Percabangan:
Gaharu tergolong pohon selalu hijau (evergreen) berukuran sedang hingga besar, dapat tumbuh setinggi 20–40 m dengan diameter batang 40–60 cm. Batang berkayu keras, permukaan bergaris halus hingga beralur, berwarna cokelat keputihan pada kulit muda dan semakin gelap cokelat keabuan pada batang tua. Cabang-cabang tumbuh tegak dengan percabangan yang relatif sedikit, membentuk tajuk yang tidak terlalu lebar. Ciri terpenting batang gaharu adalah terbentuknya gubal (heartwood) berwarna cokelat kehitaman yang mengandung resin aromatik saat pohon terinfeksi jamur inilah yang disebut “gaharu” sebagai produk. Pohon yang sehat tidak menghasilkan resin; resin hanya terbentuk sebagai respons imun pohon terhadap stres atau patogen. Kayu gaharu yang mengandung resin jauh lebih berat dan gelap dibanding kayu pohon yang sehat (gubal putih/sapwood).
Daun:
Daun gaharu termasuk daun tunggal, tersusun spiral atau berseling sepanjang ranting. Bentuk daun lonjong-lanset (oblong-lanceolate) hingga eliptis, dengan ujung meruncing (acuminate). Ukuran daun panjang 6–12 cm dan lebar 2–5 cm, bertangkai pendek ±0,5–1 cm. Permukaan daun mengkilat berwarna hijau tua pada sisi atas, lebih pucat di bawah. Tulang daun sekunder berjumlah 12–18 pasang, menyirip, menonjol di sisi bawah daun. Tepi daun rata (entire). Daun mengandung senyawa flavonoid, terpenoid, dan berbagai metabolit sekunder yang turut berkontribusi pada profil farmakologis tanaman ini.
Bunga:
Bunga gaharu tersusun dalam tandan (umbel/corymb) yang muncul di ketiak daun atau ujung ranting, berukuran kecil dan tidak mencolok. Setiap bunga berdiameter ±0,5–1 cm, berwarna kuning kehijauan hingga putih krem, berbulu halus. Bunga memiliki 5 sepal (kelopak yang bergabung membentuk tabung pada pangkalnya), 10 benangsari, dan ovarium beruang 2. Bunga bersifat biseksual (hermafrodit) dan beraroma harum lemah. Berbeda dari pohon-pohon berbunga indah seperti Flamboyan, nilai ekonomi gaharu bukan pada bunganya melainkan pada kayu dan resinnya yang terbentuk melalui mekanisme biologis yang kompleks.
Buah:
Buah gaharu berupa kapsul berkayu (woody capsule) berbentuk jorong atau bulat telur terbalik, panjang 2,5–4 cm, berwarna hijau saat muda dan cokelat kemerahan saat masak. Buah memecah menjadi 2 katup saat masak (dehiscent), melepaskan 1–2 biji per buah. Biji berwarna hitam mengkilap, berukuran ±1,5–2 cm, dengan arilus merah (elaiosome) yang menarik semut sebagai agen penyebaran biji (mirmekokori). Arilus merah inilah yang menjadi ciri diagnostik buah gaharu yang paling mudah dikenali di lapangan.
Akar:
Gaharu berakar tunggang dalam dengan percabangan akar lateral yang cukup kuat, memberikan stabilitas pada pohon di hutan hujan tropis. Sistem perakaran yang dalam memungkinkan pohon mengakses cadangan air tanah pada musim kering. Akar tidak membentuk banir mencolok. Berbeda dari beberapa anggota Fabaceae, gaharu tidak memiliki simbiosis rhizobium pengikat nitrogen namun memiliki asosiasi mikoriza yang penting bagi pertumbuhan dan ketahanannya di tanah hutan tropis yang miskin hara.
Informasi Etnobotani:
Gaharu memiliki sejarah penggunaan yang sangat panjang dalam berbagai peradaban. Di Nusantara, Kerajaan Sriwijaya (abad VII–XI M) di Sumatera Selatan telah mengekspor gaharu hingga ke Arab. Jalur dagang Arab-Nusantara yang aktif sejak abad ke-6 dan 7 M membuka kemungkinan bahwa gaharu Nusantara telah beredar di dunia Arab sejak masa awal Islam. Dalam hadis riwayat al-Bukhari disebutkan penggunaan wewangian, dan gaharu (oud) menjadi salah satu wewangian paling istimewa dalam tradisi Islam. Di Indonesia, gaharu dikenal dengan berbagai nama lokal: Kayu Gaharu (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi), Tengkaras, Karek (nama lokal lain). Secara internasional: Agarwood (Inggris), Oud/ Aloeswood (Arab/Timur Tengah), Eaglewood (Inggris kuno), Kekaras (Malaysia), Chen Xiang (China, berarti “kayu tenggelam harum”), Jin-koh (Jepang).
Sejarah
Aquilaria malaccensis tersebar secara alami di Asia Tenggara dan Asia Selatan, meliputi Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara), Malaysia, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Filipina, Singapura, India, Bhutan, Bangladesh, dan Papua Nugini. Pohon ini tumbuh di hutan hujan dataran rendah hingga ketinggian 0–850 m dpl, pada tanah podsolik liat berpasir, dengan suhu 24–34 derajat C, kelembapan 80–90%, dan curah hujan 1.000–2.000 mm/tahun. Indonesia, khususnya Sumatera dan Kalimantan, merupakan penghasil gaharu terbaik dan terbesar di dunia.
Penamaan Ilmiah oleh Lamarck (1789):
Spesies ini dideskripsikan secara ilmiah oleh Jean-Baptiste de Lamarck, ahli botani dan naturalis Prancis terkenal, pada tahun 1789 dalam Encyclopedie Methodique, Botanique. Lamarck menamai spesies ini berdasarkan spesimen yang dikumpulkan dari wilayah Malaka (Semenanjung Melayu), sehingga epitet malaccensis menjadi identitas geografisnya. Gaharu sebenarnya telah dikenal dalam literatur farmasi Arab dan Eropa jauh sebelum penamaan ilmiahnya tercatat dalam karya Ibn Sina (Avicenna, abad ke-11) sebagai oud dengan khasiat medis yang luas.
Gaharu dalam Sejarah Perdagangan Lintas Peradaban:
Gaharu telah diperdagangkan lintas peradaban selama lebih dari 2.000 tahun. Jalur perdagangan mencakup Nusantara-India-Persia-Arab-Eropa. Dalam Alkitab (Perjanjian Lama), gaharu disebut sebagai “ahaloth/aloes” salah satu wewangian paling berharga zaman kuno. Dalam tradisi Islam, gaharu (oud) disebut dalam beberapa hadis sahih. Di Jepang, praktik seni mencium aroma kayu gaharu disebut “Kodo” (Way of Incense) seni yang setara derajatnya dengan upacara minum teh (Chado) — dengan gaharu berkualitas terbaik “Kyara” dihargai lebih dari emas per gramnya. Dalam arsip Kerajaan Sriwijaya dan kemudian Majapahit, gaharu tercatat sebagai komoditas ekspor bergengsi ke Arab dan Tiongkok.
Mekanisme Terbentuknya Resin Gaharu — Keajaiban Biologi:
Mekanisme pembentukan gaharu merupakan salah satu fenomena biologi paling menarik di dunia tumbuhan. Pohon gaharu yang sehat dan muda tidak menghasilkan resin aromatik. Resin hanya terbentuk saat pohon mengalami stres biologis — terutama infeksi oleh jamur patogen seperti Phaeoacremonium parasitica, Fusarium spp., dan Lasiodiplodia theobromae — sebagai respons imun defensif pohon. Pohon mengakumulasi senyawa sesquiterpen dan turunan 2-(2-feniletil)kromin (phenylethyl chromone) lebih dari 367 senyawa berbeda telah teridentifikasi — pada jaringan kayu yang terinfeksi, mengubah gubal (heartwood) menjadi kayu berwarna cokelat-hitam padat yang sangat aromatik. Secara alami, hanya 7–10% pohon Aquilaria di hutan yang terinfeksi dan menghasilkan gaharu. Proses ini berlangsung puluhan tahun secara alami, menjadikan gaharu produk yang sangat langka.
Status Konservasi Krisis Kepunahan Global:
Aquilaria malaccensis dikategorikan sebagai Critically Endangered (CR) / Kritis dalam IUCN Red List sejak 2018 status tertinggi sebelum punah. Ini merupakan peningkatan status dari Vulnerable (2009) akibat eksploitasi yang terus berlanjut. A. malaccensis adalah spesies Aquilaria pertama yang masuk CITES Appendix II pada 1995, dan seluruh 21 spesies Aquilaria kini terdaftar dalam CITES Appendix II (2004/2005). Analisis 2025 menemukan bahwa banyak negara pengekspor masih mengandalkan Non-Detriment Finding (NDF) yang usang. Perdagangan ilegal dan pembalakan liar menjadi ancaman utama kelangsungan spesies ini di alam.
Manfaat
Gaharu adalah tanaman dengan nilai ekonomi tertinggi di antara semua hasil hutan non-kayu Indonesia. Hampir seluruh bagian pohon memiliki nilai ekonomis dan farmakologis, namun produk utamanya adalah gubal kayu berresin (agarwood) dan minyak atsiri (agarwood essential oil /oud oil).
Manfaat Utama:
Bahan Baku Parfum Mewah Dunia (Oud):
Minyak esensial gaharu, dikenal sebagai oud oil, adalah bahan baku parfum paling bergengsi dan mahal di dunia. Digunakan oleh hampir semua merek parfum premium global (Montale, Tom Ford, Creed, Guerlain, dll.) untuk menciptakan aroma yang kompleks: kayu, balsam, animalik, manis-madu, dan earthen. Pasar parfum global berbasis gaharu bernilai USD 6–8 miliar per tahun. Permintaan terbesar datang dari Timur Tengah (khususnya Arab Saudi, UAE, Kuwait), di mana membakar kayu gaharu (bukhoor/bakhoor) adalah tradisi sosial dan keagamaan yang sangat penting.
Dupa dan Ritual Keagamaan Lintas Agama:
Gaharu dibakar sebagai dupa (wewangian asap) dalam ritual keagamaan Islam, Hindu, Buddha, Shinto, dan Kristen sejak ribuan tahun. Di Jepang, seni Kodo (Way of Incense) menjadikan penghayatan aroma gaharu sebagai praktik spiritual setingkat seni teh. Kayu gaharu kelas “Kyara” (tertinggi) dihargai lebih dari emas per gram-nya. Di Asia Tenggara, gaharu digunakan dalam upacara adat, pernikahan, dan ritual pemakaman.
Obat Tradisional Lintas Peradaban:
Sedatif dan penenang: Gaharu digunakan dalam pengobatan tradisional Asia dan Timur Tengah sebagai agen penenang, membantu insomnia dan kecemasan.
Karminati dan gangguan pencernaan: Resin gaharu digunakan untuk meredakan gangguan lambung, mual, dan kembung dalam tradisi Ayurveda India dan pengobatan tradisional Melayu.
Obat batuk dan asma: Gaharu termasuk dalam formulasi obat tradisional Cina (Traditional Chinese Medicine/TCM) untuk batuk dan sesak napas.
Tonik jantung (Cardioprotective): Ekstrak gaharu menunjukkan aktivitas kardiotonik dalam beberapa penelitian.
Antiinflamasi dan analgesik: Senyawa kromin dan sesquiterpen gaharu menunjukkan aktivitas antiinflamasi dan penghilang nyeri yang signifikan.
Antimikroba: Minyak atsiri gaharu memiliki aktivitas antimikroba terhadap berbagai bakteri patogen dan fungi.
Antioksidan: Kandungan fenolik dan flavonoid gaharu menunjukkan aktivitas antioksidan terukur dalam uji DPPH.
Naskah Tradisional Assam (Sanchipat):
Kulit batang A. malaccensis digunakan dalam pembuatan naskah manuskrip tradisional Assam yang disebut “sanchipat” naskah bertulis mirip manuskrip daun lontar. Kulit batang diperlakukan dengan mineral toksik sehingga menjadi antipatogen dan tahan di lingkungan tropis lembap Assam sebuah pemanfaatan unik yang menghubungkan gaharu dengan warisan sastra-budaya Asia Selatan.
Budidaya dan Inokulasi Buatan Solusi Konservasi:
Menghadapi krisis kelangkaan akibat eksploitasi berlebihan, budidaya gaharu dengan teknik inokulasi buatan dikembangkan sebagai solusi. Pohon berumur 7–10 tahun diinokulasi dengan suspensi jamur (Fusarium oxysporum, Fusarium solani, Lasiodiplodia theobromae, dll.) pada batang setinggi 1–1,5 m. Resin gaharu dapat dipanen dalam 6 bulan hingga 2 tahun setelah inokulasi, jauh lebih cepat dari proses alami yang memakan puluhan tahun. Indonesia memiliki Asosiasi Gaharu Indonesia (ASGARIN) sebagai wadah pelaku budidaya dan perdagangan gaharu resmi.
Informasi Lain
Status Konservasi Paling Kritis di Antara Pohon Kampus:
Aquilaria malaccensis adalah satu-satunya pohon dalam seri dokumen ini yang berstatus Critically Endangered (CR) Kritis dalam IUCN Red List (Harvey-Brown, 2018). Dari empat pohon yang telah didokumentasikan (Angsana: Vulnerable, Bungur dan Asem Jawa: Least Concern, Flamboyan: Endangered di habitat/LC global), gaharu menghadapi ancaman kepunahan paling serius. Penanaman gaharu di kampus bukan sekadar nilai estetika, melainkan sebuah tindakan konservasi nyata untuk spesies yang hampir punah di alam liar.
Nama Daerah dan Internasional:
Kayu Gaharu, Tengkaras, Karek (Indonesia). Secara internasional: Agarwood (Inggris umum), Oud / Oudh (Arab/Timur Tengah), Aloeswood (Inggris kuno/farmasi), Eaglewood (Inggris kuno), Kekaras (Malaysia), Chen Xiang (China/Taiwan), Jin-koh (Jepang), Agar / Aguru (India/Sansekerta), Garo / Agar gach (Bangladesh).
Keunikan Senyawa Aromatik Simfoni Kimia Pertahanan:
Gaharu merupakan satu-satunya produk kehutanan yang nilai utamanya adalah senyawa pertahanan imun pohon itu sendiri. Lebih dari 367 senyawa kimia berbeda telah teridentifikasi dalam minyak gaharu, terdiri dari dua kelompok utama: sesquiterpen (yang memberikan aroma kayu, animalik, tanah) dan turunan 2-(2-feniletil)kromin (yang memberikan aroma manis-madu dan balsam). Kompleksitas kimia ini yang menjadikan aroma gaharu tidak dapat direproduksi secara sintetis secara sempurna menjadikannya “sidik jari biologis” yang unik dari setiap pohon, lokasi, dan kondisi infeksi yang berbeda.
Grading Gaharu Standar Mutu Internasional:
Gaharu diklasifikasikan dalam beberapa kelas mutu berdasarkan kandungan resin, warna, aroma, dan kepadatan. Di Indonesia, standar grading mengikuti regulasi ASGARIN dan Kementerian Kehutanan. Kelas tertinggi (Super/Double Super) mengandung resin >25%, berwarna hitam pekat, dan tenggelam dalam air sering disebut “kayu tenggelam” (dalam bahasa China: Chen Xiang). Di Jepang, kelas “Kyara” adalah yang tertinggi dan paling jarang, dihargai jauh melampaui semua kelas gaharu lainnya.
Nilai Edukasi Lintas Disiplin:
Gaharu relevan sebagai objek pembelajaran lintas disiplin yang paling kaya di antara pohon kampus Botani (daun tunggal spiral, buah kapsul dehiscent + arilus merah, famili Thymelaeaceae), Ekologi Kimia (mekanisme terbentuknya resin sebagai respons imun, interaksi pohon-jamur-sesquiterpen), Farmakognosi (sesquiterpen, kromin, oud oil, TCM), Ekonomi Sumber Daya Alam (nilai USD 100.000/kg, pasar global USD 6-8 miliar/tahun, CITES), Sejarah Peradaban (Sriwijaya, jalur sutra aroma, Kodo Jepang, sanchipat Assam, hadis Islam), dan Bioteknologi Konservasi (inokulasi buatan, budidaya ex-situ sebagai solusi krisis). Pohon gaharu di kampus adalah jendela langsung ke salah satu komoditas alam paling kompleks dan bernilai tinggi yang pernah ada di bumi.
Referensi Akademik Utama:
- Harvey-Brown, Y. (2018). Aquilaria malaccensis. IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T32056A2810130. doi:10.2305/IUCN.UK.2018-1.RLTS.T32056A2810130.en.
- Faizal, A., et al. (2021). Methyl jasmonate and crude extracts of Fusarium solani elicit agarwood compounds in shoot culture of Aquilaria malaccensis Heliyon, 7(4): e06692.
- Dwi Gusmalawati, et al. (2017). Struktur anatomi akar, batang dan daun gaharu (Aquilaria malaccensis) yang mengalami cekaman kekeringan. Protobiont, 6(2): 38–44.
- Kumari, V., et al. (2023). A review on biological induction of agarwood in Aquilaria, with special reference to India. Indian Journal of Agricultural Sciences.
Gao, W., et al. (2022). Integrating multiple omics identifies Phaeoacremonium rubrigenum acting as Aquilaria sinensis marker fungus. Microbiology Spectrum, 10(3): e02722-21. - Khamis, S., et al. (2018). Discriminative analysis of different grades of Gaharu (Aquilaria malaccensis) via 1H-NMR-based metabolomics. Molecules, 23(9): 2169.
- CNBC Indonesia. (2026). Tanaman asli RI ini pernah dipakai Nabi Muhammad, kini terancam punah. Merujuk riset “Using Global Trade Data to Identify Priorities for Agarwood Conservation” (2025).
- go.id. (2024). Wangi Cuan Emas Hijau Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.
Plants of the World Online (POWO). (2024). Aquilaria malaccensis Lam. Royal Botanic Gardens, Kew.



