Dadap (Dadap Ayam, Indian Coral Tree, Tiger’s Claw)
Erythrina variegata L.
Fam. Fabaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Erythrina variegata L.
Pertama kali dipublikasikan oleh
Carl Linnaeus (1707–1778) dalam Herbarium Amboinense (1754), berdasarkan spesimen dari Amboina (kini Ambon, Maluku).
Etimologi:
Nama genus Erythrina berasal dari bahasa Yunani erythros yang berarti “merah”, merujuk pada warna bunga menyala yang menjadi ciri khas hampir seluruh spesies dalam genus ini. Nama spesies variegata berasal dari bahasa Latin variegatus, berarti “berwarna-warni” atau “berbelang”, merujuk pada corak daun sebagian varietasnya.
Sinonim Taksonomi:
Erythrina indica Lam.; Erythrina picta L.; Erythrina orientalis (L.) Murray; Erythrina lobulata Miq.
Catatan Taksonomi:
Genus Erythrina pertama kali didirikan oleh Linnaeus dalam Genera Plantarum (1737) dan kini mencakup sekitar 120–130 spesies yang tersebar di kawasan tropis dan subtropis dunia. Dalam tata nama lokal Jawa, dadap sering dibedakan menjadi beberapa varietas seperti dadap ayam (E. variegata) dan dadap srep (E. subumbrans/E. fusca) yang memiliki perbedaan pada tekstur batang dan warna bunga.
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Klad : Angiospermae
Klad : Eudikotil
Klad : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Subfamili : Faboideae
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Erythrina variegata L., yang lebih dikenal sebagai dadap atau dadap ayam, merupakan pohon berukuran sedang dari famili Fabaceae dan termasuk dalam subfamili Faboideae. Di Indonesia, jenis ini banyak dimanfaatkan sebagai pohon peneduh pada perkebunan kopi dan kakao, penyangga bagi tanaman lada maupun vanili, serta dijadikan pagar hidup di sekitar lahan pertanian dan pekarangan. Selain memiliki nilai dalam sistem agroforestri, dadap juga digunakan dalam pengobatan tradisional serta berperan sebagai tanaman penambat nitrogen yang penting untuk meningkatkan produktivitas lahan tropis.
Batang dan Percabangan:
Pohon dadap mampu tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 15–20 meter, dengan diameter batang berkisar 50–60 cm. Permukaan batang muda umumnya halus dan memiliki guratan memanjang berwarna hijau, abu-abu, cokelat muda, atau keputihan. Salah satu ciri khasnya ialah adanya duri kecil berwarna hitam berukuran sekitar 1–2 mm yang tersebar pada batang maupun cabang, terutama ketika tanaman masih muda. Tajuknya membentuk payung yang melebar, sedangkan sifatnya gugur daun (dekidu) sehingga daun akan rontok hampir bersamaan saat memasuki musim kemarau.
Daun:
Daun dadap termasuk daun majemuk trifoliat yang tersusun atas tiga anak daun. Warna helaian daun berkisar dari hijau hingga hijau muda, dengan tangkai daun sepanjang sekitar 10–40 cm. Bentuk anak daun bervariasi, mulai dari bulat telur terbalik, segitiga, hingga menyerupai belah ketupat dengan ujung yang tumpul. Anak daun terminal berukuran paling besar, yaitu sekitar 9–25 cm × 10–30 cm. Pada beberapa kultivar terdapat pola belang hijau-kuning pada permukaan daun, sesuai dengan makna kata variegata yang berarti memiliki corak beragam.
Bunga:
Bunga tersusun dalam bentuk tandan menyerupai kerucut yang muncul pada ujung maupun sisi ranting yang telah kehilangan daun. Pembungaan umumnya terjadi ketika pohon sedang meranggas sehingga bunga tampak sangat mencolok. Mahkota bunga berwarna merah hingga merah tua, sedangkan kelopak utamanya berukuran sekitar 5,5–8 × 8 cm. Warna bunga yang cerah menghasilkan nektar yang menarik berbagai jenis burung sehingga membantu proses penyerbukan secara alami.
Buah:
Buah dadap berbentuk polong dengan warna gelap dan memiliki penyempitan pada bagian di antara bijinya. Ukuran polong berkisar 15–20 cm dengan lebar sekitar 1,5–2 cm, berisi sekitar 5–10 biji berbentuk bulat telur. Warna bijinya dapat berupa cokelat, merah, hingga ungu mengilap. Biji tersebut diketahui mengandung senyawa tertentu yang bersifat toksik apabila dikonsumsi dalam jumlah besar.
Akar:
Sistem perakaran dadap membentuk hubungan simbiosis dengan bakteri Bradyrhizobium yang berfungsi mengikat nitrogen dari atmosfer. Interaksi tersebut meningkatkan kandungan nitrogen di dalam tanah sehingga mendukung kesuburan lahan. Selain itu, tanaman ini mudah diperbanyak melalui stek batang berukuran besar yang dapat langsung membentuk akar setelah ditanam sehingga sering dimanfaatkan sebagai pagar hidup.
Informasi Etnobotani :
Pohon dadap dikenal dengan beragam nama daerah di berbagai wilayah Indonesia — dhadhap ayam, dhadhap laut, dhadhap asrêp (Jawa), dadap blendung (Sunda), dhâddhâ’ (Madura), dalungdung (Bali), deris (Timor), galala itam (Maluku). Banyaknya penyebutan tersebut menunjukkan bahwa dadap telah lama dimanfaatkan dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai daerah Nusantara. Daun muda dadap biasa dilalap setelah direbus atau dijadikan sayur bening, dipercaya membantu memperbanyak ASI dan melancarkan haid. Kulit batangnya (pepagan) secara tradisional dimanfaatkan sebagai pencahar, peluruh kencing, dan pengencer dahak.
Sejarah
Erythrina variegata merupakan spesies yang secara alami tumbuh di kawasan pesisir tropis. Sebaran alaminya meliputi Afrika Timur, India, Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara, Australia, hingga berbagai pulau di Samudra Pasifik. Tanaman ini umumnya ditemukan di sepanjang garis pantai maupun wilayah yang berada di belakangnya, terutama di sekitar muara sungai. Habitat tersebut memiliki curah hujan sekitar 800–1.500 mm per tahun dengan musim basah berkisar 5–6 bulan.
Peran dalam Sejarah Agroforestri Nusantara:
Sejak era kolonial, dadap telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem perkebunan kopi dan kakao di Jawa dan Sumatra, ditanam sebagai pohon peneduh bagi tanaman budidaya yang membutuhkan naungan pada tahun-tahun awal pertumbuhannya. Sistem tumpang sari ini — dikenal sebagai shade tree management — menjadi salah satu praktik agroforestri tradisional Nusantara yang paling lama bertahan hingga kini.
Penyebaran dan Pemanfaatan Regional:
Di kawasan Pasifik, dadap banyak dimanfaatkan sebagai penahan angin (windbreak) pada daerah pesisir. Di Filipina tanaman ini dikenal dengan nama dadap atau andorogat, di Thailand disebut thong baan, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Indian coral tree, variegated coral tree, maupun tiger’s claw. Nama-nama tersebut merujuk pada bentuk kuncup bunganya yang menyerupai cakar harimau.
Dadap di Lingkungan Kampus:
Kehadiran dadap di lingkungan kampus merepresentasikan kearifan agroforestri tradisional Nusantara — sebuah pohon multifungsi yang menggabungkan peran ekologis (fiksasi nitrogen, peneduh, pakan burung penyerbuk), ekonomi (pakan ternak, kayu ringan, obat keluarga), dan budaya (nama lokal yang begitu beragam di seluruh penjuru Indonesia).
Manfaat
Manfaat ketapang biola ini adalah sebagai tanaman hias dekoratif, pembersih udara, dan peneduh. Selain itu, bagian tanaman ini dapat digunakan dalam pengobatan tradisional untuk diare dan kecemasan, serta memiliki potensi untuk aplikasi lain seperti pewarna alami.
Manfaat utama
- Tanaman hias dekoratif: Cocok untuk mempercantik interior rumah, kantor, restoran, atau hotel, karena bentuk daunnya yang unik dan ukurannya yang dapat disesuaikan.
- Pembersih udara: Daunnya yang lebar dapat membantu membersihkan udara dengan menyerap polutan seperti formaldehida dan dioksin, sehingga membuat udara lebih bersih.
- Peneduh: Ketapang biola juga dapat memberikan keteduhan, terutama jika ditanam di luar ruangan dan dibiarkan tumbuh besar.
Manfaat etnobotani :
- Tanaman hias : Populer sebagai tanaman hias interior karena dedaunannya yang besar dan unik, serta dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan pembelajaran.
- Tanaman lanskap : Digunakan sebagai peneduh dan titik fokus dalam lanskap karena bentuk tajuknya yang indah.
- Pohon pelindung : Digunakan sebagai pohon pelindung atau tanaman tepi jalan.
Manfaat lainnya
- Pengobatan tradisional: Beberapa bagian tanaman ini secara tradisional digunakan untuk membantu mengobati diare, kecemasan, dan masalah kesehatan lainnya, seperti yang disebutkan dalam Haibundadan Socfindo Conservation. Namun, penggunaan dalam pengobatan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan.
- Pewarna alami: Daun ketapang biola memiliki potensi untuk digunakan sebagai sumber pewarna alami, seperti yang dilaporkan dalam Open Library Telkom University.
- Kualitas hidup: Keberadaan tanaman di dalam ruangan dapat meningkatkan kualitas hidup, menciptakan suasana yang lebih segar, dan membantu mengurangi stres,
Informasi Lain
Nama Daerah:
Dadap, dadap ayam, dhadhap ayam, dhadhap laut, dhadhap asrêp (Jawa); dadap blendung (Sunda); dhâddhâ’ (Madura); dalungdung (Bali); deris (Timor); galala itam (Maluku); dapdap/andorogat (Filipina); thong baan (Thailand); Indian coral tree, tiger’s claw (Inggris).
Keunikan Berbunga Saat Meranggas:
Salah satu pemandangan paling khas dari dadap adalah kemunculan bunga merah menyala justru ketika seluruh dedaunannya telah gugur total pada musim kemarau — strategi yang membuat bunga tampil sangat mencolok tanpa terhalang daun, memaksimalkan daya tariknya bagi burung penyerbuk di tengah lanskap yang tampak gersang.
Keunikan Duri Batang sebagai Penanda Identifikasi:
Duri-duri tempel kecil berwarna hitam di sepanjang batang muda menjadi penanda identifikasi lapangan yang mudah dikenali, sekaligus pembeda utama dari kerabat dekatnya, dadap serep (Erythrina subumbrans), yang batangnya jauh lebih halus dan tanpa duri.
Status Konservasi:
Belum masuk kategori terancam punah dadap tersebar luas secara alami maupun budi daya di sepanjang pesisir tropis Afrika Timur hingga Pasifik, dan populasinya di alam liar maupun perkebunan tergolong stabil.
Nilai Edukasi di Kampus:
Pohon dadap menghadirkan dimensi edukasi yang relevan dan aplikatif: Botani (morfologi Fabaceae, daun trifoliolate, polong), Agroforestri dan Ilmu Tanah (fiksasi nitrogen oleh Bradyrhizobium, sistem tumpang sari kebun kopi-kakao Nusantara), Etnobotani (keragaman nama lokal dan pemanfaatan tradisional di seluruh Indonesia), serta Ekologi Penyerbukan (ornithophily, strategi berbunga saat meranggas). Dadap adalah representasi nyata kearifan agroforestri tropis Nusantara di lingkungan kampus.




