Kepel
(Stelechocarpus Burahol)
Nama Ilmiah yang Diakui
Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson, 1855
Diterbitkan pertama kali dengan nama Uvaria burahol Blume dalam Bijdragen tot de Flora van Nederlandsch Indië (1825), kemudian dipindahkan ke genus Stelechocarpus oleh Joseph Dalton Hooker dan Thomas Thomson pada tahun 1855.
Nama ilmiah Stelechocarpus burahol diberikan pada tanaman yang dikenal secara lokal sebagai kepel, sebuah pohon endemik Pulau Jawa dari famili Annonaceae. Epitet spesifik burahol berasal dari nama lokal yang telah lama digunakan dalam tradisi Jawa. Pohon ini memiliki nilai budaya tinggi karena buahnya secara tradisional dikonsumsi oleh kalangan bangsawan keraton dan dipercaya dapat mengharumkan tubuh dan napas. Dalam literatur botani internasional, tanaman ini dikenal dengan nama kepel atau burahol.
Sinonim heterotipik :
Uvaria burahol Blume, Bijdr. Fl. Ned. Indië: 17 (1825).
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Subclass : Magnoliidae
Order : Magnoliales
Family : Annonaceae
Genus : Stelechocarpus
Species : Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson
Informasi Umum (Deskripi morfologis)
Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson) merupakan pohon hijau tropis dari famili Annonaceae yang bersifat hijau sepanjang tahun dan endemik Pulau Jawa. Pohon ini dapat tumbuh hingga ketinggian sekitar 15–25 meter dengan batang lurus, berkayu keras, dan berwarna cokelat keabu-abuan. Daunnya tunggal, tersusun berseling, berbentuk lonjong hingga elips dengan ujung meruncing, berwarna hijau tua mengilap, dan memiliki panjang sekitar 15–30 cm. Bunga kepel tumbuh langsung pada batang atau cabang besar (kauliflori), berukuran kecil, berwarna hijau kekuningan hingga kecokelatan. Buahnya berbentuk bulat hingga agak lonjong dengan diameter sekitar 5–10 cm, berkulit cokelat kehijauan saat matang, berdaging lunak berwarna kuning kecokelatan, beraroma khas, dan mengandung beberapa biji besar di dalamnya.
Informasi Etnobotani :
Sejarah
Pohon kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson) merupakan tanaman asli (endemik) Pulau Jawa yang telah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan Jawa kuno. Keberadaannya tercatat kuat dalam sejarah budaya Jawa, khususnya pada masa Kerajaan Mataram Islam, Kesultanan Yogyakarta, dan Kasunanan Surakarta, di mana pohon kepel ditanam secara khusus di lingkungan keraton dan taman istana. Buah kepel pada masa itu dikonsumsi terutama oleh kalangan bangsawan dan putri keraton karena dipercaya mampu mengharumkan tubuh dan napas, sehingga tanaman ini memiliki status sosial dan simbolik yang tinggi. Pada masa kolonial Belanda, kepel mulai didokumentasikan secara ilmiah oleh botanis Eropa dan dimasukkan ke dalam koleksi kebun raya dan herbarium, seperti Kebun Raya Bogor, namun penyebarannya tetap terbatas. Seiring berkurangnya lingkungan keraton dan perubahan pola tanam masyarakat, pohon kepel menjadi semakin jarang ditemui dan kini lebih dikenal sebagai tanaman konservasi, koleksi botani, serta simbol warisan budaya Jawa.
Manfaat
Manfaat pohon kepel adalah sebagai tanaman buah tradisional bernilai budaya tinggi, tanaman konservasi, serta sumber pengobatan tradisional. Selain itu, kepel memiliki peran penting sebagai simbol budaya Jawa dan tanaman koleksi botani yang kini mulai langka.
Manfaat utama
- Tanaman buah tradisional:
Buah kepel dikonsumsi secara tradisional, terutama oleh kalangan bangsawan Jawa, dan dikenal memiliki aroma khas serta nilai historis yang tinggi. - Tanaman konservasi:
Sebagai tanaman endemik Pulau Jawa yang kini jarang ditemukan, pohon kepel berperan penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan plasma nutfah lokal. - Tanaman peneduh:
Dengan ukuran pohon yang besar dan tajuk cukup rindang, kepel dapat dimanfaatkan sebagai pohon peneduh di taman, kebun, dan kawasan konservasi.
Manfaat etnobotani :
- Tanaman budaya dan simbolik:
Dalam tradisi Jawa, pohon kepel memiliki nilai simbolik tinggi dan identik dengan lingkungan keraton, melambangkan kehalusan budi, kesucian, dan status sosial bangsawan. - Pengharum alami tubuh:
Buah kepel secara etnobotani dipercaya mampu mengharumkan keringat, napas, dan urin, sehingga sering dikonsumsi sebagai deodorant alami oleh putri keraton. - Tanaman obat tradisional:
Buah dan bagian lain tanaman kepel digunakan dalam pengobatan tradisional untuk membantu melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan ginjal, serta mengurangi bau badan.
Manfaat lainnya
- Tanaman edukatif dan koleksi botani:
Pohon kepel banyak ditanam di kebun raya, arboretum, dan taman edukasi sebagai tanaman langka yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah. - Pelestarian budaya lokal:
Penanaman dan pemeliharaan kepel turut berperan dalam menjaga warisan budaya Jawa dan mengenalkan kembali tanaman tradisional kepada generasi muda. - Potensi pengembangan herbal dan pangan fungsional:
Kandungan senyawa alami dalam buah kepel membuka peluang penelitian dan pengembangan lebih lanjut sebagai bahan pangan fungsional dan produk herbal.
Informasi lain
