Kalpataru (Buah Roda, Sandbox Tree, Jabillo, Assacu)
Hura crepitans L.
Fam.Euphorbiaceae
Nama Ilmiah yang Diakui
Nama Ilmiah yang Diakui
Hura crepitans L., 1753
Diterbitkan dalam Species Plantarum 2: 1008 (1753) oleh Carl Linnaeus (Linnaeus, 1753; Royal Botanic Gardens, Kew, 2025).
Nama genus Hura diadopsi dari sebutan pohon ini dalam bahasa penduduk asli Amerika tropis. Nama spesies crepitans berasal dari bahasa Latin crepitare yang berarti “berderak, berbunyi meletup”, merujuk pada bunyi ledakan buah saat pecah dan bunyi biji yang bergemeretak di dalam buah (National Parks Board, n.d.).
Genus Hura hanya memiliki dua spesies: H. crepitans L. dan H. polyandra Baill. (Esser, 2007).
Sinonim heterotipik :
Hura brasiliensis Willd.
Hura strepens Willd.
Hura senegalensis Baill.
Hura crepitans var. senegalensis (Baill.) Boiss.
Hura crepitans var. membranacea Müll.Arg.
Hura crepitans var. oblongifolia Müll.Arg.
Hura crepitans var. orbicularis Müll.Arg.
Hura crepitans var. ovata Müll.Arg.
Hura crepitans var. strepens Müll.Arg.
(Royal Botanic Gardens, Kew, 2025)
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Rosidae
Ordo : Malpighiales
(Cronquist: Euphorbiales)
Famili : Euphorbiaceae
Subfamili : Euphorbioideae
Tribus : Hureae
Genus : Hura
Spesies : Hura crepitans L.
Penempatan ordo mengikuti sistem APG IV (APG, 2016); subkelas mengikuti sistem Cronquist sebagaimana format papan nama UAD.
Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)
Hura crepitans L., yang di Indonesia populer dengan nama kalpataru atau buah roda, adalah pohon besar tropis dari famili Euphorbiaceae (suku jarak-jarakan), ordo Malpighiales (APG, 2016). Genus Hura hanya beranggotakan dua spesies, yaitu H. crepitans dan H. polyandra Baill. Spesies ini berasal dari Amerika tropis dan kini dibudidayakan di seluruh kawasan tropis sebagai pohon hias dan peneduh (Esser, 2007; Royal Botanic Gardens, Kew, 2025). Pohon ini terkenal di dunia botani karena dua hal: batangnya dipenuhi duri kerucut dan buahnya meledak saat masak sambil melontarkan biji dengan kecepatan sangat tinggi.
Batang dan Percabangan:
Di habitat aslinya, kalpataru dapat mencapai tinggi 40–60 m dengan lingkar batang yang sangat besar; pada pohon budidaya di Asia Tenggara tingginya umumnya sekitar 15 m dengan tajuk melebar (Esser, 2007; National Parks Board, n.d.). Kulit batang berwarna abu-abu hingga cokelat muda dan ditumbuhi duri-duri kerucut berwarna gelap yang keras dan tajam, panjangnya dapat melebihi 2,5 cm; pada pohon tua pangkal duri dapat saling bersinggungan (Allard, 1950). Seluruh bagian pohon mengandung getah (lateks) putih yang bersifat kaustik bila batang atau daun terluka. Kayunya ringan, mudah dikerjakan, dan mudah menyerap pewarna maupun lem, namun keawetannya rendah (Esser, 2007).
Daun:
Daun tunggal, tersusun berselang-seling (alternate), dengan tangkai daun (petiolus) yang sangat panjang, 6–22 cm, hampir sepanjang helaiannya. Di ujung tangkai terdapat sepasang kelenjar kecil (glandula) yang menjadi ciri diagnostik. Helaian daun bulat telur hingga jorong (ovate–elliptic), 7–21 × 6–13 cm (dapat lebih besar pada pohon muda), tipis seperti kertas (papery), pangkal berlekuk jantung (cordate), ujung meruncing (acuminate), dan tepi bergerigi halus (serrate). Pertulangan daun menyirip (pinnate) dengan 11–16 pasang tulang daun sekunder yang melengkung sejajar. Daun penumpu (stipula) bulat telur dan cepat gugur (Esser, 2007).
Bunga:
Kalpataru berumah satu (monoecious): bunga jantan dan betina terpisah tetapi berada pada satu pohon, dan keduanya tidak bermahkota (apetalous). Bunga jantan tersusun rapat dalam bulir berbentuk kerucut (spike) sepanjang 1,6–4,5 cm di ujung tangkai panjang, mula-mula hijau lalu berubah merah tua; setiap bunga jantan memiliki 10–20 benang sari dengan tangkai sari yang menyatu membentuk kolom. Bunga betina soliter di ketiak daun, dengan tangkai putik (stylus) panjang 19–35 mm yang berujung kepala putik berbentuk cakram (stigmatic disc) berdiameter 14–26 mm, merah, dan bercuping — satu cuping untuk setiap daun buah (Esser, 2007; National Parks Board, n.d.).
Buah:
Buahnya adalah ciri paling ikonik: kapsul berkayu berbentuk seperti labu kecil atau roda bergerigi (sumber nama “buah roda”), berukuran 3–5 cm tinggi dan 5–8 cm diameter, beralur dalam dengan umumnya 14–16 ruang (locule/coccus) yang tersusun melingkar (genus ini dapat memiliki 5–20 ruang). Buah muda hijau, menjadi cokelat kemerahan saat masak, dengan dinding buah (pericarpium) berkayu setebal ±3 mm (Esser, 2007). Ketika kering, tegangan pada dinding buah dilepaskan secara tiba-tiba sehingga buah meledak dengan bunyi keras (explosive dehiscence). Biji terlontar dengan kecepatan sekitar 70 m/detik (±250 km/jam) hingga sejauh 45 m, dengan jarak paling umum sekitar 30 m (Swaine & Beer, 1977). Rekaman video berkecepatan tinggi menunjukkan biji terbang dengan putaran ke belakang (backspin) yang menstabilkan orientasi dan mengurangi hambatan udara (Ribera et al., 2020). Mekanisme ini disebut autokori balistik (ballistic autochory).
Biji:
Biji pipih melingkar berdiameter ±2 cm, cokelat, licin, kering, dan tidak berselubung (exarillate) (Esser, 2007). Biji mengandung minyak dan senyawa yang beracun bila tertelan (Chimera, 2020).
Akar:
Sebagai pohon besar hutan hujan dataran rendah, kalpataru membentuk sistem perakaran yang kuat dan menyebar. Di habitat aslinya ia tumbuh di hutan hujan pesisir dataran rendah pada ketinggian 0–500 m dpl dan dapat menjadi jenis yang umum secara lokal (Esser, 2007). Karena ukuran dewasanya yang besar, penanaman di kampus sebaiknya memberi ruang tumbuh yang cukup dari bangunan, saluran, dan jalur pejalan kaki.
Informasi Etnobotani :
Di Amerika tropis, getah kalpataru dimanfaatkan masyarakat adat sebagai racun ikan (piscicide) dan oleh suku Karib sebagai racun anak panah. Buah muda yang dibelah dan dikeringkan pada masa lalu dijadikan wadah pasir penyerap tinta (pounce pot) — asal-usul nama Inggris “sandbox tree”. Kayunya yang ringan dipakai untuk membuat sampan dan perabot dengan nama dagang “hura” (Esser, 2007; Swaine & Beer, 1977). Menariknya, di Thailand pohon ini ditanam di halaman kuil dan diberi nama lokal pho farang atau pho thale — “pho” adalah sebutan untuk pohon bodhi (Ficus religiosa) yang sakral (Esser, 2007). Pola ini sejajar dengan penamaan “kalpataru” di Indonesia: masyarakat di dua negara sama-sama mengaitkan pohon introduksi yang unik ini dengan pohon sakral dalam tradisi Hindu-Buddha setempat.
Sejarah
Hura crepitans tersebar alami di Amerika tropis, meliputi Kosta Rika, Nikaragua, Honduras, Panama, Kolombia, Venezuela, Guyana, Suriname, Guyana Prancis, Ekuador, Peru, Bolivia, Brasil bagian utara (Amazon), serta kepulauan Karibia seperti Kuba, Jamaika, Haiti, Republik Dominika, Puerto Riko, Trinidad dan Tobago, dan Bahama. Spesies ini tercatat sebagai jenis introduksi di Florida, beberapa negara Afrika Barat dan Tengah, serta Sumatra (Royal Botanic Gardens, Kew, 2025).
Kalpataru dalam Khazanah Budaya Jawa:
Istilah kalpataru berasal dari bahasa Sanskerta kalpavṛkṣa: kalpa (keinginan, pengharapan) dan taru (pohon), yaitu “pohon pengharapan” atau pohon kehidupan di kahyangan Dewa Indra dalam kosmologi Hindu-Buddha. Motif kalpataru dipahatkan pada relief candi-candi Jawa abad ke-9 hingga ke-16 M, antara lain Prambanan, Pawon, Mendut, Borobudur, hingga Candi Cetho. Pada relief Prambanan dan Pawon, kalpataru digambarkan tumbuh dari jambangan, berbuah permata, berhias untaian emas dan mutiara, serta diapit makhluk kahyangan kinnara–kinnari dan satwa seperti burung merak, kera, dan singa (Lailia et al., 2022).
Catatan Kritis Penamaan:
Kalpataru pada relief candi adalah pohon mitologis yang distilisasi, bukan potret spesies tertentu. Karena H. crepitans berasal dari benua Amerika (Royal Botanic Gardens, Kew, 2025), pohon ini tidak mungkin dikenal pemahat candi Jawa abad ke-9; penyebarannya ke Asia baru terjadi setelah era penjelajahan samudra. Dengan demikian, sebutan “kalpataru” untuk H. crepitans merupakan penamaan populer (folk name) modern yang lahir dari kemiripan visual bentuk buah dan citra pohonnya dengan motif relief. Di beberapa tempat, nama “kalpataru” juga dipakai untuk spesies lain seperti Ficus religiosa L. (Moraceae), sehingga papan nama pohon wajib mencantumkan nama ilmiah untuk menghindari kerancuan.
Kalpataru sebagai Simbol Lingkungan Hidup Nasional:
Makna kalpataru sebagai lambang kelestarian kehidupan diangkat negara menjadi nama Penghargaan Kalpataru, penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup yang diberikan sejak 1980 kepada perintis, penyelamat, pengabdi, dan pembina lingkungan. Saat ini penghargaan diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 2025 dengan klasifikasi Kalpataru Adya, Kalpataru Yuvan (generasi muda), dan Kalpataru Lestari (Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, 2026). Motif kalpataru juga menjadi inspirasi lambang kementerian yang membidangi lingkungan hidup.
Kalpataru di Yogyakarta dan Kampus UAD:
Yogyakarta dan sekitarnya merupakan kawasan tempat relief kalpataru dapat diamati langsung, terutama di Candi Prambanan (Lailia et al., 2022). Kehadiran pohon kalpataru di kampus UAD karenanya menghubungkan tiga dimensi sekaligus: keilmuan botani (spesies Neotropis dengan mekanisme pemencaran biji yang ekstrem), warisan budaya Jawa yang terekam di candi, dan gerakan lingkungan hidup nasional yang menggunakan kalpataru sebagai simbolnya.
Manfaat
Kalpataru merupakan pohon dengan nilai manfaat ganda: ekologis, ekonomi, ilmiah, dan edukatif — namun sekaligus tumbuhan beracun yang menuntut pengelolaan bijak. Kedua sisi ini justru menjadikannya objek pembelajaran yang kaya.
Manfaat Utama:
Pohon Peneduh dan Hutan Kota: Tajuknya yang lebar menjadikan kalpataru ditanam sebagai pohon peneduh di tepi jalan, taman, dan halaman di berbagai negara tropis (Esser, 2007; National Parks Board, n.d.). Penelitian di IPB merekomendasikan kalpataru sebagai jenis tanaman hutan kota berkhasiat obat (Agustiani et al., 2015).
Kayu: Kayunya ringan, mudah dikerjakan, serta mudah menerima pewarna dan perekat, sehingga dipakai untuk perabot, kayu lapis, dan sampan; kekurangannya, keawetan alaminya rendah (Esser, 2007).
Sumber Bahan Bioaktif: Uji fitokimia menunjukkan daun, tangkai daun, kulit batang, dan batang kalpataru mengandung flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan triterpenoid. Kadar flavonoid tertinggi terdapat pada daun (15,36%) dan kadar tanin tertinggi pada tangkai daun (1,49%); flavonoid berperan sebagai antioksidan penangkal radikal bebas (Agustiani et al., 2015). Getahnya juga mengandung huratoxin, diterpen golongan daphnane yang bersifat sangat toksik dan iritan.
Manfaat Etnobotani:
Racun ikan dan racun panah: dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat adat Amerika tropis (Esser, 2007).
Pengobatan tradisional: dalam etnomedisin, getah kering, kulit batang, dan daun yang dicampur minyak pernah digunakan untuk penyakit kulit dan rematik, sedangkan biji sangrai dipakai sebagai pencahar keras (Esser, 2007). Penggunaan mandiri tidak dianjurkan karena seluruh bagian pohon beracun.
Perspektif Islam dan Kemuhammadiyahan:
Dalam pandangan Islam, manusia adalah khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 30) yang memikul amanah menjaga kelestarian alam (QS. Al-Aḥzāb [33]: 72). Muhammadiyah merumuskan prinsip ini dalam Teologi Lingkungan yang menolak paradigma “menaklukkan” alam dan menegaskan bahwa hak kepemilikan mutlak atas alam tetap milik Allah (Kementerian Lingkungan Hidup & Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, 2011). Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tanaman yang ditanam seorang muslim lalu dimanfaatkan manusia, burung, atau hewan bernilai sedekah baginya (HR. al-Bukhari no. 2320; Muslim no. 1553).
Al-Qur’an juga memiliki perumpamaan pohon yang sejajar dengan gagasan “pohon kehidupan”, yakni syajarah ṭayyibah: “…seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya…” (QS. Ibrāhīm [14]: 24–25; Kementerian Agama RI, 2019). Sejalan dengan semangat tajdid dan Islam Berkemajuan, kalpataru diapresiasi sebagai warisan budaya dan objek ilmu, bukan objek kepercayaan; makna “pengharapan”-nya diarahkan pada ikhtiar menjaga bumi. Bahkan pohon beracun pun mengandung hikmah dan manfaat bagi yang mengkajinya — “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 191).
Informasi Lain
Status Konservasi: Tidak terancam. Spesies ini tersebar luas dan umum di wilayah asalnya (Chimera, 2020). Sebaliknya, di beberapa wilayah introduksi kalpataru justru menjadi jenis invasif: di hutan Usambara Timur, Tanzania, ia membentuk tegakan rapat yang dapat mendesak jenis asli, dan di dekat Darwin, Australia, ia telah menyebar dari plot penanaman ke hutan sekitarnya. Penilaian risiko gulma Hawaii-Pasifik memberinya skor 8 (risiko tinggi) (Chimera, 2020; Witt & Luke, 2017). Karena itu, anakan liar di sekitar pohon kampus perlu dipantau dan dikendalikan.
⚠ Peringatan Keselamatan: Getah kalpataru bersifat kaustik — dapat menyebabkan radang kulit dan iritasi mata yang berat, bahkan kebutaan sementara. Biji yang tertelan dapat menimbulkan kram, muntah, dan kejang, serta dapat berakibat fatal pada dosis besar (Chimera, 2020). Duri batang tajam dan buah dapat meledak serta melontarkan biji berkecepatan tinggi. Rekomendasi kampus: pasang papan peringatan, jangan menanamnya di dekat area bermain anak, gunakan sarung tangan dan pelindung mata saat pemangkasan, dan kumpulkan buah sebelum masak penuh bila akan dipakai untuk praktikum.
Nama Daerah: Kalpataru, Buah roda (Indonesia/Jawa), Sandbox tree, Monkey’s dinner bell, Dynamite tree (Inggris), Jabillo (Spanyol/Amerika Latin), Assacu (Portugis/Brasil), Pho farang, Pho thale (Thailand) (Esser, 2007; National Parks Board, n.d.).
Ciri Kunci Identifikasi Lapangan: (1) batang berduri kerucut gelap, (2) getah putih, (3) tangkai daun panjang dengan sepasang kelenjar di ujungnya, (4) bunga jantan berupa bulir kerucut merah tua, dan (5) buah berbentuk roda/labu kecil bercuping 14–16. Kombinasi ciri ini membedakannya dengan tegas dari Ficus religiosa yang juga kadang disebut kalpataru.
Buah sebagai Objek Edukasi: Kalpataru adalah salah satu contoh terbaik pemencaran biji balistik di dunia tumbuhan. Kecepatan lontar ±70 m/detik dan jangkauan hingga 45 m (Swaine & Beer, 1977) dapat dijadikan bahan kajian gerak proyektil dan aerodinamika biji berputar (Ribera et al., 2020).
Nilai Edukasi di Kampus UAD: Kalpataru relevan sebagai objek pembelajaran lintas disiplin: Biologi (morfologi bunga berumah satu, buah kapsul, dan autokori balistik), Fisika (balistika dan aerodinamika biji), Farmasi (fitokimia, farmakognosi, dan toksikologi lateks), Kesehatan Masyarakat (K3 dan pengelolaan tanaman beracun di ruang publik), Ekologi dan Lingkungan (risiko spesies invasif), Sejarah dan Seni Budaya (motif kalpataru pada relief candi), serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (teologi lingkungan, khalifah, dan amanah menjaga bumi). Pohon ini adalah perwujudan nyata konsep pustaka hijau: perpustakaan hidup tempat sains, budaya, dan nilai keislaman bertemu.
Daftar Referensi :
Agustiani, W., Dahlan, E. N., & Batubara, I. (2015). Kandungan fitokimia kalpataru (Hura crepitans Linn.) sebagai rekomendasi jenis tanaman hutan kota berkhasiat obat [Skripsi, Institut Pertanian Bogor]. Repository IPB. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78101
Allard, H. A. (1950). The sandbox tree and its armament. Bulletin of the Torrey Botanical Club, 77(6), 509–515. https://doi.org/10.2307/2482185
Angiosperm Phylogeny Group [APG]. (2016). An update of the Angiosperm Phylogeny Group classification for the orders and families of flowering plants: APG IV. Botanical Journal of the Linnean Society, 181(1), 1–20. https://doi.org/10.1111/boj.12385
Chimera, C. (2020). Hura crepitans L. – Hawaii-Pacific weed risk assessment. Plant Pono. https://plantpono.org/wp-content/uploads/Hura-crepitans.pdf
Esser, H.-J. (2007). Hura. Dalam P. C. van Welzen & K. Chayamarit (Ed.), Flora of Thailand: Vol. 8(2). Euphorbiaceae (genera G–Z) (hlm. 338–340). The Forest Herbarium, Department of National Parks, Wildlife and Plant Conservation.
Kementerian Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya (Edisi Penyempurnaan 2019). Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Kementerian Lingkungan Hidup & Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah. (2011). Teologi lingkungan: Etika pengelolaan lingkungan dalam perspektif Islam (Cet. II). Kementerian Lingkungan Hidup RI & Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah.
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. (2026). KLH/BPLH buka usulan calon penerima Penghargaan Kalpataru 2026. https://kemenlh.go.id/news/detail/klhbplh-buka-usulan-calon-penerima-penghargaan-kalpataru-2026
Lailia, V. S. A., Ananda, D. A. R., Putra, G. A., & Prahardana, M. W. (2022). Kosmologi kalpataru: Representasi kehidupan dan pengharapan masyarakat Jawa di abad 9–16 Masehi. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya, 16(2), 265–275. https://doi.org/10.17977/um020v16i22022p265-275
Linnaeus, C. (1753). Species plantarum (Vol. 2). Laurentius Salvius.
National Parks Board. (n.d.). Hura crepitans L. Flora & Fauna Web. https://www.nparks.gov.sg/florafaunaweb/flora/2/9/2966
Ribera, J., Desai, A., & Whitaker, D. L. (2020). Putting a new spin on the flight of jabillo seeds. Integrative and Comparative Biology, 60(4), 919–924. https://doi.org/10.1093/icb/icaa117
Royal Botanic Gardens, Kew. (2025). Plants of the World Online: Hura crepitans L. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:350060-1
Swaine, M. D., & Beer, T. (1977). Explosive seed dispersal in Hura crepitans L. (Euphorbiaceae). New Phytologist, 78(3), 695–708. https://doi.org/10.1111/j.1469-8137.1977.tb02174.x
Witt, A., & Luke, Q. (2017). Guide to the naturalized and invasive plants of Eastern Africa. CABI.



