BUNGUR

(Banaba, Queen’s Crepe-Myrtle, Pride of India, Ketangi

Lagerstroemia speciosa (L.) Pers.

Fam. Lythraceae

Nama Ilmiah yang Diakui

Nama Ilmiah yang Diakui

Lagerstroemia speciosa (L.) Pers., 1806

Genus Lagerstroemia pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus (1759), dinamai untuk menghormati Magnus von Lagerström, seorang pedagang Swedia dan sahabat Linnaeus yang banyak memasok spesimen tanaman tropis dari Asia. Epitet speciosa berasal dari bahasa Latin yang berarti “indah” atau “menawan”, merujuk pada keindahan bunganya yang luar biasa.

Sinonim taksonomi utama:

Munchausia speciosa L., 1759
Lagerstroemia flos-reginae Retz., 1791
Lagerstroemia reginae Roxb., 1820
Adambea hirsuta Lam.
Murtughas speciosa (L.) Kuntze

Klasifikasi:

Kingdom    : Plantae
Divisi          : Spermatophyta
Sub Divisi  : Angiospermae
Kelas           : Dicotyledoneae
Sub Kelas   : Rosidae
Ordo           : Myrtales
Famili         : Lythraceae
Genus         : Lagerstroemia
Spesies       : Lagerstroemia speciosa (L.) Pers.

(POWO Kew, 2024; Plantamor)

Informasi Umum (Deskripsi Morfologis)

Lagerstroemia speciosa (L.) Pers., yang dikenal luas di Indonesia dengan nama bungur atau ketangi, adalah pohon peneduh berbunga spektakuler dari famili Lythraceae (suku kesemak-kesemakan). Pohon ini tersebar luas di Asia Selatan tropis, Asia Tenggara, hingga Melanesia. Bungur dikenal sebagai salah satu pohon berbunga paling menawan di kawasan tropis mahkota bunganya yang berwarna merah muda hingga ungu cerah dengan kelopak berkerut menjadikannya langganan pohon hias kota, sekaligus penghasil kayu bernilai tinggi dan tanaman herbal dengan potensi farmakologis terdokumentasi luas, khususnya sebagai agen antidiabetik alami.

Batang dan Percabangan:

Pohon bungur tergolong pohon meranggas (deciduous) berukuran sedang hingga besar, dapat tumbuh setinggi 10–40 m dengan diameter batang 60–100 cm (kadang hingga 150 cm pada individu dewasa). Batang umumnya pendek, silindris, kadang beralur pada bagian pangkal, bebas cabang hingga ±18 m. Kulit batang berwarna coklat muda, halus, dan khas mengelupas dalam kepingan besar mengungkap kulit baru yang licin di bawahnya — ciri diagnostik utama spesies ini. Banir (akar papan) ada namun tidak menonjol, berukuran kecil dan membulat. Kayu bungur berwarna merah kecoklatan hingga merah tua, keras dan padat, dengan berat jenis 0,64–0,96 g/cm³, setara kelas kayu I–II di Indonesia.

Daun:

Daun bungur termasuk daun tunggal, tersusun berseling di sepanjang ranting. Bentuk daun jorong hingga eliptis (ovate-elliptic), bertekstur cukup tebal dan agak kaku, bertepi rata, dengan ujung meruncing (acute). Panjang daun 8–30 cm dan lebar 3–13 cm, bertangkai pendek ±1 cm. Permukaan daun mengkilat pada sisi atas, agak berbulu pada sisi bawah terutama pada tulang daun. Daun gugur pada musim kemarau (meranggas), namun segera tumbuh kembali bersamaan atau sesaat setelah berbunga. Daun mengandung senyawa aktif utama: corosolic acid, lagerstroemin, flosin B, reginin A (ellagitannin), flavonoid, saponin, dan polifenol.

Bunga:

Bunga bungur tersusun dalam malai tegak (erect panicle) terminal sepanjang 20–40 cm, muncul di ujung ranting. Setiap bunga memiliki 6 kelopak berwarna putih hingga ungu cerah (kadang merah muda atau lilac), dengan tepi kelopak berkerut menyerupai krep (ciri khas marga Lagerstroemia). Diameter bunga 3,5–6 cm; benangsari banyak, kuning, menonjol. Bunga bersifat sempurna (hermafrodit) dengan ovarium multikarpel. Periode pembungaan berlangsung beberapa bulan pada musim panas (April–September), menciptakan pemandangan tajuk ungu-merah muda yang sangat mencolok dan tahan lama — berbeda dengan Angsana yang hanya berbunga singkat.

Buah:

Buah bungur berupa kapsul berkayu bulat telur (woody capsule), memecah (dehiscent) menjadi 5–6 katup saat masak, berdiameter 1,2–2 cm. Permukaan buah berbintil kasar, berwarna coklat tua saat masak. Setiap buah mengandung biji bersayap tipis (winged seed) berjumlah banyak (rata-rata 6–12 biji per kapsul), memungkinkan penyebaran melalui angin (anemokori). Buah kering persisten di pohon cukup lama setelah masak, memberikan nilai ornamental tambahan.

Akar:

Bungur berakar tunggang dalam dengan banyak akar serabut lateral yang kuat. Banir ada namun kecil dan tidak menonjol seperti pada Angsana. Akar bungur tidak memiliki simbiosis rhizobium pengikat nitrogen (berbeda dengan Fabaceae), namun sistem perakaran yang dalam menjadikannya toleran terhadap kondisi kekeringan sedang dan stabil sebagai pohon tepi jalan.

Informasi Etnobotani:

Bungur memiliki kekayaan etnobotani yang mendalam di seluruh Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Filipina, daun bungur (disebut banaba) digunakan secara tradisional untuk mengobati diabetes dan penyakit ginjal sejak berabad-abad lalu. Di Malaysia, kulit batang dimanfaatkan sebagai obat disentri dan diare. Di Bangladesh dan India, buah kering digunakan untuk mengobati sariawan dan luka mulut, sementara akarnya dianggap bersifat astringen dan bijinya bersifat narkotik dalam dosis tertentu. Di Indonesia, daun bungur digunakan sebagai ramuan penurun kadar gula darah dan diuretik alami. Nama-nama lokal mencerminkan distribusi budaya yang luas: Bungur (Jawa/Melayu umum), Ketangi (Jawa), Bungur Tekuyung (Palembang/Sumatera), Bungor Raya (Malaysia Semenanjung), Tibabah (Dusun Banggi, Sabah), Banaba (Filipina), Jarul (Bangladesh/India), Inthanin Nam (Thailand).

Sejarah

Lagerstroemia speciosa memiliki distribusi alami yang mencakup Asia Selatan tropis hingga Asia Tenggara dan Melanesia, meliputi Bangladesh, India, Sri Lanka, Myanmar, Tiongkok (Yunnan, Guangdong), Indocina, Thailand, Semenanjung Malaysia, Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi), Filipina, hingga Papua Nugini. Pohon ini tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian medium, terutama di hutan sekunder, tepi sungai, dan daerah dengan curah hujan tinggi.

Penamaan Ilmiah oleh Linnaeus dan Persoon:

Spesies ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah oleh Carl Linnaeus pada tahun 1759 dalam Systema Naturae dengan nama awal Munchausia speciosa. Nama ilmiah yang berlaku saat ini, Lagerstroemia speciosa, kemudian divalidasi oleh Christiaan Hendrik Persoon, ahli botani Belanda, pada tahun 1806 dalam Synopsis Plantarum. Genus ini Linnaeus beri nama untuk menghormati sahabatnya, pedagang Swedia Magnus von Lagerström (1691–1759), yang banyak mengirimkan spesimen tanaman Asia kepada Linnaeus.

Bungur dalam Sejarah Farmakologi dan Perdagangan Herbal:

Catatan farmakologi tertua tentang khasiat antidiabetik bungur dipublikasikan pada tahun 1940 oleh peneliti Filipina F. Garcia, yang mendokumentasikan efek hipoglikemik rebusan daun banaba. Sejak 1990-an, skrining fitokimia modern mengidentifikasi corosolic acid (asam korsolat) sebagai senyawa aktif utama yang bertanggung jawab atas aktivitas antihiperglikemik. Produk herbal komersial berbasis ekstrak bungur, seperti Banabamin dan Glucosol™, mulai dipasarkan secara internasional, menjadikan bungur salah satu tanaman obat tropis dengan pasar global yang signifikan.

Nilai Kayu dan Perdagangan:

Kayu bungur, dikenal secara internasional sebagai Queen’s Crepe-Myrtle timber, tergolong kayu komersial kelas I–II di Indonesia, dengan kekuatan dan ketahanan yang disebut hanya sedikit di bawah jati (Tectona grandis). Di Myanmar dan Assam (India), bungur dipandang sebagai salah satu pohon kayu terbaik. Kayu ini dimanfaatkan untuk konstruksi berat, furnitur, perahu, dan lantai parket.

Status Konservasi Global:

Berbeda dengan Angsana (Pterocarpus indicus, Vulnerable/IUCN), Lagerstroemia speciosa saat ini belum masuk dalam kategori terancam di IUCN Red List dan memiliki populasi liar yang relatif stabil. Namun demikian, populasi di hutan primer terus tertekan akibat konversi lahan dan eksploitasi kayu, sehingga upaya konservasi ex-situ melalui penanaman di perkotaan dan kampus tetap relevan secara ekologis.

Manfaat

Bungur merupakan pohon multiguna dengan nilai manfaat mencakup aspek farmakologi, kehutanan, hortikultura, dan medis tradisional. Seluruh bagian pohon daun, kulit batang, buah, biji, dan akar telah dimanfaatkan oleh berbagai peradaban di Asia tropis.

Manfaat Utama:

Agen Antidiabetik Alami (Farmakologis Unggulan):

Daun bungur mengandung corosolic acid (asam korsolat, pentacyclic triterpenoid) dan ellagitannin (lagerstroemin, flosin B, reginin A) yang secara klinis terbukti menurunkan kadar gula darah. Studi pada manusia menunjukkan bahwa corosolic acid murni mampu menurunkan kadar glukosa darah dalam 60 menit setelah konsumsi. Mekanisme kerjanya melibatkan peningkatan penyerapan glukosa seluler, inhibisi hidrolisis sukrosa dan pati, penekanan glukoneogenesis, dan regulasi metabolisme lipid melalui faktor PPAR mekanisme multipel yang menjadikannya kandidat agen antidiabetik yang komprehensif.

Pohon Peneduh dan Tanaman Hias Kota:

Tajuk bungur yang rimbun dan bunga berwarna ungu–merah muda yang mekar dalam waktu panjang (berbulan-bulan) menjadikannya pohon hias dan peneduh kota yang ideal. Berbeda dengan Angsana yang berbunga spektakuler namun singkat, bungur menawarkan pemandangan bunga yang persisten sepanjang musim panas, menjadikannya pilihan langganan untuk jalur hijau perkotaan di Indonesia, Singapura, India, dan Filipina.

Kayu Konstruksi dan Furnitur:

Kayu bungur tergolong keras, padat, dan tahan lama (kelas I–II). Di Myanmar dan Assam, kayu ini dianggap salah satu kayu terbaik untuk konstruksi berat, pembuatan perahu, dan furnitur berkualitas. Kayu dengan berat jenis tinggi ini juga dimanfaatkan untuk lantai parket dan produk kerajinan.

Manfaat Etnofarmakologi:

Pengobatan diabetes: Teh dari daun bungur kering telah lama digunakan sebagai “insulin herbal” di Filipina, Thailand, dan Indonesia untuk mengelola kadar gula darah pada penderita diabetes tipe 2 ringan.
Obat diare dan disentri: Kulit batang bungur digunakan dalam pengobatan tradisional Malaysia untuk mengatasi diare dan disentri karena kandungan taninnya yang astringen.
Pengobatan luka mulut dan sariawan: Buah kering bungur digunakan di India untuk mengobati sariawan; getah dan daun juga dimanfaatkan untuk keperluan serupa.
Diuretik dan gangguan ginjal: Rebusan daun banaba digunakan secara tradisional di Filipina untuk melancarkan fungsi ginjal dan kandung kemih.
Antioksidan alami: Ekstrak daun bungur menunjukkan aktivitas antioksidan yang terukur melalui uji DPPH, didukung oleh kandungan flavonoid dan senyawa fenolik yang signifikan.

Potensi Farmakologis Eksplorasi Mutakhir:

Selain aktivitas antidiabetik yang sudah terdokumentasi luas, riset terkini mengidentifikasi aktivitas antiinflamasi, antihiperlipidemia, antifungal, antiviral, analgesik, hepatoprotektif, nefroprotektif, dan bahkan antineoplastik pada senyawa-senyawa turunan bungur. Kajian molekuler menunjukkan corosolic acid berinteraksi dengan jalur PPAR-γ dan PI3K/Akt yang relevan dalam pengelolaan sindrom metabolik secara komprehensif.

Sumber Pakan Lebah:

Bunga bungur yang mekar dalam periode panjang menjadi sumber nektar dan pollen berharga bagi lebah madu, mendukung keberlangsungan industri perlebahan di daerah tropis.

Informasi Lain

Status Konservasi:

Populasi liar Lagerstroemia speciosa saat ini belum dikategorikan terancam dalam IUCN Red List, namun terus mengalami tekanan akibat konversi hutan dan pembalakan liar di beberapa wilayah. Penanaman bungur di ruang publik, kampus, dan taman kota berkontribusi pada konservasi genetik spesies ini di luar habitat alaminya (konservasi ex-situ) sekaligus memperkenalkan potensi farmakologisnya kepada masyarakat luas.

Nama Daerah dan Internasional:

Bungur, Ketangi (Jawa), Bungur Tekuyung (Palembang/Sumatera). Secara internasional: Banaba (Filipina), Jarul / Pride of India / Queen’s Flower (India/Bangladesh/Inggris), Giant Crepe-Myrtle / Queen’s Crepe-Myrtle (Internasional), Bungor Raya (Malaysia), Inthanin Nam / Tabaek Dam (Thailand), Gawkng-uchyamang (Myanmar).

Keunikan Bunga Berkerut (Crinkled Petal):

Mahkota bunga bungur memiliki tepi yang sangat berkerut (crinkled/frilled) ciri diagnostik seluruh marga Lagerstroemia. Bentuk kelopak berkerut ini menjadi salah satu contoh morfologi bunga yang paling menarik untuk materi pembelajaran botani, khususnya mengenai variasi bentuk kelopak (petal) dalam kelompok Myrtales. Keindahan dan panjangnya masa berbunga menjadikan bungur prototipe pohon ornamental tropis yang ideal.

Fenomena Berbunga Berkelanjutan:

Berbeda dengan Angsana yang berbunga massal namun sangat singkat, bungur menampilkan periode pembungaan panjang dan berkelanjutan selama beberapa bulan (umumnya April–September di kawasan tropis). Hal ini menjadikan bungur sangat berharga sebagai pohon hias kota yang memberi nilai estetika konsisten sepanjang musim. Intensitas warna bunga bervariasi dari putih, merah muda, hingga ungu tua variasi yang juga menjadi objek studi pemuliaan tanaman hias.

Nilai Edukasi Lintas Disiplin:

Bungur relevan sebagai objek pembelajaran lintas disiplin  Botani (morfologi bunga berkerut, buah kapsul bersayap, taksonomi Lythraceae), Farmakognosi (corosolic acid, ellagitannin, mekanisme antidiabetik), Ekologi (pohon peneduh kota, sumber nektar lebah), serta Sejarah Farmakologi (tradisi pengobatan banaba Filipina, pengembangan produk herbal modern). Pohon bungur di lingkungan kampus menghubungkan pembelajaran botani dengan isu strategis ketahanan pangan dan pengobatan diabetes yang relevan secara global.

Daftar Referensi:

Alonzo, D.S. (1998). Lagerstroemia speciosa (L.) Pers. In: Plant Resources of South East Asia (PROSEA). Bogor.
Rahmah, S.M., Dharmono, & Putra, A.P. (2021). Kajian etnobotani tumbuhan bungur (Lagerstroemia speciosa) di kawasan Hutan Bukit Tamiang Kabupaten Tanah Laut. Biodik: Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, 7(1).
Sharmin, T., Rahman, M.S., & Mohammadi, H. (2018). Investigation of biological activities of the flowers of Lagerstroemia speciosa. BMC Complementary and Alternative Medicine, 18:236.
Stohs, S.J., Miller, H., & Kaats, G.R. (2012). A review of the efficacy and safety of Banaba (Lagerstroemia speciosa L.) and corosolic acid. Phytotherapy Research, 26(3): 317–324.
Haque, M.S., Ahmad, R., et al. (2025). Integrating bioactivity and molecular simulations to explore the pharmacological landscape of Lagerstroemia speciosa leaf extract. PLOS ONE, 20(12): e0339566.
Plants of the World Online (POWO). (2024). Lagerstroemia speciosa (L.) Pers. Royal Botanic Gardens, Kew.
Plantamor. Lagerstroemia speciosa. plantamor.com/species/profile/lagerstroemia/speciosa
ITTO Tropical Timber Database. Bungur (Lagerstroemia speciosa). tropicaltimber.info

BIRO SARANA DAN PRASARANA

Biro Sarana dan Prasarana

Gedung Kampus 1 Unit B Lantai 1
Jalan. Kapas No.14, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166

Ext. (1715)

Whatsapp (0815-7552-0513)

E-mail (sarpras@uad.ac.id)

Instagram  (bsp_uad)

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960